
Setelah menempuh perjalanan panjang selama enam belas jam lebih dua puluh lima menit, akhirnya Sera dan Damar tiba di Venice Marco Polo Airport, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam waktu setempat, tapi suasana di bandara ini masih sangat ramai.
Karena baru pertama kali melakukan perjalanan jauh dengan pesawat, Sera pun mengalami mabuk udara, dia merasa pusing dan mual. Selama diperjalanan, ia hanya menghabiskan waktu dengan memejamkan mata.
"Kamu masih mual?" Damar memastikan.
"Sudah tidak terlalu, Om. Tapi kepalaku masih pusing," keluh Sera sembari memegangi kepalanya.
"Apa kamu mau pesan makanan atau minuman dulu di sana?" Damar menunjuk restoran yang tersedia di bandara itu.
Sera menggeleng, "Tidak, Om. Kalau bisa kita langsung ke hotel saja, aku mau tidur."
"Ya sudah, Om panggil taksi dulu." Damar bergegas memanggil taksi.
Sera duduk di kursi tunggu sambil memijit kepalanya yang terasa berputar, dia benar-benar tidak bisa menikmati perjalanan ini.
Tak berapa lama Damar datang dan mereka pun pergi meninggalkan bandara internasional itu.
Dengan menempuh jarak lebih kurang tiga belas kilometer, pasangan pengantin baru itu akhirnya tiba di Venesia. Keduanya menginap di hotel yang direkomendasi oleh Lusi, yaitu Splendid Venice - Starhotels Collezione.
Mereka menyewa sebuah kamar mewah yang jendelanya langsung menghadap ke Grand Kanal, menyajikan pemandangan yang sangat indah.
"Kamu istirahat saja, biar Om yang menyusun barang-barang ini," pinta Damar sambil memindahkan koper-koper mereka ke dalam lemari.
Sera tak menjawab, dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk lalu memejamkan mata.
"Kamu yakin tidak mau pesankan sesuatu?" tanya Damar.
Sera menggeleng, "Aku mau tidur saja, Om."
"Tapi kamu belum makan apa-apa sejak siang, nanti kamu masuk angin." Damar merasa cemas, karena Sera juga tidak menyentuh makan siangnya di pesawat tadi.
"Kepalaku pusing sekali, Om. Aku tidak berselera untuk makan," sahut Sera malas, dia bahkan tak membuka matanya.
Damar merasa kasihan pada Sera, dia tidak tega melihat gadis itu tergolek lemas.
"Kalau begitu Om akan coba minta obat sakit kepala pada pihak hotel."
"Tidak usah, Om. Nanti juga hilang sendiri, kok," tolak Sera.
Damar terdiam dan mengurungkan niatnya, dia kembali memandangi Sera yang terlihat pucat.
"Hem, bagaimana kalau Om pijit kepala kamu? Siapa tahu bisa mengurangi rasa pusingnya," usul Damar.
Sera membuka matanya lalu mengangguk setuju, "Boleh, deh, Om."
Dengan perlahan Damar melangkah menghampiri Sera dan duduk di tepi ranjang, Sera pun bergeser agar lebih dekat dengan sang suami.
Damar menyentuh kepala Sera lalu mulai memijitnya, dia bisa merasakan dahi gadis itu yang dingin dan berkeringat.
Tak butuh waktu lama, Sera pun akhirnya terlelap, terdengar suara dengkuran halus keluar dari mulutnya. Selain mabuk perjalanan, sepertinya gadis itu juga kelelahan.
Damar memandangi wajah damai Sera, kini pijatannya berubah menjadi elusan di kepala gadis itu. Menit-menit berlalu, Damar terus mengusap lembut kepala Sera, hingga lama kelamaan rasa kantuk pun menyerangnya, hingga tanpa sadar dia juga ikut tertidur di sisi sang istri dengan posisi duduk bersandar di headboard.
***
Malam berganti, cahaya mentari mulai masuk melalui celah-celah jendela, suara kicauan burung camar juga terdengar merdu di luar kamar.
Sera mulai terbangun, sepertinya dia sudah lebih baik dari semalam. Perlahan-lahan dia membuka mata dan terkejut saat menyadari Damar duduk di sampingnya dalam keadaan tidur.
"Astaga, Om!" Sera bergegas bangkit.
Damar yang merasakan pergerakan Sera seketika terbangun, dia mengucek matanya yang masih terasa perih.
"Kamu sudah bangun? Bagaimana kepala kamu? Masih pusing?" cecar Damar dengan suara yang serak khas orang bangun tidur.
"Sudah enakkan, kok. Om kenapa tidurnya begini?"
"Ya ampun! Aku minta maaf karena sudah menyusahkan Om."
"Tidak apa-apa. Sudah sekarang kamu mandi, habis itu kita sarapan!" pinta Damar.
"Iya, Om." Sera segera turun dari atas ranjang sementara Damar berbaring dan melanjutkan tidurnya.
***
Setelah selesai sarapan, Sera dan Damar pun memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi kanal dengan menaiki gondola, mereka menikmati keindahan bangunan-bangunan yang berjajar di sepanjang aliran kanal.
Keduanya benar-benar terlihat seperti pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu, sangat romantis.
"Ternyata Venesia itu indah sekali, aku tidak menyesal jalan-jalan ke sini walaupun harus pusing dan mual karena mabuk perjalanan," ujar Sera dengan mata berbinar.
Damar tersenyum, "Ini salah satu tempat bulan madu yang romantis, makanya Mama memilih tempat ini."
"Dulu Om dan mantan istri Om juga bulan madu ke sini? Atau ke tempat lain?" tanya Sera polos.
Damar terdiam, dia dan Anggi tak pernah bulan madu seperti layaknya pengantin baru.
"Om, kenapa diam?"
Damar tersentak, "Eh, maaf. Kamu tanya apa tadi?"
"Aku tanya, dulu Om dan mantan istri Om juga bulan madu ke sini? Atau ke tempat lain?" Sera mengulang kembali pertanyaannya.
"Oh, kami tidak ada bulan madu."
Sera mengernyit, "Kenapa? Apa Mama Om tidak memberikan hadiah pernikahan seperti yang dia berikan ke kita?"
"Sudah, ah! Jangan membahas hal itu!" bantah Damar, dia malas mengulang cerita tentang masa lalunya yang memilukan itu.
Wajah Sera berubah masam, "Iya, deh. Maaf, aku cuma ingin tahu saja."
"Daripada bahas yang tidak penting, mending sekarang kita mengabadikan momen ini." Damar mengalihkan pembicaraan, dia mengambil ponselnya dan membuka fitur kamera.
Damar mengarah kamera depan ponselnya ke Sera dan dirinya, "Senyum, dong!"
Sera memaksakan senyuman, membuat wajahnya terlihat lucu dan kaku.
"Jelek banget senyumannya, kayak tidak ikhlas," protes Damar, "yang manis, dong!"
"Ini sudah yang paling manis, Om."
"Kurang manis, harus lebih natural lagi."
Sera pun kembali tersenyum dan Damar langsung menjepret nya.
"Nah, gini kan cantik," puji Damar sembari memandang foto dirinya dan Sera yang tersenyum dengan sangat manis.
Damar lalu mengirimkan foto itu ke Lusi sebagai bukti jika mereka sudah sampai di Venesia dan sedang bersenang-senang.
Tiba-tiba tercetus ide di kepala Sera untuk memanas-manasi Dafi.
"Om, foto tadi kirim ke aku, dong!" pinta Sera.
Tanpa pikir panjang, Damar langsung mengirim foto itu ke sang istri.
Sera lalu memposting foto itu di akun media sosialnya, dengan caption -LIBURAN DI VENESIA-
Tapi gadis itu sengaja menutupi wajah Damar dengan emoticon.
Postingannya itu sontak dibanjiri komentar dari teman-temannya, banyak yang penasaran dengan sosok pria di samping Sera itu.
***