My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 81.



Di dalam kamar Damar melepaskan lengan Sera dan menatap gadis itu penuh amarah.


"Kenapa kamu bohong?" tanya Damar tanpa basa-basi.


Sera tertunduk takut, "A-aku hanya tidak mau Om dan semua orang berpikir macam-macam tentangku, aku takut kalian salah paham."


"Justru seperti ini yang akan membuat orang lain berpikiran macam-macam tentang kamu!" bentak Damar.


Sera semakin ketakutan, dia tak tahu harus berkata apa untuk membela diri, dia hanya bisa menangis terisak-isak.


"Om kecewa padamu, selama ini Om pikir kamu gadis yang baik dan jujur, makanya Om selalu percaya padamu. Tapi nyatanya kamu itu pembohong!" sambung Damar.


Sera menatap Damar dengan mata yang basah, "Aku minta maaf, Om. Tapi aku berani bersumpah, hanya itu kebohongan yang aku lakukan, tidak ada lagi."


"Om tidak percaya lagi padamu!" ujar Damar lalu pergi meninggalkan Sera yang hanya bisa menangis.


Damar sungguh kecewa karena Sera berbohong padanya tentang Dafi, ditambah lagi dia harus melihat Dafi mencium Sera dan mendengar kenyataan jika sang putra masih mencintai gadis itu, sungguh perasaannya menjadi campur aduk saat ini.


Sedikitpun dia tak pernah berpikir akan menikahi mantan kekasih putranya sendiri. Bagaimana jika orang lain tahu hal ini?


Damar benar-benar tak bisa berpikir dengan jernih, dia bingung harus bagaimana?


Dengan perasaan marah dan kalut, Damar meninggalkan rumah. Bahkan dia tidak menegur Dafi sama sekali saat mereka berpapasan di tangga.


Dafi tahu ayahnya itu pasti marah, tapi dia tidak merisaukannya. Saat ini dia lebih mencemaskan Sera, dia takut gadis itu semakin membencinya karena kejadian ini.


Dengan perlahan Dafi berjalan menghampiri Sera yang masih tertunduk sambil menangis terisak-isak, gadis itu merasa sedih dan kesal. Dia tak menyangka semuanya harus terbongkar dengan cara seperti ini, hingga membuat Damar begitu marah padanya.


"Sera."


Sera menoleh dan menatap sinis Dafi yang berdiri di ambang pintu kamar, "Puas kau, ha? Puas karena kau sudah membuat kekacauan ini?"


"Aku minta maaf."


"Apa kau pikir semua masalah selesai dengan minta maaf? Kenapa kau tidak memikirkan perasaan orang lain?" sungut Sera kesal.


"Sera, aku juga tidak tahu kalau Papa pulang, aku terbawa emosi tadi," sangkal Dafi.


"Cukup, Daf!" bentak Sera, "aku tidak mau mendengar apa pun lagi!"


Sera membanting pintu kamar dengan keras.


Dafi hanya termangu di depan pintu dengan perasaan tak menentu, dia semakin menyesali perbuatannya.


***


Dengan berlinang air mata, Sera memasukkan pakaian dan barang-barangnya ke dalam koper, dia sudah memutuskan untuk pergi dari rumah Damar sebab merasa malu dan bersalah.


Sera berpikir mungkin inilah saatnya dia dan Damar harus berpisah, lagipula Dafi sudah terlanjur mengetahui semua sandiwara mereka, buat apa lagi dia tetap di sini dan berpura-pura?


Sera meletakkan kartu ATM yang berisi semua uang pemberian Damar di meja hias, dia lalu melepaskan cincin kawin mereka dan meninggalkannya di atas kartu tersebut.


"Maafkan aku, Om. Terima kasih banyak untuk semuanya," ucap Sera sambil mengusap air matanya.


Dia pun keluar dari kamar Damar sembari menarik kopernya, namun ternyata Dafi memergoki semua itu dan berusaha menahannya.


Sera tak menjawab, dia melangkah tergesa-gesa menuju tangga.


"Sera, tunggu!" Dafi berusaha menarik lengan Sera, tapi mantannya itu langsung memberontak melepaskannya.


"Belum cukup kau merusak hidupku? Apa lagi mau mu sekarang?" hardik Sera.


"Ra, aku tidak ada maksud begitu, aku hanya khawatir padamu," bantah Dafi.


"Cukup! Stop pura-pura baik dan peduli padaku! Jangan ganggu aku lagi!" bentak Sera, kemudian bergegas menuruni anak tangga.


Tapi rupanya Dafi tak ingin tinggal diam, dia kembali mengejar dan menahan kepergian Sera, dia menarik koper Sera hingga langkah gadis itu terhenti.


"Kalau begitu biar aku antar ke manapun kamu mau pergi."


"Tidak perlu!" Sera berusaha melepaskan tangan Dafi dari kopernya, tapi lelaki itu justru semakin kuat memeganginya.


Sera menatap tajam Dafi, "Lepaskan!"


"Aku tidak mau, aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendiri."


"Aku bilang lepaskan!" jerit Sera, dia berusaha melepaskan kopernya dari tangan Dafi.


Yuni yang mendengar suara jeritan Sera langsung berlari dari dapur.


Dafi tak mau mengalah, dia dan Sera akhirnya rebutan koper. Namun apes, kaki Dafi terpeleset hingga dia jatuh berguling-guling di tangga.


Sera dan Yuni terperangah sambil menjerit panik.


"Dafi!"


Tubuh Dafi akhirnya tergeletak di lantai dengan kepala dan hidung yang berdarah, dia tak sadarkan diri.


Sera dan Yuni langsung menghampiri Dafi dengan perasaan takut bercampur cemas.


"Dafi bangun!" Sera menepuk-nepuk pipi Dafi


"Bagaimana ini?" Yuni panik.


"Eonni, cari bantuan!" pinta Sera.


"Iya-iya." Yuni sontak menghubungi ambulance dan juga Damar.


Sementara itu, Damar yang tengah galau dan kecewa kini sedang duduk melamun di sebuah bar. Dia ingin menenangkan diri dan pikirannya, serta sejenak mengalihkan rasa marahnya pada Sera.


Beberapa kali ponselnya bergetar di dalam saku celana, tapi dia abaikan begitu saja. Saat ini dia benar-benar sedang malas bicara dengan siapa pun.


Namun karena getaran itu terus mengganggunya, Damar akhirnya mengeluarkan benda pipih itu dari sakunya dan terkesiap melihat enam panggilan tak terjawab dan sebuah pesan dari Yuni. Karena penasaran, dia pun membuka pesan itu.


Mata Damar seketika melotot kaget saat membaca isi pesan itu yang mengatakan jika Dafi jatuh dari tangga dan dilarikan ke rumah sakit.


Dengan panik dan cemas, Damar buru-buru meninggalkan bar itu sambil menghubungi Yuni kembali untuk memastikan keadaan putranya.


***