My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 71.



Sera sedang menonton film bersama Yuni di ruang keluarga, suasana kembali seperti saat Sera pertama kali datang ke rumah ini, sunyi dan sepi.


"Om Damar ke mana, Eonni? Dari tadi tidak kelihatan," tanya Sera, dia tidak tahu kalau Damar pergi.


"Oppa pergi."


"Ke mana?"


"Paling juga cari pelampiasan," jawab Yuni asal.


Sera tertegun, dia seketika membayangi Damar sedang bermesraan dengan wanita lain, entah mengapa hatinya merasa kesal dan jijik. Padahal dulu dia tidak peduli sama sekali.


"Maklumlah, namanya juga duda, mana tahan kalau tidak dibelai. Apalagi dudanya masih muda seperti Oppa, pastilah mencari tempat menyalurkan hasrat," lanjut Yuni, dia berbicara dengan santai sambil fokus menonton.


Sera semakin merasa kesal, dia yakin pasti saat ini Damar pasti sedang melakukan hubungan seksual dengan wanita lain.


"Dasar mesum!" batin Sera.


Namun rupanya yang mereka bicarakan pulang, dengan lesu Damar melangkah memasuki rumah.


Yuni yang pertama kali melihat kedatangan Damar sontak heboh.


"Itu Oppa sudah pulang!" Yuni menunjuk Damar yang berhenti di di belakang mereka.


Sera yang masih kesal tak mau menoleh ke arah suaminya itu.


"Kalian sedang apa?" Damar bertanya sembari mendekati dua wanita itu.


"Kami lagi nonton film, Oppa," sahut Yuni.


Damar melirik Sera yang pura-pura fokus menonton, gadis itu sama sekali tak mau memandangnya.


"Kamu kenapa belum tidur?" Damar bertanya dengan lembut.


"Belum ngantuk!" jawab Sera ketus tanpa memandang Damar, namun dia bisa mencium aroma parfum lain dari tubuh Damar, seperti parfum yang dipakai oleh Sarah.


Yuni yang melihat sikap tak acuh Sera, semakin yakin jika ada masalah antara pasangan suami istri itu.


Tapi suara seseorang yang tidak asing tiba-tiba menyerbu gendang telinga Sera dan Damar.


"Selamat malam semuanya."


Semua orang langsung berbalik dan menoleh ke belakang.


“Dafi?" Damar terkesiap melihat sang putra sudah berdiri diambang pintu sambil menenteng tas.


"Mau apa lagi dia?" Sera bertanya-tanya dalam hati, dia merasa cemas.


"Aku ingin tinggal di sini, bolehkan?" tanya Dafi tanpa basa-basi.


Semua orang tercengang mendengar keputusan Dafi, Sera bahkan sampai berdiri dengan wajah tegang, dia tahu Dafi pasti merencanakan sesuatu.


"Tentu saja boleh, ini kan juga rumah kamu. Tapi kenapa tiba-tiba kamu ingin tinggal di sini?" Damar bertanya dengan sedikit bingung.


"Kost-kostan aku sudah tidak nyaman, tetangganya menyebalkan. Tapi Papa tenang saja, aku tidak akan lama kok di sini, setelah mendapatkan kost-kostan baru, aku akan segera pindah," sahut Dafi sambil melirik Sera.


"Daf, kalau kamu mau, kamu bisa tinggal selamanya di sini, Papa tidak keberatan, kok," ujar Damar.


"Kalau begitu, sekarang kamu istirahat, biar Yuni antar ke kamar."


Dafi mengangguk, "Iya, Pa."


"Yun, antar Dafi ke kamar yang biasa Mama gunakan!" pinta Damar.


"Nde, Oppa."


Dafi pun mengikuti langkah Yuni, namun saat melewati Sera, dia menyeringai, membuat gadis itu semakin yakin jika sang mantan pasti punya niat tertentu.


Setelah Dafi dan Yuni pergi, Damar beralih memandang Sera yang masih terlihat tegang sekaligus kesal.


"Karena sekarang ada Dafi di rumah ini, mau tak mau kita harus tidur sekamar lagi. Kita akan bersandiwara sebagai suami istri yang harmonis di depannya, agar dia tidak curiga," terang Damar.


Sera terdiam kesal, dia benar-benar tak bisa menghindari semua ini.


"Sera, kamu dengarkan?" tegur Damar karena melihat gadis itu bergeming.


"Iya, aku dengar. Tapi awas kalau Om macam-macam, aku bakal bunuh Om, terus aku cincang sampai halus dan aku buang ke selokan," ancam Sera dengan mata melotot.


Damar berusaha menahan tawa sebab geli mendengar ancaman Sera, "Iya, Om janji tidak akan macam-macam, Om takut kamu bunuh."


"Baguslah kalau begitu!" Sera melenggang pergi.


Damar pun tertawa sambil geleng-geleng kepala lalu bergegas mengekor istrinya itu.


Sementara itu di dalam kamar, Dafi sedang memindai seluruh sudut ruangan yang terlihat sepuluh kali lebih besar dan mewah dari kamar kostnya itu. Ini untuk pertama kalinya dia akan tinggal di rumah sang ayah, bukan tanpa alasan dia melakukannya, semua ini karena Sera. Dia rela menahan perasaan bencinya pada Damar dan meruntuhkan ego hanya demi menjalankan rencananya.


"Aku bersumpah akan merebut kembali hatimu dan memisahkan kamu dari Papa," ucap Dafi sambil menyeringai.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi, tapi mata Damar belum juga mau terpejam, dia masih memikirkan keanehan yang terjadi pada dirinya. Dia bingung kenapa di saat ingin bercinta dengan dengan wanita bayaran tadi, bayangan Sera tiba-tiba hadir dan membuat dia mendadak hilang selera.


"Sebenarnya apa terjadi? Kenapa aku jadi begini?" gumam Damar sambil menatap langit-langit kamarnya.


Belakangan ini dia sering sekali merasakan perasaan aneh, hatinya selalu bergetar setiap berada di dekat Sera. Mungkinkah dia mulai jatuh cinta pada gadis itu? Atau hanya terbawa suasana karena ikatan pernikahan ini?


Damar bangkit dan duduk di atas bed cover yang dia bentang di samping ranjang, lalu memandangi wajah Sera yang sedang tertidur pulas, matanya lagi-lagi tertuju pada bibir merah muda yang sedikit terbuka itu.


Seketika dia teringat adegan ciuman mereka, walaupun sekejap tapi dia masih merasakan kehangatan dan kelembutan bibir Sera.


Tanpa sadar Damar mengangkat tangannya dan mengusap lembut bibir Sera, membuat gadis itu menggeliat. Damar buru-buru menarik tangannya dan menjauh, dia takut Sera terbangun dan salah paham, namun rupanya gadis itu tertidur lagi.


Damar menghela napas lega. Tak ingin mengganggu Sera, dia pun beranjak dan keluar ke balkon untuk mencari udara segar. Damar duduk sambil memandangi bintang-bintang yang bertabur indah di langit, angin berhembus pelan dan sejuk.


Dia kembali teringat pada Sera dan perasaan aneh yang beberapa kali datang, hingga membuatnya galau.


"Apa jangan-jangan aku sudah jatuh cinta padanya? Tapi itu tidak mungkin, dia sudah aku anggap seperti anak sendiri." Damar menebak namun dengan cepat membantah sendiri tebakannya.


"Aku pasti hanya terbawa suasana saja gara-gara pernikahan ini, aku tidak mungkin jatuh cinta pada Sera. Tidak mungkin!"


Dia mencoba mati-matian membantah perasaan tidak masuk akal yang kini dia rasakan pada gadis yang sudah menjadi istrinya itu, dia tak ingin terjebak dalam rasa yang semu dan hubungan yang tidak semestinya.


***