
Malam ini Damar, Sera, Riko dan para talent kembali bertemu. Mereka menyusun rencana untuk acara pernikahan nanti, mereka tidak ingin ada kesalahan sekecil apa pun agar Lusi dan semua orang tidak curiga.
"Pokoknya nanti yang jadi kerabat Sera datang duluan sebelum keluarga Pak Damar datang, seolah-olah kalian menginap di sini. Sementara Mas Ferdi dan Bang Jamal datang belakangan setelah semua orang hadir, karena kalau kalian semua datang bersamaan, orang-orang bisa curiga," ujar Riko.
Ferdi dan semua talent mengangguk setuju.
"Lalu bagaimana dengan buku nikah dan berkas lainnya? Apa kami juga yang menyiapkan?" tanya Ferdi.
"Tidak, itu biar jadi urusanku, Mas," jawab Riko.
Ferdi mengangguk, "Baiklah."
"Ok, jadi sudah jelas semuanya, ya?" Riko memastikan.
"Jelas!" Ferdi dan para talent menyahut serentak.
"Tapi aku takut, Mas Riko. Aku juga merasa kasihan pada mamanya Om Damar, dia begitu bahagia, tapi ternyata semua ini hanya bohongan," keluh Sera dengan wajah sedih.
"Ya mu bagaimana lagi, Sera? Kita tidak ada pilihan lain, kecuali kalian mau menikah sungguhan." Riko berbicara sambil melirik Damar yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Eh, enak saja! Aku belum mau menikah sekarang, apalagi dengan Om Damar," tolak Sera.
Damar sontak menatap Sera dan membalas ucapan gadis itu, "Om juga tidak mau menikah dengan bocil sepertimu!"
Tanpa di duga Ferdi malah merangkul pundak Sera, "Bagaimana kalau menikah dengan aku saja? Mau, kan?"
Tatapan tajam Damar langsung tertuju pada Ferdi, entah mengapa dia merasa tidak suka lelaki itu menyentuh Sera.
Untung saja Sera cepat melepaskan diri dari Ferdi dan menjauh dari pria itu, sebelum Damar bereaksi, "Aku juga tidak mau! Mas Ferdi jago berakting, pasti nanti aku dikibuli terus."
Ferdi dan semua tertawa mendengar kata-kata Sera, kecuali Damar yang wajahnya berubah masam.
"Mas ini tipe pria jujur dan setia, loh," seloroh Ferdi di sela-sela tawanya.
"Tetap saja aku tidak mau," balas Sera.
"Sudahlah, Fer! Rayuan gombal mu tidak mempan ke Sera, cari target lain saja," ledek Deni.
Semua orang lagi-lagi tertawa, kecuali Damar.
"Baiklah, kalau begitu kami pergi dulu. Sampai bertemu di hari H," ujar Ferdi kemudian.
Riko menganggukkan kepalanya, "Ok, Mas."
Ferdi dan para talent yang lain meninggalkan apartemen yang disewa oleh Damar itu.
"Semoga semuanya berjalan lancar," harap Sera.
"Aamiin." Damar dan Riko mengamini.
"Kalau begitu Om pergi dulu, kamu baik-baik di sini. Kalau ada apa-apa, cepat kabari Om." Damar beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, Om."
Damar dan Riko meninggalkan Sera sendiri di apartemen itu. Sebenarnya Sera merasa kasihan pada Damar, karena masalah ini, dia harus mengeluarkan banyak uang. Tapi tak ada yang bisa Sera lakukan selain pasrah mengikuti semua rencana mereka.
Di basemen, Damar berjalan beriringan dengan Riko.
"Setelah ini anda mau ke mana, Pak?" tanya Riko.
"Ke Royal Club, sudah lama aku tidak ke sana. Hitung-hitung refreshing, soalnya kepalaku sudah pusing."
"Tapi Mama anda kan sedang berada di sini, apa anda tidak takut ketahuan dia?"
"Ini kan baru pukul delapan, paling Mama berpikir jika aku sedang bersama Sera. Nanti setelah selesai, aku langsung pulang. Jadi Mama tidak akan curiga."
Riko hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Damar itu, bisa-bisanya di saat seperti ini dia masih menyempatkan diri untuk melampiaskan hasratnya, padahal sang mama sedang berada di rumahnya.
"Ya sudah, aku cabut dulu." Damar masuk ke dalam mobilnya dan segera melaju pergi.
"Pantas saja sikapnya belakangan ini aneh, ternyata sudah lama tidak tersalurkan," gerutu Riko, dia pun masuk ke dalam mobilnya dan bergegas meninggalkan basemen.
***
"Nanti sore Papa tiba di Indonesia," beber Lusi tiba-tiba.
Damar terkesiap mendengar ucapan sang mama, "Nanti sore, Ma?"
"Iya, jadi nanti malam kamu ajak Sera ke rumah, biar bisa kenalan dengan Papa."
"Tapi Papa kan baru datang, apa tidak sebaiknya besok saja aku ajak Sera ke sini? Jadi Papa bisa istirahat dulu."
"Tidak apa-apa, nanti malam saja. Soalnya Papa sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon menantunya. Lagipula besok Mama dan Papa akan pergi ke Bandung, kami ingin mengundang kerabat kita yang di sana," ujar Lusi girang.
Wajah Damar berubah sendu, dia jadi merasa kasihan kepada kedua orang tuanya yang merasa sangat bahagia dengan rencana pernikahan dirinya, padahal semua ini hanya sandiwara.
"Sayang, kamu kenapa sedih begitu? Apa ada masalah?" Lusi menatap Damar dengan curiga.
Damar menggeleng cepat dan menyanggah kecurigaan Lusi, "Tidak ada, kok, Ma. Aku hanya terharu saja karena melihat Mama dan Papa begitu bahagia."
"Tentu saja Mama dan Papa bahagia, karena sudah lama kami mengharapkan hal ini, kami ingin melihatmu menikah dan bahagia bersama keluarga kecilmu." Lusi mengusap punggung tangan Damar dengan mata berkaca-kaca.
Hal itu membuat Damar semakin merasa kasihan kepada sang mama, mendadak hatinya digelayuti rasa bersalah karena telah membohongi kedua orang tuanya.
"Jadi nanti malam ajak Sera ke sini!" pinta Lusi.
Damar mengangguk, "Iya, Ma."
"Oh iya, Sera sudah kenal dengan anakmu?" tanya Lusi.
"Belum, Ma."
"Kamu tidak cerita tentang Dafi padanya?"
Damar mengangguk, "Aku hanya mengatakan jika aku memiliki seorang putra, tapi aku tidak pernah cerita bagaimana hubungan kami dan masa laluku."
"Jadi Sera tidak tahu apa penyebab kamu dan Anggi berpisah?"
Damar menggeleng, "Tidak, Ma."
Lusi menghela napas panjang, dia sudah menduga jika Damar pasti akan menutupi masa lalunya itu dari orang lain, termasuk pada Sera.
"Lalu apa kamu sudah menyampaikan kabar baik ini pada anakmu?" tanya Lusi lagi.
"Belum, Ma."
"Kenapa belum? Jangan sampai dia dengar berita ini dari orang lain dan akhirnya membuat dia berpikir bahwa kamu tidak menganggapnya penting dalam hidupmu."
"Mama kan tahu bagaimana hubungan aku dan Dafi, jangankan untuk bicara baik-baik, melihat aku saja dia tidak mau," keluh Damar.
"Iya, tapi kamu harus tetap menyampaikan kabar ini padanya langsung, jangan sampai dia merasa diabaikan."
"Ya sudah, nanti aku akan menghubunginya dan menyampaikan hal ini," sahut Damar.
"Jangan dari telepon, temui dia langsung!" titah Lusi.
"Ma, dia pasti tidak mau bertemu denganku."
"Mama yang akan mengatur pertemuan kalian, mau tidak mau, kalian harus bertemu dan bicara. Ajak Sera juga, kenalkan calon istrimu padanya," pungkas Lusi.
"Tapi Ma, aku tidak ingin Sera melihat bagaimana sikap Dafi padaku," bantah Damar keberatan.
Sebenarnya jika boleh memilih, Damar ingin menyembunyikan pernikahan bohongan ini dari Dafi, tapi dia tahu itu tidak mungkin. Dengan terpaksa dia harus menjalani semua ini agar sandiwara mereka berjalan sempurna.
"Sayang, cepat atau lambat, Sera pasti juga akan mengetahui bagaimana hubungan kamu dan anakmu," sahut Lusi.
"Sudah kamu tenang, pokoknya nanti kamu dan Sera tinggal datang saja, biar Mama yang atur semuanya," lanjut Lusi.
Dirga mengembuskan napas pasrah, "Iya, Ma."
Tak ada pilihan lagi selain mengalah sebab Damar tak ingin sang mama curiga jika dia terus menolak dan membantah.
Lusi segera menghubungi Dafi dan mengatur pertemuan antara cucunya itu dan sang putra di salah satu kafe ternama, meskipun awalnya Dafi sempat menolak, namun akhirnya setuju juga berkat bujukan Lusi.
***