
Damar berlari masuk ke dalam rumah sakit yang tadi sempat Yuni katakan, dia sungguh panik dan cemas dengan keadaan Dafi, dia takut terjadi sesuatu yang serius pada putranya itu.
Saking kalutnya, dia bahkan tak sadar saat melewati Sarah yang kebetulan juga ada di rumah sakit itu.
"Itu kan Damar? Kenapa dia lari-larian begitu di rumah sakit?" Sarah bertanya pada dirinya sendiri.
Karena penasaran Sarah pun mengikuti Damar tanpa sepengetahuan lelaki itu.
Damar langsung menyerobot masuk ke dalam ruang UGD, sementara Sarah memilih tetap di luar. Langkah Damar sontak terhenti, hatinya mendadak panas saat melihat Sera sedang berdiri di samping Dafi sambil menangis memegangi tangan sang putra. Sera belum menyadari kedatangan dirinya.
"Daf, aku mohon bangun! Jangan buat aku takut!" pinta Sera lirih, entah mengapa hal itu membuat Damar merasa cemburu.
Yuni yang melihat Damar sontak terkejut, "Oppa?"
"Bagaimana keadaannya?" tanya Damar, membuat Sera terkejut dan langsung melepaskan tangan Dafi.
Sera berbalik dan menghadap Damar dengan canggung.
"Kata dokter Dafi mengalami cedera kepala juga retak tulang hidung, dan dia belum sadarkan diri sejak tadi," jawab Yuni, sementara Sera hanya bergeming takut.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia bisa jatuh dari tangga?"
Yuni dan Sera saling pandang, ragu bercampur takut untuk mengatakan yang sebenarnya.
Damar memandang kedua wanita itu bergantian, "Kenapa kalian diam?"
"Tadi aku ingin pergi dari rumah dan Dafi menahan ku, kami rebutan koper di tangga lalu dia terpeleset dan jatuh. Ini semua salahku, Om. Aku minta maaf," beber Sera menyesal.
Damar terkesiap dan mengernyit, "Kamu mau pergi?"
Sera mengangguk pelan.
Damar mengembuskan napas yang terasa berat, "Sera, sepertinya kita perlu bicara?"
Sera tertunduk dan meremas jari-jarinya yang berkeringat dingin.
"Kita bicara di luar." Damar bergegas keluar dari ruangan itu dan Sera mengikutinya.
Begitu melihat Damar dan Sera keluar, Sarah yang menunggu di luar sontak bersembunyi di balik tembok rumah sakit. Dia berniat menguping sebab merasa sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sera, kenapa kamu mau pergi?" cecar Damar sedikit emosi.
"Aku merasa malu dan bersalah, karena sudah berbohong pada Om. Aku merasa tidak pantas untuk tetap berada di rumah Om," sahut Sera.
Sarah sedikit terkejut saat mendengar Sera memanggil Damar dengan sebutan Om.
"Sera, Om memang kecewa dan marah padamu, tapi bukan berarti kamu bisa pergi begitu saja. Bagaimanapun juga kamu itu masih istri Om, tanggung jawab Om."
"Kalau begitu mari kita bercerai, Om."
"Bercerai?"
"Iya, Om. Aku rasa sekaranglah saat yang tepat untuk kita mengakhiri sandiwara ini, Dafi juga sudah mengetahui semuanya, dia tahu kalau kita hanya pura-pura dan tidak saling cinta. Kalau kita terus menjalankan semua ini, bisa-bisa akan membuat masalah semakin besar."
Sarah tercengang seraya menutup mulutnya yang ternganga karena terkejut mendengar ucapan Sera barusan.
"Jadi mereka hanya pura-pura? Astaga, mereka sudah membohongi Tante Lusi dan semua orang," batin Sarah tak percaya.
Damar terdiam, dia bingung harus mengatakan apa lagi sebab dia sendiri pun merasa dilema dengan perasaannya saat ini. Dia tak rela berpisah dari Sera, namun dia juga merasa berat jika harus melanjutkan semua ini.
Hati Damar kian terasa perih saat Sera mengatakan bahwa mereka -tidak saling cinta-
Ini menegaskan jika gadis itu tidak memiliki perasaan apa-apa terhadapnya.
"Baiklah, Om akan urus semuanya," putus Damar kemudian dan kembali masuk ke dalam ruang UGD dengan perasaan hancur.
Sera hanya tertunduk dan menangis terisak-isak, sejujurnya dia merasa ada yang menghantam dadanya saat meminta cerai dari Damar. Dia sendiri tak bisa mengerti dengan perasaan aneh yang terkadang hadir saat dia bersama lelaki itu, perasaan serupa seperti yang pernah dia rasakan pada Dafi. Mungkinkah dia mulai jatuh cinta pada sosok hangat Damar?
Sarah masih syok dengan apa yang dia dengar, dia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu sebelum Damar atau Sera melihat dirinya.
***
Riko tergesa-gesa menuju ruang UGD setelah tadi Damar sempat menghubunginya dan mengabarkan apa yang terjadi pada Dafi. Dia sedikit heran saat melihat mata Sera yang bengkak dan merah pertanda dia baru menangis, namun Riko tak mau bertanya.
"Bagaimana keadaan anak anda, Pak?" tanya Riko.
"Dia mengalami cedera kepala juga retak tulang hidung, dan belum sadar sampai sekarang."
"Kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi?" Riko bertanya lagi.
Damar melirik Sera yang sedang dipeluk oleh Yuni, "Nanti aku ceritakan."
Riko mengangguk, dia tahu pasti ada hal serius yang terjadi.
Damar lalu beralih menatap Sera dan Yuni, "Sebaiknya kalian pulang saja, ini sudah malam. Biar aku yang menjaga Dafi di sini."
"Tapi, Om." Sera terlihat keberatan dan itu membuat Damar menyadari betapa sang istri sangat mencemaskan putranya itu.
"Pulanglah, besok kalian bisa datang lagi," potong Damar.
Sera dan Yuni pun akhirnya menurut.
"Kalau begitu kami pulang dulu," ucap Yuni.
"Iya, hati-hati."
Kedua wanita itu berjalan beriringan meninggalkan rumah sakit, walaupun sejujurnya Sera masih ingin di sini dan memastikan keadaan Dafi. Dia tahu semua ini terjadi karenanya, kalau dia tidak ingin pergi dan berdebat dengan Dafi, pasti sang mantan tidak akan jatuh dari tangga.
***