My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 32.



Keesokan harinya di kampus, Dafi sedang duduk melamun di dalam kelasnya, dia masih memikirkan kata-kata Lusi kemarin tentang papa dan mamanya. Tiba-tiba Luna datang mengagetkan Dafi dan membuyarkan lamunannya.


"Hai, sayang! Kamu ke mana saja, sih? Kemarin aku ke kost-kostan, kamu tidak ada. Aku telepon, juga tidak dijawab. Kamu marah?" cecar Luna sambil memeluk Dafi dari belakang.


"Aku sedang ingin sendiri, Lun," jawab Dafi malas, dia bahkan sama sekali tidak melirik kekasihnya itu.


"Kenapa? Kamu lagi ada masalah? Cerita, dong!"


"Tidak ada masalah, aku cuma lagi ingin sendiri saja," ujar Dafi sembari melepaskan tangan Luna yang memeluk tubuhnya.


Luna merasa sedikit kesal dengan sikap Dafi itu, sejak kecelakaan dan mereka berbaikan, kekasihnya tersebut jadi berubah, tidak lagi manis dan hangat seperti sebelumnya.


"Ya sudah, deh. Padahal ada yang mau aku tunjukkan tentang mantan kamu itu, tapi berhubung kamu lagi ingin sendiri, tidak jadi." Luna sengaja memancing reaksi sang kekasih.


Dafi sontak berbalik memandang ke arah Luna dengan penasaran, "Maksudmu tentang Sera? Ada apa dengannya?"


Luna seketika merasa cemburu dan semakin kesal karena ternyata Dafi masih sangat peduli dengan Sera, tapi dia berusaha menguasai diri agar tidak terbakar emosi.


Luna menyodorkan ponselnya ke hadapan Dafi, "Lihat ini!"


Dafi mengerutkan keningnya memperhatikan foto sepasang pria dan wanita yang diambil dari belakang, dia tidak mengenalnya karena wajah keduanya tidak terlihat.


"Siapa ini?" tanya Dafi memastikan.


"Itu mantan kamu dan sugar Daddy nya, kemarin aku lihat mereka belanja bareng di mall." Luna menjelaskan apa yang dia lihat.


Dafi tercengang, tentu dia tahu maksud Luna, "Sugar Daddy?"


"Iya, pria yang bersamanya terlihat berumur dan mapan, apa lagi namanya kalau bukan sugar Daddy?"


Dafi menggeleng dan membantah, "Tidak mungkin Sera seperti itu, dia gadis baik-baik. Dia bukan gadis materialistis."


"Buktinya sudah jelas, tidak mungkin kan itu teman atau saudaranya?"


"Kamu pasti salah!" sahut Dafi, kemudian menatap Luna dengan penuh selidik, "atau jangan-jangan kamu sedang membohongi aku?"


"Daf, tega kamu menuduh aku seperti itu! Aku berani bersumpah kalau itu benar-benar mantan kamu," sungut Luna kesal karena Dafi menuduhnya berbohong.


Dafi kembali bergeming, hatinya benar-benar tidak bisa menerima apa yang Luna sampaikan ini.


"Di jaman sekarang ini apa yang tidak mungkin, sih? Demi uang, orang terkadang rela melakukan apa saja, termasuk menjual diri," lanjut Luna menohok.


"Sera bukan orang seperti itu!" bantah Dafi tak terima.


"Dafi .... Dafi, kamu tertipu dengan tampang polosnya! Gadis yang kamu anggap lugu itu sekarang sudah berubah menjadi liar dan murahan," kecam Luna sinis.


"Diam kau!" bentak Dafi emosi, membuat Luna terperanjat kaget.


"Kamu bentak aku hanya demi membela mantanmu itu? Keterlaluan kamu, Daf!" Luna berlari pergi dengan berlinang air mata.


Dafi mengembuskan napas, dia sungguh tak bisa percaya begitu saja dengan apa yang dia dengar, bahkan dia tak terima Luna menghina Sera karena dia tahu sang mantan bukan wanita seperti itu.


"Ini pasti tidak benar, aku harus cari tahu!" Dafi bergegas keluar dari kelas, dia berlari ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya, kemudian melesat pergi.


Dari kejauhan Luna memandangi kepergian Dafi dengan perasaan kesal dan sedih, dia pikir setelah Dafi putus dari Sera, Dafi akan melupakan gadis tersebut. Tapi nyatanya sampai detik ini kekasihnya itu masih peduli dan menyayangi sang mantan.


"Kamu tega sama aku, Daf!" gumam Luna dengan air mata berlinang.


"Kenapa kamu menangis?" tanya seorang pria tiba-tiba.


Luna buru-buru mengusap air matanya lalu berbalik memandang pria yang berdiri di belakangnya itu.


***