My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 9.



Sera dan Yuni berangkat ke rumah sakit dengan menaiki taksi online, sebenarnya begitu mendapatkan telepon dari Yuni tadi, Damar langsung putar balik, tapi dia terjebak macet karena ada kecelakaan lalulintas. Alhasil, dia menyuruh kedua wanita itu pergi duluan, dan dia akan menyusul.


Yuni berjalan dengan tergesa-gesa sambil mendorong kursi roda Sera, gadis itu tak berhenti menangis sejak mendapatkan kabar jika sang ibu masuk rumah sakit, dia benar-benar takut terjadi sesuatu pada wanita kesayangannya itu.


"Eonni, buruan!" desak Sera tidak sabar, dia berulang kali mengusap air matanya yang tak mau berhenti.


"Iya, ini juga sudah cepat."


Dari kejauhan Sera dapat melihat Heru sedang berdiri di depan ruang UGD sambil menelepon seseorang, tak ada raut sedih ataupun cemas, lelaki tidak tahu diri itu terlihat tenang.


"Itu ayahku." Sera menunjuk Heru.


"Jadi sekarang bagaimana? Kamu tetap ingin ke sana?" Yuni memastikan sebab dia tahu Sera takut pada ayah tirinya itu.


"Iya, Eonni. Aku ingin melihat ibu."


Yuni pun terus mendorong kursi roda Sera mendekati Heru, lelaki itu menoleh ke arah keduanya dan terperanjat.


"Kau?" Heru melihat Sera dan kakinya, "bagaimana kau bisa ada di sini?"


"Itu tidak penting, sekarang aku ingin melihat ibu."


Merasa tidak senang dengan sikap Sera, Heru sontak menatap tajam anak tirinya itu, "Berani sekali kau datang ke sini untuk melihat ibumu setelah kau kabur dari rumah dan membuat dia sakit. Ini semua gara-gara kau!"


Sera tercengang mendengar Heru menyalahkannya, begitu juga dengan Yuni.


"Aku kabur dari rumah gara-gara ayah, jadi ini salah ayah!" balas Sera tak mau kalah.


"Berani sekali, kau!" Heru yang temperamental merasa tersinggung dengan ucapan Sera, dia spontan mengangkat tangannya hendak memukul gadis itu, namun Damar datang tepat waktu dan langsung menahan tangannya sebelum menyentuh Sera.


"Jauhkan tanganmu dari dia!" pinta Damar tegas, dia menatap Heru dengan sorot mata tajam.


"Om Damar?"


"Oppa?"


Sera dan Yuni terkejut melihat kedatangan Dirga.


"Lepaskan tanganku dan jangan ikut campur!" Heru berusaha melepaskan cekalan tangan Damar, tapi tidak bisa.


Seorang dokter wanita keluar dari ruang UGD, membuat Damar terpaksa harus melepaskan cengkeramannya pada lengan Heru.


"Keluarga pasien yang bernama Milawati?"


"Iya, saya anaknya, Dok."


"Saya suaminya."


Jawab Sera dan Heru bersamaan, di situ Damar tahu jika pria di hadapannya itu adalah ayah tiri Sera, membuat emosinya seketika naik, tapi dia berusaha menahan diri.


"Maaf, kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi nyawa pasien tidak bisa diselamatkan," ungkap dokter itu dengan wajah penuh duka, "kami turut berbelasungkawa."


Sera tertegun, bagai disambar petir rasanya mendengar kabar kematian sang ibu. Air matanya jatuh tak tertahankan, sakit dan hancur, itulah yang kini dia rasakan.


Begitu pun dengan Damar dan Yuni yang ikut merasakan duka itu, sementara Heru hanya terdiam. Ada sedikit rasa sedih di hati lelaki pengangguran itu, lebihnya adalah perasaan lega karena yang menjadi bebannya kini tiada lagi.


"Silakan."


Damar mengambil alih kursi roda itu dan mendorong Sera masuk ke dalam ruang UGD, Heru pun ikut masuk, kecuali Yuni yang tetap menunggu di luar.


Sera membuka kain putih yang menutupi wajah Mila, tangisnya langsung pecah begitu melihat wajah pucat sang ibu yang sudah terbujur kaku. Sedangkan Heru hanya bergeming menatap jenazah sang istri, tak ada setetes air mata pun yang jatuh.


"Ibu!" Sera histeris sambil memeluk Mila, "kenapa ibu meninggalkan aku? Kenapa, Bu?"


Damar mengusap pundak Sera, "Kamu yang sabar, ya. Ikhlaskan ibumu."


"Aku belum sempat membahagiakan dia, Om. Aku menyesal meninggalkan dia begitu saja," racau Sera lirih.


"Memang ini salahmu!" sela Heru tiba-tiba, "kau penyebab kematian ibumu."


"Tutup mulutmu, bajingan!" bentak Damar, dia mendekati Heru lalu memukul pria itu sampai tersungkur ke lantai.


"Sudah, Om! Aku mohon, sudah!" jerit Sera panik.


"Aku peringatkan, jangan pernah menyentuh dan menyakiti Sera lagi, atau kau akan menyesal," ancam Damar penuh emosi.


Heru hanya terdiam memegangi wajahnya yang sakit bekas pukulan Damar, dia tak menyangka akan mendapatkan bogem mentah dari lelaki itu. Heru kemudian beranjak dan meninggalkan ruang UGD, tapi hatinya bertanya-tanya siapa lelaki itu dan bagaimana Sera bisa mengenalnya?


Damar kembali menghampiri Sera dan berjongkok di hadapan gadis itu, "Om minta maaf karena tidak bisa menahan emosi."


Sera hanya mengangguk sambil terisak-isak, tanpa di duga Damar malah memeluk gadis itu dan mengusap punggung belakangnya.


"Aku tidak punya siapa-siapa lagi, Om. Ibu dan Ayah kandungku sudah pergi meninggalkan aku."


"Kamu masih punya Om dan Yuni, kami akan menemanimu."


Sera kembali menangis di dalam pelukan Damar, hatinya benar-benar sedih. Dia tak pernah menyangka sang ibu akan pergi secepat ini dan dia tak ada di saat-saat terakhir sang ibu.


Jenazah Mila akhirnya dibawa pulang ke rumah duka. Rumah sederhana itu sudah ramai dipadati para tetangga dan teman-teman Sera, tangis pun pecah saat jenazah Mila yang terkenal baik dan ramah itu dikeluarkan dari dalam mobil ambulans. Namun kemudian perhatikan semua orang tertuju pada Sera yang datang bersama Damar dan Yuni, desas-desus pun mulai terdengar, semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi pada gadis itu sehingga dia harus menggunakan kursi roda dan siapa dua orang yang bersamanya?


Mereka begitu penasaran, tapi tak mungkin menanyakan hal itu dia saat seperti ini.


Kerabat jauh Sera mulai berdatangan setelah mendapatkan kabar kematian Mila, mereka memeluk Sera yang kini menjadi yatim piatu.


"Yang sabar, ya, Nak. Ikhlaskan ibu kamu," ucap seorang wanita yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Mila.


Sera hanya mengangguk, air matanya terus jatuh menetes. Dia tak sanggup lagi berkata-kata saking sedihnya, saat ini dia hanya bisa menangis dengan pilu.


Dari sekian banyak orang, tak tampak Heru ada di sana, entah ke mana perginya lelaki tak bertanggung jawab itu. Dia benar-benar tak peduli orang akan berkata apa tentangnya.


Kini Sera hanya bisa meratapi kepergian sang ibu, tiada lagi sosok lembut yang sangat dia sayangi itu. Semua hanya tinggal kenangan, yang akan dia simpan sampai mati.


Damar semakin iba kepada gadis malang itu, diusianya yang masih belia, dia harus menghadapi musibah memilukan yang datang bertubi-tubi. Bahkan Yuni sampai tak kuasa menahan tangisnya, dia juga merasa prihatin dan kasihan atas apa yang menimpa Sera.


Tak lama kemudian, Riko pun datang setelah tadi Damar sempat menghubunginya dan mengabarkan berita duka ini. Damar meminta bawahannya yang paling bisa diandalkan itu untuk mengurus pemakaman ibunda Sera. Seperti biasa Riko yang patuh akan mengerjakan perintah atasannya itu.


***