My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 63.



Damar mengajak Sera makan malam di sebuah restoran yang sangat romantis, lantunan musik mendayu-dayu lembut, ditambah lilin-lilin yang menghiasi setiap meja, menambah kesan sentimental. Apalagi restoran itu berada di luar ruangan dan berbatasan langsung dengan kanal yang juga sangat indah di malam hari, sungguh menyentuh hati.


"Restorannya benar-benar bagus!" puji Sera dengan wajah sumringah.


"Kamu suka?" tanya Damar.


Sera mengangguk dengan antusias, "Suka, Om. Suka banget!"


Damar tersenyum memandangi Sera, hatinya merasa hangat tatkala melihat gadis itu bahagia.


"Om kenapa senyum-senyum sendiri?" tegur Sera.


Senyum Damar langsung hilang, "Tidak, tidak apa-apa."


Sera bingung melihat tingkah aneh suaminya itu.


Damar memanggil waiters lalu memesan makanan untuk mengalihkan situasi.


Sambil menunggu pesanannya datang, Damar pun bermain ponsel, sementara Sera hanya memperhatikan lelaki di hadapannya itu.


"Om!"


"Hem." Damar berdeham tanpa memandang Sera.


"Ada yang mau aku tanyakan, tapi Om jangan marah, ya?"


"Iya, kamu mau tanya apa?"


"Kenapa Om berpisah dengan mantan istri Om?" Takut-takut Sera bertanya.


Damar tercenung mendengar pertanyaan Sera, dia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan itu dari sang istri.


Melihat Damar terdiam, Sera jadi merasa tidak enak, "Maaf, kalau aku lancang dan usil, Om. Aku cuma ingin tahu saja."


Damar menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan nya, "Tidak apa-apa, tapi Om rasa kamu tidak perlu tahu. Itu masa lalu Om, jadi biar Om simpan sendiri."


Wajah Sera berubah masam, "Ya sudah kalau aku tidak boleh tahu."


Damar hanya memandang Sera tanpa membalas perkataan gadis itu. Dia terlalu malas untuk mengingat dan mengulang kembali cerita masa lalunya yang menyakitkan itu, dia juga tak ingin Sera tahu aib serta kesalahan yang telah dia dan Anggi lakukan.


Pesanan mereka akhirnya datang, dan keduanya pun makan dalam diam. Sejujurnya Sera penasaran dengan masa lalu Damar dan mantan istrinya, dia heran mengapa Dafi begitu membenci sang ayah, sampai-sampai menganggapnya tidak ada.


Sementara itu di Jakarta, Dafi sedang berbaring menatap langit-langit kamar kostnya, meskipun hari sudah larut malam, namun rasa kantuk belum kunjung datang. Dia masih memikirkan semua cerita dan rahasia mengejutkan yang disampaikan Ferdi tadi, ada rasa senang dan sedih sekaligus di dalam benaknya. Dia senang karena mengetahui jika sebenarnya Sera dan Damar tidak saling mencintai, mereka hanya terpaksa menikah. Tapi dia sedih saat mengingat kenyataan jika Sera tetaplah istri sah sang ayah, dan ada kemungkinan akan tumbuh rasa cinta di antara mereka. Sungguh dia tidak rela itu terjadi.


"Aku harus pisahkan mereka, aku tidak mau akhirnya mereka saling jatuh cinta," ujar Dafi.


"Sera, aku akan merebut hatimu kembali, aku akan buat kamu dan Papa mengakhiri semua ini sebelum kalian jatuh cinta satu sama lain," lanjut Dafi penuh keyakinan.


Dia tahu Sera bukan wanita gampangan, selama tiga tahun mereka pacaran, Sera tidak mau dia 'sentuh' sama sekali, mereka hanya sebatas berciuman saja. Apalagi dengan Damar yang hanya berpura-pura, Sera pasti menolak jika sang ayah ingin 'menyentuhnya'.


***


Sehabis makan malam nan romantis, Sera dan Damar kembali ke hotel. Wajah Sera sudah terlihat biasa saja, meskipun hatinya masih kesal karena Damar menolak untuk menceritakan masa lalunya.


Sera masuk ke kamar mandi, dia mencuci muka dan berganti pakaian. Begitu selesai, dia langsung merebahkan diri di atas kasur empuk itu sambil bermain ponselnya.


Damar juga berganti pakaian, kemudian mencari sesuatu di lemari, namun yang dia cari tidak ada. Damar pun melangkah mendekati ranjang lalu mengambil sebuah bantal dan meletakkannya di atas lantai yang hanya beralaskan karpet.


"Om tidurnya kok cuma pakai karpet doang?" protes Sera.


"Di sini tidak ada bed cover, jadi mau tak mau tidur di karpet saja," jawab Damar.


"Bukannya bisa minta tambahan bed cover pada pihak hotel?" cetus Sera sok tahu.


"Sudahlah, di sini saja."


"Tapi pasti nanti badan Om sakit lagi. Waktu itu saja di alas bed cover sakit, apalagi hanya ada karpet."


"Jadi Om mau tidur di mana lagi? Di sini juga tidak ada sofa, yang ada cuma itu." Damar menunjuk dua buah kursi tamu single.


Sera melirik kursi itu, lalu kembali memandang Damar yang sudah berbaring, dia merasa tidak tega kalau harus membiarkan lelaki itu tidur di sana, sementara dia enak-enak tidur di kasur.


Saat ini, hanya ada satu tempat yang bisa ditiduri oleh Damar, yaitu kasur yang sama dengannya. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Sera memutuskan untuk mengajak Damar tidur seranjang.


"Ya sudah, Om tidur di sini saja!" Sera menepuk kasur di sebelahnya.


Damar terkesiap, dia tak menyangka Sera akan mengizinkannya untuk tidur di satu ranjang, padahal sebelumnya gadis itu menolak untuk tidur bersama.


Damar menautkan kedua alisnya, "Kamu serius?"


"Iya, Om. Aku tidak tega membiarkan Om tidur cuma beralas karpet doang," sahut Sera.


Damar tersenyum senang.


"Tapi Om jangan macam-macam!" Sera memperingatkan dengan tegas.


Senyum Damar langsung hilang, "Iya-iya. Takut banget, sih!"


"Takutlah! Om itu laki-laki dan aku perempuan, bisa bahaya kalau tidur berdekatan."


"Tapi Om bukan laki-laki gampangan!" sanggah Damar.


"Tidak gampangan tapi mesum!"


"Kalau Om itu mesum, kamu udah Om ajak bercocok tanam. Biar bagaimana pun kita itu kan suami istri yang sah, halal."


"Memangnya aku petani apa? Diajak bercocok tanam," gerutu Sera.


Damar sontak tertawa. Dia kemudian beranjak dan pindah ke atas ranjang, dan Sera buru-buru menyusun bantal sebagai pembatas antara mereka.


"Kenapa bantalnya diletakkan di sini?" tanya Damar pura-pura tidak tahu.


"Ini batas, biar Om tidak bisa dekat-dekat dengan aku," jawab sera kemudian berbaring dan berbalik membelakangi sang suami.


Damar terkekeh, dia pun ikut merebahkan tubuhnya lalu mengembuskan napas, entah mengapa saat ini hatinya merasa berbunga-bunga. Dia menoleh ke arah Sera dan tersenyum.


"Selamat malam, Jora. Selama tidur."


"Selamat malam, Om."


***