
Keesokan harinya, Damar terbangun dan menoleh ke arah sofa tempat Sera tidur semalam, tapi gadis itu tidak ada. Damar sontak bangkit dan terkejut saat melihat selimut yang dia pakaikan ke Sera kini menutupi tubuhnya.
"Eh, Om sudah bangun?" sapa Sera yang baru datang dari luar sambil membawa bungkusan.
Damar menoleh ke arah Sera, "Kamu dari mana?"
"Dari warung sarapan di depan apartemen, beli ini." Sera menunjuk kantong plastik yang dia bawa.
Damar mengernyit, " Apa itu?"
"Nasi uduk, Om. Sebentar aku siapkan dulu." Sera bergegas ke dapur.
Berselang beberapa saat, Sera kembali lagi dengan membawa nampan berisi nasi uduk yang dia beli tadi dan teh hangat, dia kemudian menghidangkannya di depan Damar.
"Sarapan dulu, Om."
Damar termangu memandang Sera, meskipun mereka terpaksa menjalani pernikahan ini, tapi gadis itu tetap melakukan perannya sebagai seorang istri, dia melayani Damar dengan sepenuh hati.
"Om kenapa lihatin aku seperti itu?" tegur Sera.
Damar pun mengalihkan pandangannya, "Oh, tidak ... tidak apa-apa. Terima kasih, ya."
Dengan sedikit gugup, Damar pun langsung menyantap nasi uduk di hadapannya. Sera semakin merasa aneh dengan sikap lelaki itu, semalam dia terlihat cuek dan sekarang dia menatap Sera seperti tadi.
Mereka pun makan dalam diam, tak ada yang memulai pembicaraan. Sesekali Damar melirik Sera yang makan dengan lahap, membuat bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
Setelah selesai makan, Sera membawa piring kotor dan gelas bekas teh ke dapur, lalu mencucinya. Sedangkan Damar mengecek ponselnya, ada beberapa pesan dari Riko, rekan bisnisnya dan Anggi. Dia hanya membalas pesan dari Riko dan rekan bisnisnya saja, sementara pesan dari Anggi dia abaikan.
Sera segera kembali ke ruang tamu untuk membereskan bantal-bantal dan selimut yang semalam mereka pakai, Damar hanya memperhatikan istri kecilnya itu tanpa berniat membantu.
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, Damar beranjak dan membukanya, ternyata Riko yang datang.
"Selamat pagi, Pak." Riko menundukkan kepala memberi hormat.
"Selamat pagi, Ko. Masuk!"
Riko melangkah masuk sambil celingukan, "Sera mana, Pak?"
"Lagi beresin kamar," jawab Damar asal.
Riko mengulum senyum, dan Damar memergokinya.
"Pasti kamu berpikir yang tidak-tidak, kan?" tuduh Damar.
Riko menggeleng cepat, "Tidak, Pak."
"Lalu kenapa kamu senyum-senyum begitu?"
"Memangnya saya tidak boleh tersenyum?" Riko balik bertanya.
"Eh, ada Mas Riko!" sapa Sera yang baru keluar dari kamar, membuat Damar berhenti mengomeli Riko.
"Hai, Sera. Selamat pagi." Riko melambaikan tangannya.
"Selamat pagi, Mas," balas Sera ramah, "Mas, sudah sarapan?"
Riko mengangguk, "Sudah, kok."
Sera tersenyum manis, lalu beralih memandang Damar yang berdiri di samping Riko, "Kalau begitu aku mandi dulu, ya?"
"Iya." sahut Damar singkat.
Sera bergegas masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil handuk dan pakaian gantinya.
"Anda tidak tergoda dengan Sera, Pak?" Tanya Riko penasaran.
Damar sontak menatap bawahannya itu, "Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Kalian kan tinggal bersama, apa anda yakin bisa menahan diri?"
"Sebelumnya kami juga tinggal bersama dan tidak terjadi apa-apa, kok. Kenapa sekarang kamu nanyain hal itu?"
"Pak, sebelumnya kalian tidak ada ikatan apa-apa, tapi sekarang anda dan Sera itu suami istri yang sah, kalian halal untuk berhubungan badan. Saya khawatir anda tergoda padanya dan tidak bisa menahan diri," ujar Riko mengingatkan.
Damar tertegun mendengar kata-kata Riko, dia kembali teringat badan belakang Sera yang putih mulus dan bibir merah yang sempat membuatnya tergoda semalam.
Damar tersentak dan spontan menepuk punggung belakang Riko, "Jangan sembarang kalau bicara! Biarpun begini, aku masih bisa mengendalikan diri. Kamu kan tahu aku dan Sera terpaksa menikah, aku juga sudah menganggapnya seperti anak sendiri, jadi mana mungkin aku berpikiran macam-macam tentang dia. Dasar pikiran kamu saja yang kotor!"
Riko terkekeh geli melihat Damar berbicara dengan bersungut-sungut, padahal tadi dia hanya bercanda untuk menggoda atasannya itu.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Saya hanya bercanda tadi, Pak. Anda serius banget menanggapinya," sahut Riko sambil tertawa.
"Dasar bawahan kurang ajar!" Damar meninju lengan Riko dengan wajah masam.
Riko kembali tergelak sambil memegangi lengannya, Damar memang sengaja membantah tuduhan Riko itu sebab tak ingin bawahannya tersebut tahu perasaannya yang mulai tdiak beres saat berdekatan dengan Sera.
***
Damar dan Sera pulang ke rumah, meninggalkan Riko di apartemen bersama orang-orang wedding organizer yang sedang membongkar dekorasi pernikahan mereka.
Begitu masuk ke dalam rumah, Lusi dan Erick langsung menyambut mereka dengan riang.
"Selamat datang pengantin baru, selamat datang menantu Mama." Lusi memeluk Sera.
"Akhirnya kalian datang juga, dari tadi Mama sudah tidak sabar menunggu kalian," ujar Erick.
Lusi melepas pelukannya lalu menggamit lengan Sera, "Iyalah, Mama kan ingin menunjukkan sesuatu pada anak dan menantu Mama ini."
"Sesuatu apa, Ma?" tanya Damar penasaran.
"Yuk, ikut Mama!" Lusi mengajak semua orang ke ruang makan.
"Ini dia! Mama dan Yuni sudah masak semua masakan kesukaan kalian." Lusi menunjuk hidangan-hidangan di atas meja makan.
Yuni yang berdiri di dekat meja makan tersenyum menyambut mereka.
"Wah, banyak banget!" seru Sera.
"Iya, semua ini kami buat untuk menyambut menantu Mama yang cantik ini." Lusi mencolek dagu Sera, membuat pipi gadis itu merona.
"Buat menyambut menantu saja ini?" ledek Damar.
"Buat menyambut anak Mama yang ganteng ini juga, dong," sahut Lusi, lalu mengecup pipi Damar.
"Sudah-sudah, mari kita makan! Papa sudah lapar banget," tukas Erick yang langsung duduk di kursinya dan mengambil makanan.
"Papa, sabar dulu!" tegur Lusi.
"Dari tadi Papa sudah kelaparan, Mama. Kalau Mama masih mau berbasa-basi, silakan! Papa makan duluan." Erick segera menyantap makanan di hadapannya.
"Papa, ih!" Lusi kesal melihat suaminya itu.
"Aku juga mau makan, ah!" Damar ikut-ikutan mengambil posisi lalu mengisi piringnya dengan makanan.
"Damar! Kamu ini sama saja!" Lusi semakin cemberut.
"Aku juga lapar, Ma," seloroh Damar yang sengaja ingin menggoda sang mama.
Sera dan Yuni tertawa melihat tingkah ketiga orang itu.
"Ya sudahlah, kalau begitu kita makan saja." Lusi merajuk, "Yuk, Sera!"
Sera mengangguk, "Iya, Tante."
"Jangan panggil Tante, dong," protes Lusi, "panggil Mama saja, kan sekarang kamu sudah menjadi istrinya Damar."
Sera dan Damar saling pandang.
"Panggil Papa juga, jangan Om lagi," sela Erick dengan mulut yang penuh.
Sera memaksakan senyuman, "I-iya, Ma, Pa."
Mereka pun makan siang bersama sambil mengobrol dan bercengkrama, sesekali Erick bercanda dan mengundang tawa semua orang. Keluarga ini sangat hangat dan menyenangkan, Sera merasa sangat bahagia.
***