My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 10.



Dafi sedang berjalan keluar dari kelasnya sambil membuka grup chat SMA, dia baru saja selesai mengikuti mata kuliah. Pria berumur dua pulau tahun itu terkejut ketika mendapatkan kabar meninggalnya ibunda Sera.


"Ya Tuhan, ibu Sera meninggal," gumam Dafi tak percaya, seketika dia merasa cemas pada mantan kekasihnya itu, "Sera pasti sedih banget, aku harus ke sana."


Dafi bergegas ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya, lalu tancap gas meninggalkan kampus. Dari kejauhan Luna yang melihat kekasihnya itu merasa heran, sebab Dafi pergi begitu saja tanpa menunggu dia pulang seperti biasa.


"Dia mau ke mana, sih? Kenapa tidak menungguku?" Luna pun segera menghubungi Dafi, tapi kekasihnya itu tidak menjawab.


Luna kesal dan merasa curiga, "Apa jangan-jangan dia mau menemui mantannya itu? Awas saja kalau itu benar."


Di jalanan, Dafi memacu sepeda motornya dengan kecepatan tinggi, dia benar-benar mengkhawatirkan Sera. Bagaimana pun juga Sera pernah menemaninya selama tiga tahun dan rasa sayang itu masih ada, dia sudah kenal baik dengan Mila, dia ikut merasa sedih dan kehilangan.


Dua puluh menit kemudian, Dafi tiba di rumah duka, tapi suasana tidak seramai sebelumnya. Dafi pun memutuskan untuk bertanya pada seorang wanita yang duduk di depan rumah Sera.


"Permisi, Mbak. Jenazahnya dibawa ke mana?"


"Sudah di bawa ke pemakaman, Mas."


"Kalau Sera?" tanya Dafi lagi.


"Tadi ikut ke pemakaman."


"Pemakaman mana?"


"TPU Pondok, Mas."


"Baiklah, kalau begitu terima kasih, ya." Dafi segera menyusul ke taman pemakaman yang dimaksud wanita itu.


Sementara itu, jenazah Mila sudah dimasukkan ke liang lahat, tangis Sera dan kerabat kembali pecah.


"Ibu, jangan tinggalkan aku!" ucap Sera lirih, dia sudah terlihat lemas dan pucat.


"Sera, kamu yang sabar, ya. Ikhlas." Yuni mengusap pundak Sera sambil berlinang air mata.


Damar yang berdiri di belakang Sera hanya bisa menahan sedih melihat gadis itu menangis dengan begitu pilu.


"Ibu aku ingin ikut, Ibu ...." Sera pun pingsan, Damar dan semua orang seketika panik.


"Ya Tuhan, Sera!" seru Yuni dan beberapa kerabat Sera.


Damar yang tak kalah panik menepuk-nepuk pipi gadis itu, "Sera! Bangun, Sera!"


Tapi tak ada reaksi apa pun, karena saking sedihnya, Sera yang belum pulih betul pasca gegar otak mengalami penurunan kesadaran. Tak ingin membuang-buang waktu, Damar langsung mengangkat tubuh lemah Sera, dan membawanya ke mobil. Yuni pun segera membuntuti majikannya itu sembari mengangkat kursi roda Sera.


"Yun, kamu masuk duluan!" pinta Damar.


Yuni bergegas masuk ke dalam mobil, lalu Damar memasukkan tubuh Sera dan Yuni memangku kepala gadis itu. Damar juga menyimpan kursi roda Sera di dalam bagasi, kemudian buru-buru masuk dan melaju pergi meninggalkan pemakaman.


Berselang beberapa menit, Dafi pun tiba di pemakaman, dia turun dari motornya dan berlari menghampiri kerumunan orang yang sedang menyaksikan pemakaman Mila. Tapi lagi-lagi Dafi harus menelan kecewa, karena Sera tidak ada.


"Ke mana dia?" batin Dafi sambil celingukan mencari sosok mantan kekasihnya itu.


"Woy, Dip! Cari siapa? Sera?" tanya salah seorang teman sekolah mereka yang melihat Dafi kebingungan.


"Iya, tadi katanya dia ikut ke pemakaman. Tapi kok tidak ada?"


"Tadi Sera pingsan, dan dibawa pergi."


Dafi termangu, dia semakin merasa kasihan kepada mantan kekasihnya itu.


"Dibawa ke mana?"


"Tidak tahu."


Dafi berpikir sejenak, kira-kira ke mana mantan kekasihnya itu.


Dafi mengernyit heran, "Kecelakaan? Aku tidak tahu."


"Lah, bukannya kalian pacaran, masa kau tidak tahu."


"Kami sudah putus," jawab Dafi jujur.


"Oh, pantas saja. Soalnya tadi dia pakai kursi roda, kaki dan kepalanya juga diperban. Sepertinya baru kecelakaan parah."


Dafi terkesiap, "Serius?"


"Iya, kalau tidak percaya kau bisa tanya teman-teman yang lain."


Dafi terdiam, kali ini dia benar-benar sangat mencemaskan Sera. Dipa pun bergegas pergi dari pemakaman dan kembali ke rumah Sera, namun dia tetap tidak bisa menemukan mantan kekasihnya itu.


Dia mencoba menghubungi nomor telepon Sera, namun tak bisa sama sekali.


Akhirnya Dafi pulang dengan rasa penasaran dan cemas yang bersarang di hatinya, tak bisa dipungkiri dia masih sayang dan peduli pada Sera, meskipun hubungan mereka sudah berakhir.


***


Damar melarikan Sera ke rumah sakit, dia benar-benar mencemaskan keadaan gadis itu.


"Pasien mengalami syok emosional karena terlalu sedih, apalagi dia baru mengalami gegar otak, itu yang membuat dia kehilangan kesadaran," terang dokter wanita yang menangani Sera.


"Apa itu berbahaya?" Damar memastikan dengan cemas.


"Tidak, selama pasien bisa mengendalikan emosinya. Tapi akan sangat berbahaya jika pasien terus saja berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa sakitnya."


"Kalau begitu apa yang harus dilakukan agar dia tidak bisa pulih lagi?" tanya Damar.


"Tetap mendampinginya, jangan biarkan dia sendiri dan bersedih, buat dia merasa nyaman dan tenang, agar dia sadar bahwa masih banyak yang menyayanginya."


"Baik, Dok. Kalau begitu terima kasih banyak."


"Sama-sama, saya permisi dulu." Dokter itu berlalu pergi.


Damar segera menghampiri Sera yang sudah sadar, tapi sesekali masih terisak.


Damar duduk di samping tempat tidur Sera lalu memandang gadis itu, "Sera, kamu harus kuat! Jangan takut, ada Om di sini. Om akan selalu menjaga dan melindungi kamu, jadi Om mohon jangan bersedih lagi."


"Aku rindu Ibu, aku mau mati saja biar bisa ikut Ibu," ucap Jora lirih, air matanya kembali menetes.


"Eh, kamu jangan bicara seperti itu! Ibu kamu pasti sedih kalau tahu kamu seperti ini, dia ingin kamu kuat dan hidup dengan baik. Jadi kamu harus tabah!"


Sera pun menangis tersedu-sedu, bukan perkara mudah meredam rasa sedih dan kehilangan orang yang sangat disayangi. Apalagi dari kecil, dia hanya memiliki Ibu yang selalu berjuang membesarnya, Sera tak sempat merasakan kasih sayang seorang ayah, karena ayahnya meninggal saat Sera masih sangat kecil. Jadi bagi Sera, ibu adalah segalanya, namun kini Tuhan telah memanggil sang ibu, membuat Sera kehilangan semangat hidup.


Dia sungguh menyesal telah meninggalkan Mila malam itu, namun dia juga tak rela Heru menyentuhnya.


Damar mengusap air mata Sera dengan ibu jarinya, "Jangan menangis lagi! Tuhan lebih menyayangi ibumu, jadi biarkan dia tenang di sana."


Sera masih terisak-isak.


"Mulai sekarang Om tidak akan membiarkan kamu bersedih lagi, kamu harus bahagia," lanjut Damar, dia menatap lekat manik hitam Sera.


Terima kasih, ya, Om. Aku berhutang budi pada Om, suatu saat nanti aku pasti akan membalasnya. Aku janji."


"Tidak usah! Om ikhlas melakukan semua ini, jadi kamu tidak perlu membalas apa pun," imbuh Damar, "Om cuma minta kamu jangan bersedih lagi dan hiduplah dengan baik."


Sera pun akhirnya mengangguk, "Iya, Om."


Damar mengusap kepala Sera, "Nah, gitu, dong!"


***