My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 105.



Dafi kembali ke rumah sakit sambil membawa bungkusan, dia membeli nasi goreng dan ceker mercon kesukaan Sera. Namun ternyata gadis itu sudah tertidur meringkuk di sofa, Dafi merasa kasihan pada Sera, dia tahu gadis itu pasti kedinginan.


Dafi pun melepaskan jaketnya lalu menutup tubuh kurus Sera, tapi ternyata perbuatannya itu membuat Sera tersentak dan bangun.


"Dafi?" Sera sontak duduk saat melihat mantannya itu, dia sempat tertegun ketika menyadari jaket Dafi menutupi sebagian tubuhnya.


"Maaf-maaf, aku tidak bermaksud membangunkan mu. Kamu sepertinya kedinginan, makanya aku pinjamkan jaket ku," terang Dafi sebelum Sera salah paham.


"Tidak apa-apa, Daf. Terima kasih, ya."


Memang Sera akui di ruangan itu sangat dingin dan tidak ada selimut yang bisa dia gunakan.


Dafi tersenyum dan mengangguk. Sejak kejadian penikaman itu, hubungan keduanya mulai membaik. Mereka tidak lagi bertengkar dan saling sindir seperti sebelumnya.


"Kamu pasti belum makan, kan?" tebak Dafi dan Sera menggeleng.


"Sama, aku juga belum. Kalau begitu sekarang kita makan sama-sama, aku beli nasi goreng dan ceker mercon kesukaan kamu di warung langganan kita dulu," ujar Dafi sambil membongkar bungkusan yang dia bawa.


Sera lagi-lagi tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut Dafi, dia bergeming memandang mantannya itu dengan tatapan sendu.


Dafi yang menyadarinya seketika menoleh ke arah Sera, dia tahu gadis itu pasti berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.


"Ra, aku tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin membelikan makanan kesukaan kamu, itu saja! Percayalah!" Dafi berusaha meyakinkan Sera agar tidak salah sangka.


Sera masih bergeming menatap Dafi, membuat lelaki itu merasa semakin tidak enak hati.


"Ra, aku kan sudah bilang kalau aku rela dan ikhlas kamu bersama Papa, aku tidak akan memaksamu untuk balikan denganku lagi. Aku bersumpah, Ra! Jadi tolong jangan berpikiran macam-macam!" sambung Dafi.


Sera memalingkan wajahnya dan menatap Damar yang tertidur pulas, dia bingung harus berkata apa sebab dia sendiri masih belum yakin dengan perasaannya saat ini.


"Aku sadar sudah menyakiti mu dan menjadi masa lalu yang buruk untukmu, kamu pantas membenciku," lanjut Dafi, dia tertunduk sedih dan menyesal, "aku minta maaf untuk semua yang sudah aku lakukan, dan aku berharap suatu saat kamu mau memaafkan aku dan kita bisa berteman."


Hati Sera mendadak diliputi rasa sedih, dengan cepat cairan bening memenuhi pelupuk matanya. Dia memang pernah sangat sakit dan membenci Dafi, tapi entah mengapa saat ini dia justru kasihan pada lelaki itu, tak ada lagi rasa marah ataupun benci di hatinya.


"Aku juga minta maaf," ucap Sera pelan.


"Aku minta maaf karena sudah bersikap kasar, aku bahkan pernah sangat membencimu. Tapi sekarang aku sadar, apa pun yang aku lakukan, tidak akan mengubah yang telah terjadi. Masa lalu dan kejadian menyakitkan itu sudah seharusnya aku kubur dalam-dalam, aku tidak ingin terus hidup di dalam kebencian dan amarah. Aku harus move on dan menata kembali masa depanku." Sera berbicara sembari mengusap air matanya.


Dafi terharu, rasa sesal dan bersalah masih tersimpan di dalam hatinya, tapi dia juga tak ingin terus-terusan hidup dalam bayang-bayang Sera. Dia juga harus move on dan menjemput masa depannya, meski harus merasakan sakit yang teramat sangat saat merelakan gadis itu menjadi milik sang ayah. Tapi dia akan berusaha untuk ikhlas, dia ingin Damar dan Sera hidup bahagia.


"Aku mengerti, aku tidak marah bahkan jika seumur hidup kamu ingin membenciku. Aku memang pantas mendapatkannya, aku pantas untuk dibenci."


Sera menggeleng, "Tidak, Daf. Aku tidak akan melakukan itu, karena bagaimanapun kamu orang yang pernah sangat aku cintai. Terima kasih untuk tiga tahun yang indah, walaupun kita harus berakhir dengan menyakitkan."


Dafi tersenyum kecut.


"Tapi kamu orang yang masih sangat aku cintai sampai detik ini," ucap Dafi dalam hati.


Sera menghela napas, dia merasa lega dan tenang karena sudah berhasil membuang perasaan benci dan marahnya terhadap Dafi.


"Aku harap kita masih bisa berteman baik," imbuh Dafi penuh harap.


Sera tersenyum menanggapi ucapan pemuda itu.


"Sudah, ah! Berhenti bicara yang sedih-sedih, entar aku nangis." Dafi mengalihkan pembicaraan, dia tak ingin kembali larut dalam rasa sakit dan sesalnya.


"Memangnya kamu bisa nangis juga?" ledek Sera.


"Bisa ,dong! Aku kan juga manusia, punya rasa punya hati, jangan samakan dengan pisau belati." Dafi malah bersenandung.


Sera tertawa mendengar Dafi bernyanyi.


"Sudah-sudah, nanti Papa bangun. Sekarang kita makan, nasi gorengnya sudah dingin ini." Dafi langsung menyantap nasi goreng bawaannya, meskipun ada rasa sesak di dalam hatinya.


Sera dan Dafi pun makan sambil sesekali bercengkrama, keduanya benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka agar lebih baik dan membuang masa lalu yang menyakitkan itu.


***