
Beberapa hari kemudian, Damar pun sudah diperbolehkan untuk pulang, keadaanya sudah jauh lebih baik dan hubungannya dengan Sera juga semakin harmonis.
Sementara Dafi harus terus menutupi rasa sakit dan cemburunya di hadapan mereka, dia berusaha bersikap biasa saja meski sesungguhnya sangat menderita.
Damar sudah tiba di rumah dan sedang berkumpul bersama anak, istri dan kedua orang tuanya.
"Karena keadaan sudah normal lagi dan kalian ada di sini, jadi Mama ingin bertanya sesuatu pada kalian," ujar Lusi membuka percakapan.
Damar mengernyit, "Tanya apa, Ma?"
"Mama dengar kalian hanya bersandiwara dan pura-pura menikah, apa itu benar?" tanya Lusi tanpa basa-basi.
Damar, Sera dan Dafi tercengang mendengar pertanyaan Lusi itu. Sera bahkan langsung menatap curiga Dafi, tapi mantannya itu menggeleng.
"Kenapa kalian diam? Ayo jawab!" desak Lusi sembari memandang Damar dan Sera bergantian.
"Mama dengar dari mana?" Damar balik bertanya.
"Kamu jawab dulu pertanyaan Mama!" bentak Lusi, "dan jangan coba-coba untuk berbohong!"
Damar mengembuskan napas, dia merasa sudah saatnya mengakui semua ini pada sang mama dan semua orang, dia tak ingin ada kebohongan lagi di dalam rumah tangganya. Dengan gugup dia pun menceritakan yang sebenarnya pada kedua orang tuanya.
Lusi dan Erick terkesiap, mereka tak menyangka Damar serta Sera tega mempermainkan mereka.
"Keterlaluan kalian! Sampai hati kalian membohongi kami dan semua orang, kalian mempermainkan pernikahan," hardik Erick marah.
"Aku minta maaf, Pa, Ma. Tapi aku mohon dengarkan dulu penjelasan ku," ucap Damar, sementara Sera hanya tertunduk takut.
Begitu juga dengan Dafi, dia tak berani mencampuri percakapan ini.
"Penjelasan apa lagi? Bukankah sudah jelas kalian berbohong!" sungut Lusi, dia kesal dan kecewa pada anak serta menantunya itu.
"Iya, awalnya kami memang hanya pura-pura dan bersandiwara, walaupun pernikahan itu memang sah secara hukum maupun agama. Kami berniat untuk bercerai setelah beberapa saat, tapi lama-lama kami saling jatuh cinta. Sekarang kami ingin benar-benar menjalani pernikahan ini, Ma," terang Damar sambil menggenggam tangan Sera dengan erat, Dafi yang melihatnya merasa cemburu.
"Kenapa kalian melakukan itu?" Erick bertanya.
"Untuk menghindari perjodohan yang Mama inginkan, aku meminta Sera membantuku menjalankan sandiwara ini."
Erick melirik Lusi yang duduk di sampingnya, "Inilah akibatnya jika Mama selalu memaksakan kehendak pada anak, dia jadi melakukan hal yang tidak-tidak."
"Mama kan hanya ingin Damar menikah dan bahagia, Pa," bantah Lusi membela diri.
"Iya, tapi bukan berarti terus memaksanya!" sambung Erick.
Wajah Lusi berubah masam.
Erick lalu menatap Sera, "Kalau kamu, kenapa kamu bersedia membantu Damar bersandiwara?"
Erick mengerutkan keningnya, "Balas budi? Memangnya apa yang dia lakukan padamu?"
Sera menatap Damar untuk meminta izin menceritakan yang sebenarnya, dan lelaki itu mengangguk setuju.
Sera pun menceritakan kejadian di malam nahas itu hingga dia akhirnya bertemu dengan Damar, tentu dia tidak mengatakan jika Dafi adalah mantan kekasih yang telah mengkhianatinya sebab tak ingin Lusi dan Erick tahu kelakuan buruk cucu mereka itu.
Sedangkan Dafi terkejut setengah mati, dia akhirnya mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Dia selalu bertanya-tanya, apa yang terjadi pada Sera? Bagaimana gadis itu bisa bertemu dengan sang ayah? Dan kini terjawab sudah rasa penasarannya selama ini, membuat hatinya kian merasa bersalah dan dipenuhi rasa sesal, andaikan dia tidak selingkuh dengan Luna, pasti kejadian nahas itu tidak akan pernah terjadi dan Sera pasti masih menjadi miliknya. Namun nasi sudah menjadi bubur, dia hanya bisa meratapi nasib dan menerima takdir menyakitkan ini.
"Ini semua rencana Tuhan untuk menyatukan kalian, yakinlah apa yang Dia tentukan adalah yang terbaik," ucap Erick bijak.
"Inilah yang namanya kalau jodoh tidak ke mana, walaupun kalian mengawali dengan kebohongan, Mama berharap kalian bahagia selalu dan langgeng terus sampai anak cucu." Lusi menimpali.
Sera dan Damar mengamini.
"Aku minta maaf, Ma, Pa. Aku janji tidak akan mengecewakan kalian lagi," imbuh Damar.
"Aku juga minta maaf," sela Sera.
Lusi dan Erick mengangguk sembari tersenyum, sedangkan Dafi hanya diam menyimak tanpa berniat untuk ikut campur sedikit pun.
"Hem, kalau boleh tahu, Mama dan Papa dengar dari siapa tentang sandiwara kami?" Damar bertanya lagi sebab dia masih penasaran dari mana orang tuanya tahu semua sandiwaranya.
"Dari Sarah."
"Sarah?"
"Iya, katanya dia kebetulan melihat kalian di rumah sakit dan tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian, lalu dia menceritakannya kepada Mama," beber Lusi.
Damar mengerutkan keningnya, "Di rumah sakit? Kapan, Ma?"
"Saat Dafi terjatuh dari tangga."
Sera dan Damar tercengang, mereka tak percaya Sarah mendengar pembicaraan mereka waktu itu.
"Jadi itu alasannya Mama pulang mendadak ke Indonesia?" tebak Damar.
"Iya, Mama ingin menyelidikinya dan mencaritahu langsung, tapi ternyata ada insiden seperti ini. Makanya Mama baru tanya sekarang."
Kedua pasangan suami istri itu termangu.
"Ya sudah, berarti sekarang sudah jelas dan tidak ada masalah lagi. Semoga dengan adanya semua kejadian ini, kita bisa lebih dewasa dan berhati-hati dalam bersikap serta mengambil keputusan," pungkas Erick, dan menjadi sindiran telak untuk Dafi yang telah salah mengambil keputusan sehingga dia harus rela kehilangan orang yang dia cintai.
***