My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 100.



Dafi sedang berdiri di sisi Damar, memandangi wajah pucat sang ayah dengan perasaan pilu. Ruangan ICU itu terasa dingin dan sunyi, hanya terdengar suara monitor yang menunjukkan garis naik turun, pertanda masih ada kehidupan dari lelaki yang pernah sangat dia benci itu.


"Pa, bangun! Aku mohon, Pa," pinta Dafi dengan air mata berlinang.


"Aku akan merasa bersalah dan membenci diriku seumur hidup kalau Papa tidak bangun, karena aku penyebab semua ini." Dafi tertunduk dan menangis sesenggukan, hatinya dipenuhi rasa sesal atas semua yang dia lakukan dan terjadi.


Tak ada respon sama sekali dari Damar, dia masih bergeming seperti sebelumnya.


"Tadinya aku berpikir dengan meminta Mama tinggal bersama kita, itu bisa membantuku memisahkan Papa dari Sera, tapi ternyata semua itu justru membuat Papa jadi seperti ini. Aku minta maaf, Pa. Aku minta maaf." Dafi menangis sejadi-jadinya, dia bahkan sampai berlutut di sisi ranjang Damar dan tertunduk menyesal.


Kali ini Damar merespon, tanpa Dafi sadari setetes cairan bening jatuh dari mata Damar yang masih tertutup rapat.


"Pa, bangunlah! Aku berjanji jika Papa bangun, aku akan merelakan Sera, aku ikhlaskan dia untuk Papa, karena aku tahu Papa mencintainya."


Di saat bersamaan, Sera kembali ke ruang ICU dan memergoki Dafi sedang berlutut sembari menangis di sisi Damar. Dia termangu memandangi ayah dan anak itu dari balik kaca penyekat ruangan, hatinya merasa sedih sekaligus terharu, hingga air matanya jatuh tanpa bisa dia cegah.


Sera buru-buru mengalihkan pandangannya dan bergerak menjauh dari kaca penyekat ruangan saat dia melihat Dafi bangkit kemudian berjalan keluar ruang ICU, dia tak ingin mantannya itu malu jika tahu dia melihat apa yang lelaki itu lakukan barusan.


Dafi keluar dari ruang ICU seraya mengusap matanya yang basah, dia terkesiap saat melihat Sera sudah ada di ruang tunggu.


"Sera? Sejak kapan kamu di sini?" Dafi mendadak canggung, takut Sera melihatnya tadi.


"Barusan." Sera bersikap biasa saja, seolah dia tak melihat apa-apa.


"Lalu Oma bagaimana?"


"Oma masih belum sadar, dan ada Eonni yang menjaganya," jawab Sera.


Dafi mengembuskan napas berat, "Kasihan Oma."


Sejenak tak ada pembicaraan antara Sera dan Dafi, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Sera!" tegur Dafi akhirnya.


"Hem." Sera hanya berdeham tanpa memandang mantannya itu.


"Kamu mencintai Papa, kan?" tanya Dafi tanpa basa-basi.


Sera sontak menoleh ke arah Dafi dengan jantung yang berdebar, dia mendadak gugup dan canggung.


"Ke-kenapa kamu tanya begitu?"


"Aku hanya ingin memastikan saja jika cinta Papa tidak bertepuk sebelah tangan."


Sera mengerutkan keningnya, "Apa maksud kamu?"


"Sera, Papa mencintaimu."


Sera tercengang, detak jantungnya semakin kencang.


"Jangan bicara macam-macam, Dafi! Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda!"


"Aku serius, Ra! Papa mencintaimu dan aku tahu itu!"


Sera menggeleng, "Aku tidak percaya padamu!"


"Kamu harus percaya! Aku dengar sendiri Papa mengatakan jika dia jatuh cinta padamu, walaupun dia berusaha menutupi perasaannya itu."


Sera lagi-lagi harus terkejut mendengar pengakuan Dipa.


Di saat bersamaan Riko datang, Dafi buru-buru memalingkan wajahnya dan mengusap air matanya.


***


Riko sedang mengobrol dengan Dafi perihal kasus penculikan yang dialami Anggi, sementara Sera memandangi Damar dari kaca penyekat ruangan, dia masih memikirkan kata-kata Dafi dan Yuni tadi, entah mengapa hatinya bergetar setiap mengingatnya. Dia masih tidak bisa percaya jika lelaki yang kini dia pandang itu mencintainya, dia berpikir Damar hanya menganggapnya seperti anak sendiri, dia merasa sikap Damar wajar selayaknya seorang ayah.


Mungkin Sera lupa, Damar tetaplah seorang manusia, pria dewasa yang kesepian dan memiliki perasaan. Dia bisa jatuh cinta, bahagia atau bahkan terluka dan bersedih, walaupun dia selalu berusaha menutupinya.


Sera masih ingin menyangkal semuanya, namun jantungnya seolah-olah berhenti berdetak kala teringat Damar menciumnya dengan begitu lembut tempo hari, dia baru sadar jika lelaki itu mulai menunjukkan cintanya, namun dia yang tidak peka.


"Ya Tuhan, kenapa aku baru menyadarinya sekarang?" batin Sera, air matanya menetes tapi buru-buru dia seka.


Sera merasa bersalah karena mengabaikan perasaan Damar, dia tak pernah menyangka kebersamaan mereka selama ini telah menumbuhkan benih-benih cinta yang tak dia sadari.


Tapi sekarang kenyataannya mereka tengah dihadapkan dengan perceraian, keputusan yang Sera anggap jalan terbaik. Sera kian merasa menyesal, dia memaksakan kehendak untuk berpisah tanpa sedikitpun memikirkan perasaan lelaki itu.


Meskipun sedang menyimak cerita Riko, sesekali Dafi juga melirik Sera yang berdiri membelakangi mereka. Ada rasa cemburu saat mendapati mantan yang masih dia sayangi itu terus memandangi sang ayah, namun dia sudah bertekad untuk ikhlas walau harus menanggung sakit.


Ponsel Riko tiba-tiba berdering, membuat lamunan Sera tentang Damar buyar. Dia dan Dipa sontak memandang Riko.


"Halo, Pak."


"Mas, kami sudah mengetahui keberadaan pelaku dan mobil Taft hitam itu, setelah melacak GPS ponsel pelaku dan cctv di jalan raya yang merekam perjalanan mobil tersebut. Sekarang tim kami sedang menuju ke sana untuk melakukan penggerebekan."


Wajah Riko berubah tegang, "Kalau boleh tahu di mana alamatnya, Pak?"


"Jalan Kemuning nomor dua belas."


"Ok, baik. Terima kasih informasinya, Pak."


"Sama-sama, Mas."


Polisi itu langsung mematikan teleponnya.


"Ada apa, Mas?" cecar Dafi penasaran.


"Polisi sudah menemukan keberadaan pelaku penculikan mama kamu, sekarang mereka sedang menuju ke sana," jawab Riko lugas.


"Kalau begitu kita juga harus ke sana, Mas."


"Jangan! Biar saya saja yang pergi, kamu tunggu di sini."


"Tapi aku ingin memastikan Mama baik-baik saja." Dafi bersikeras.


"Di sana berbahaya."


"Kan ada banyak polisi, Mas. Kita pasti aman," sahut Dafi keras kepala.


Riko menghela napas pasrah, "Baiklah, ayo pergi!"


Dafi beralih menatap Sera yang terlihat cemas, "Ra, titip Papa. Aku pergi dulu."


Sera mengangguk, "Hati-hati."


Dafi tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan rumah sakit bersama Riko.


***