My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 2.



Sera dilarikan ke rumah sakit terdekat, seorang pria berperawakan tinggi dan berparas rupawan terlihat cemas menunggu di depan ruang UGD, baju dan tangannya berlumuran darah karena tadi menggendong Sera. Dia benar-benar terkejut saat tadi gadis itu menyeberang tiba-tiba dan tak sempat mengerem laju mobilnya.


Damar, pria berkulit putih bersih itu berulang kali melantunkan doa, berharap gadis yang dia tabrak barusan baik-baik saja.


"Pak Damar!" sapa seorang laki-laki muda bernama Riko, dia buru-buru datang ke rumah sakit karena tadi dihubungi atasannya itu, "bagaimana, Pak?"


"Gadis itu masih ditangani oleh dokter," jawab Damar.


"Apa dia terluka parah, Pak," tanya Riko yang juga tak kalah cemasnya.


Damar mengangguk, "Dia terluka parah di kepala dan tak sadarkan diri. Aku takut dia tidak selamat."


Riko mendadak juga merasakan ketakutan, "Tenang, Pak. Kita berdoa saja."


Damar kembali mengangguk, wajah tampannya terlihat begitu tegang dan panik.


"Apa anda sudah menghubungi keluarganya, Pak?"


"Aku tidak tahu di mana keluarganya, gadis itu tidak membawa identitas apa pun."


Riko menghela napas, "Mau tidak mau kita harus menunggu gadis itu sadar, agar bisa menanyakan keluarganya."


"Bagaimana kalau kita lapor polisi saja?" cetus Damar.


"Jangan dulu, Pak. Kita tunggu dulu perkembangannya, kalau gadis itu selamat, kita bisa damai secara kekeluargaan dan tidak perlu melibatkan polisi."


Damar terdiam, apa yang Riko katakan ada benarnya juga.


Seorang dokter datang dan langsung menghampiri Damar juga Riko.


"Anda yang membawa pasien kecelakaan tadi, kan?" tanya si dokter memastikan.


"Iya, Dok. Bagaimana keadaannya?"


"Sepertinya pasien mengalami gegar otak dan patah tulang kaki, nanti kami akan melakukan pemeriksaan CT scan dan Rontgen untuk memastikannya. Sekarang kami sedang menjahit luka pasien."


Damar dan Riko tercengang, keduanya sontak merasa kasihan pada Sera.


"Apa keluarganya sudah diberi tahu?" tanya si dokter lagi.


"Kami tidak tahu di mana keluarganya, Dok. Gadis itu juga tidak membawa identitas apa pun," terang Damar.


"Kalau begitu kita harus menunggu pasien sadar, atau kita bisa melaporkan kejadian ini ke polisi, biar mereka yang mencari tahu keluarga pasien," usul dokter tersebut.


"Saya akan menunggu gadis itu sadar saja," sahut Damar.


"Baiklah kalau begitu saya permisi dulu."


"Iya, terima kasih, Dok."


Dokter tersebut tersenyum dan berlalu pergi.


***


Beberapa saat kemudian, Sera sudah selesai diperiksa dan dipindahkan ke ruang perawatan, Damar dan Riko pun menjenguknya.


Tubuh Sera terbaring tak berdaya dengan kepala dan kaki yang diperban serta selang infus yang tertancap di punggung tangannya. Seorang perawat yang sedang memeriksa cairan infus tersenyum kemudian pergi meninggalkan dua pria itu setelah memastikan semuanya aman.


Damar menatap wajah Sera yang pucat, dia merasa bersalah karena telah membuat gadis itu terluka seperti ini.


"Kasihan, pasti saat ini orang tuanya sedang cemas mencari dia," ujar Damar sambil terus menatap wajah Sera yang tidak sadarkan diri.


"Tapi apa tidak aneh, Pak? Gadis ini berlarian sendiri di tempat sepi, tengah malam lagi."


"Iya juga."


"Kita akan cari tahu nanti setelah dia sadar," pungkas Damar.


Riko mengangguk, "Iya, Pak."


Damar kembali memperhatikan wajah Sera. Hati Damar bertanya-tanya siapa gadis ini dan apa yang sebenarnya terjadi sampai dia bisa ada di tempat tadi larut malam begini?


"Sebaiknya anda pulang dan beristirahat, Pak. Biar saya saja yang menjaga gadis ini," cetus Riko


Damar menghela napas, "Iya, aku memang mau pulang, mau ganti baju. Nanti pagi sebelum ke kantor, aku datang lagi."


"Iya, Pak."


"Aku tinggal, ya. Kalau ada apa-apa, cepat kabari aku!"


"Baik, Pak. Hati-hati di jalan."


Damar hanya mengangguk dan tersenyum, lalu berlalu dari hadapan Riko. Damar tahu, dia selalu bisa mengandalkan Riko kapan pun dan di mana pun, ini lah yang membuatnya selalu memanggil bawahannya itu setiap kali dia terkena masalah.


***


Dafi duduk termenung di kamar kostnya, dia masih memikirkan Sera, dia merasa sangat bersalah saat melihat gadis itu pergi sambil menangis. Dia tahu semua ini salah dirinya yang terlalu egois, dia hanya memikirkan kesenangannya alih-alih perasaan Sera, namun dia juga tak bisa menepis rasa jenuh yang hadir dalam hubungan mereka.


Hubungan tiga tahun yang mereka jalani terasa hambar dan memuakkan, hingga pada akhirnya dia tertarik pada Luna yang rela memberikan segalanya, meskipun wanita itu tahu hanya dijadikan selingkuhan.


Luna yang melihat Dafi melamun mendekati kekasihnya itu, "Kamu masih memikirkan dia?"


Dafi tersentak lalu menatap Luna, "Iya."


Wajah Luna berubah masam, "Buat apa kamu masih memikirkan dia lagi? Kalian sudah selesai dan sekarang cuma aku kekasih kamu."


"Aku hanya merasa bersalah padanya, dia pasti sedih dan terluka saat ini,"


"Ya sudah, kalau begitu kamu susul saja dia! Terus ajak balikan, biar aku yang pergi." Luna merajuk.


"Sayang, kamu jangan marah, dong!" bujuk Dafi.


"Habis aku kesal! Kamu masih saja peduli dengan dia, padahal ada aku di sini."


"Aku minta maaf, sayang. " Dafi mendekap erat tubuh Luna dan mengecup kepalanya.


"Kamu janji ya jangan memikirkan dia lagi, jangan peduli padanya lagi. Janji?"


"Iya, aku berjanji. Aku hanya akan memikirkan dirimu saja," balas Dipa, dia tak ingin memperpanjang masalah ini.


Luna pun tersenyum di dalam pelukan kekasihnya itu, sekarang dia sangat puas karena Dafi sudah menjadi miliknya seorang. Dia tak perlu lagi menjadi yang kedua dan selalu mengalah pada Sera.


Namun sesungguhnya jauh di dalam hati Dafi, dia masih sangat mengkhawatirkan Sera. Terlebih dengan kedatangan gadis itu malam-malam begini ke kost-kostan nya, benaknya bertanya-tanya, ada apa sebenarnya?


Sementara itu di rumah orang tua Sera, Heru pulang dari klinik sambil terus mengumpat anak tirinya itu.


"Dasar anak sialan! Tidak berguna! Kalau ketemu, aku hajar dia!" gerutu Heru sambil memegangi kepalanya yang pusing karena terluka akibat ulah Sera tadi.


Mila memandangi Heru dengan air mata berlinang, dia sangat cemas dengan putrinya itu. Mila ingin sekali marah dan memukuli Heru, tapi apalah daya, bicara dan bergerak saja dia tidak bisa.


"Sera, kamu di mana, Nak? Semoga Tuhan selalu melindungi mu," batin Mila penuh harap, dia pun terisak-isak.


Heru menatap Mila dengan marah, "Hei, wanita tidak berguna! Ini semua gara-gara kau! Ibu dan anak sama saja!"


Mila hanya mampu menangis meski hatinya begitu mengutuk suami yang sudah sepuluh tahun ini dia nikahi itu.


***