
Setelah merapikan riasan wajahnya, Sera pun keluar dari kamar dan menghampiri Damar yang tengah berbincang dengan Lusi dan Elin. Rupanya ibunda Lusi tetap mengundang sahabatnya itu meskipun pernikahan putranya diadakan secara sederhana.
"Eh, ini dia pengantin wanitanya," ujar Lusi saat melihat Sera berjalan ke arah mereka.
"Wah, cantik sekali!" seru Elin yang takjub melihat kecantikan Sera.
"Sayang, perkenalkan ini Tante Elin." Lusi memperkenalkan Elin pada Sera.
Sera memaksakan senyuman, "Kenali aku Sera, Tante."
"Hai, Sera. Selamat menempuh hidup baru, ya. Semoga langgeng terus dan bahagia selalu," ucap Elin.
"Aamiin." Lusi mengamini.
"Terima kasih, Tante," balas Sera.
"Oh, iya, ini ada titipan dari Sarah." Elin mengambil sebuah kotak berbungkus kertas kado lalu memberikannya kepada Damar dan Sera.
"Terima kasih, Tante."
"Maaf, dia tidak bisa datang karena ada urusan mendadak," lanjut Elin.
"Tidak apa-apa." balas Damar, "Sampaikan terima kasih kami pada Sarah."
Elin mengangguk, "Iya, nanti Tante pasti sampaikan."
"Kalau begitu, mari makan dulu!" Lusi mengajak sahabatnya itu menikmati hidangan yang sudah tersedia.
"Boleh, deh. Kebetulan aku agak lapar." Elin tertawa menanggapi ajakan Lusi itu.
Lusi beralih memandang Sera dan Damar. "Mama tinggal dulu, ya?"
"Iya, Ma."
Kedua wanita paruh baya yang sudah bersahabat bertahun-tahun itu pun berlalu meninggalkan pengantin baru tersebut.
"Hem, Om. Eonni mana?" bisik Sera sembari celingukan mencari sosok Yuni.
"Itu di sana." Damar menunjuk Yuni yang sedang bercengkrama bersama Raffi.
"Kalau begitu aku ke sana dulu." Sera bergegas menghampiri Yuni dan Raffi.
Damar memandangi pundak Sera yang semakin menjauh, dia masih belum bisa percaya jika bocil itu kini sudah sah menjadi istrinya.
"Eonni, ikut aku sebentar!" Sera langsung menarik Yuni menjauh dari Raffi.
"Ada apa, Sera?" Yuni tergopoh-gopoh mengikuti langkah gadis itu.
Setelah di tempat yang aman, Sera pun memandang Yuni yang berdiri di hadapannya dengan serius.
"Eonni tahu tidak siapa nama anaknya Om Damar?"
Yuni mengernyit, "Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan nama anak Oppa?"
Sera mendadak gugup.
"Oh, itu ... a-aku hanya ingin tahu saja, Eonni," dalih Sera.
"Kalau tidak salah namanya Kadafi Putra Mahendra, tapi Oppa dan Nyonya Lusi biasa memanggilnya Dafi," jawab Yuni polos.
"Jadi Dafi anaknya Om Damar? Kenapa aku baru tahu sekarang? Pantas mereka begitu mirip dan banyak persamaan, kenapa aku tidak curiga sama sekali?" batin Sera menyesal.
Melihat Sera melamun dengan wajah tegang, membuat Yuni bingung dan penasaran, "Kamu kenapa? Kamu kenal dengan anaknya Oppa?"
Sera tersentak dan semakin gugup. "A-aku ...."
Sera tak ingin Yuni tahu jika Dafi adalah mantan kekasihnya yang berengsek itu, dia takut Yuni membeberkannya pada Damar.
Namun bak dewa penyelamat, Damar datang menghampiri mereka, "Sera, Mama memanggilmu."
"I-iya, Om," sahut Sera gugup lalu beralih memandang Yuni, "Eonni, aku tinggal dulu."
Sera buru-buru pergi meninggalkan Yuni yang masih kebingungan.
"Dia aneh banget, sih."
***
Acara sudah selesai dan apartemen pun sudah sepi. Damar, Riko dan keempat talent itu masih sibuk menghubungi Ferdi dan Jamal yang sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali. Sementara Sera hanya termenung di kamar, dia masih syok menerima kenyataan mengejutkan tentang Dafi.
"Aku bersumpah akan menghajar mereka jika bertemu, gara-gara mereka rencana kita berantakan dan aku jadi menikah sungguhan dengan Sera," gerutu Damar dengan wajah kesal.
"Sabar, Pak. Mereka pasti ada alasan kenapa tidak datang," sahut Riko.
"Apa pun alasannya, aku tetap tidak akan memaafkan mereka!" bantah Damar, "Mereka harus bertanggung jawab."
Semuanya terdiam, mereka paham jika saat ini Damar sangat kesal dan marah pada Ferdi dan Jamal, mereka juga pasrah kalau nanti Damar tidak membayar sisa upah mereka karena rencananya gagal.
Namun kemudian Damar tersadar jika Sera tidak ada, "Sera mana?"
"Tadi ada di kamar, Mas. Mungkin kelelahan dan sedang istirahat," jawab Ayu.
Tanpa membalas ucapan Ayu, Damar pun segera beranjak dan melangkah menuju kamar.
"Menurutku mereka memang cocok jadi suami istri, serasi banget," celoteh Hesti sambil memandangi kepergian Damar.
"Iya, yang satu cantik dan yang satunya lagi ganteng maksimal," sambung Ayu.
"Sstt, sudah-sudah! Jangan sibuk mengomentari mereka, sekarang kita pikirkan Ferdi dan Bang Jamal," tukas Deni.
Wajah Ayu dan Hesti pun sontak cemberut.
Mereka pun kembali menghubungi nomor telepon Ferdi dan Jamal, namun lagi-lagi tak ada jawaban.
"Sebenarnya mereka ini ke mana, sih?" tanya Riko bingung.
"Aku takut terjadi sesuatu dengan mereka," ujar Raffi cemas.
"Iya, soalnya tidak biasanya mereka seperti ini," sela Deni.
"Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?" Riko bertanya lagi.
"Kita coba hubungi mereka terus!" titah Deni.
Tapi tiba-tiba ponsel Riko berdering, dan ada panggilan masuk dari nomor Ferdi.
***