My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 95.



Dafi sontak membuka matanya yang basa dan menatap Lusi dengan kening mengerut, "Apa maksud Oma? Apa yang tidak aku ketahui selama ini?"


Di saat bersamaan Sera datang, tapi saat mendengar obrolan Dafi dan Lusi, dia memutuskan untuk bersembunyi lalu menguping pembicaraan mereka dari balik tembok.


"Banyak yang tidak kamu ketahui, Dafi. Selama ini kamu dibutakan oleh rasa benci karena keluarga Anggi telah mengatakan kebohongan tentang papamu. Mereka menutupi kebenaran dan membuat cerita seolah-olah papamu yang salah."


Dafi terkesiap, sungguh dia tak tahu jika keluarga ibunya melakukan hal itu.


"Kalau begitu katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Oma?" desak Dafi.


"Damar dan Anggi menikah karena kecelakaan, Anggi hamil. Saat itu mereka berumur enam belas tahun dan masih duduk di bangku SMA."


Dafi tercengang, tak menyangka jika ternyata dia adalah anak hasil perzinahan. Begitu juga dengan Sera, dia sungguh kaget mengetahui Damar dan Anggi melakukan hal itu di usia yang sangat muda.


"Setelah menikah, Damar tetap melanjutkan sekolahnya dan Anggi berhenti. Biaya hidup mereka Oma yang tanggung sepenuhnya, walaupun mereka tinggal bersama orang tua Anggi."


Dafi dan Sera masih menyimak cerita Lusi tanpa berniat menyela.


"Awalnya rumah tangga mereka baik-baik saja, tapi setelah kamu lahir, Anggi mulai berubah, dia sering marah-marah dan tidak mau mengurus kamu sama sekali. Tadinya kami berpikir dia terkena baby blues, tapi kondisi itu terus berlanjut sampai kamu berumur satu tahun. Mereka jadi sering bertengkar dan keluarga Anggi selalu ikut campur sehingga memperkeruh suasana, saat itu Damar sangat tertekan dan stres. Hingga suatu hari Damar memergoki Anggi selingkuh dengan lelaki lain."


Lusi mengjeda ceritanya dan menangis terisak-isak kala mengingat kejadian pilu yang menimpa rumah tangga putranya itu.


Dafi merasa terluka, ternyata kelakuan sang mama benar-benar keterlaluan. Wanita yang begitu dia sayangi itu ternyata tega melakukan hal sekejam itu.


"Lalu apa yang terjadi Oma? Apa mereka bertengkar lagi dan bercerai?" tanya Dafi, dia tak sabar menunggu kelanjutan cerita tentang kedua orang tuanya itu.


"Sayangnya tidak sesimpel itu, Damar yang emosi memukuli selingkuhan Anggi sampai masuk rumah sakit dan keluarga lelaki itu tidak terima lalu menuntut Damar. Dan yang membuat Damar semakin sakit hati, Anggi justru membela selingkuhannya itu. Akhirnya Damar dipenjara dan mereka pun bercerai. Setelah Damar bebas, keluarga Anggi melarangnya bertemu denganmu, dia sempat ingin merebut kamu, tapi Oma larang, Oma tidak ingin dia terlibat masalah lagi. Damar pun mengalah dan melanjutkan sekolahnya ke luar negeri, tapi Oma terus mencukupi kebutuhan kamu, kami tidak lepas tanggung jawab."


Dafi terkesiap, dia sangat syok saat tahu bagaimana masa lalu kedua orang tuanya begitu miris.


"Tapi kenapa selama ini Oma dan Papa menyembunyikan semuanya dariku? Kenapa kalian tidak mengatakan yang sebenarnya?" cecar Dafi.


"Papa kamu melarang Oma mengatakannya, dia tak ingin kamu membenci Anggi. Dia juga melarang Oma mengatakan jika sebenarnya selama ini dialah yang mencukupi semua kebutuhan kamu, bukan Oma. Dia tak ingin kamu menolak jika tahu dia yang memberikannya, dia tak ingin kamu terlantar dan kekurangan," sambung Lusi yang semakin terisak-isak.


Dafi terhenyak mendengar alasan Damar, dia seketika teringat beberapa tahun yang lalu pernah menolak pemberian sang ayah saat pertama kali mereka bertemu setelah bertahun-tahun terpisah. Saat itu dia marah karena sang mama dan keluarganya selalu mengatakan hal-hal yang buruk tentang Damar, mereka benar-benar mencuci otaknya.


Dafi sangat merasa bersalah karena selama ini membenci Damar, dia menyesal sudah bersikap buruk dan kasar terhadap ayah yang sudah begitu baik padanya.


Sera sungguh merasa terharu mendengar cerita Lusi, dia kasihan kepada Damar, dia bahkan sampai tak kuasa menahan tangisnya.


"Aku sudah keterlaluan padanya, Oma. Aku pasti sangat menyakitinya selama ini." Dafi berbicara dengan mata berkaca-kaca, dia rasanya ingin menangis dan meluapkan rasa bersalah di hatinya, tapi malu jika dilihat orang.


"Selama ini dia sangat menyayangimu, meskipun kamu membenci dan menyakitinya, tapi rasa sayangnya tak berubah sedikitpun padamu, dia selalu memaafkan mu," balas Lusi seraya mengusap air matanya.


Dafi tertunduk menahan rasa sedih dan penyesalan, dia berharap Tuhan masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya dan meminta maaf pada sang ayah.


Sera mengusap air matanya, kemudian menghampiri mereka. Dia bersikap biasa saja seakan tidak mendengar apa pun.


"Ini teh nya." Sera menyodorkan teh yang dia bawa ke Dafi dan Lusi.


Dafi mengangkat kepalanya, menatap Sera dengan wajah sendu, lalu menerima teh itu, "Terima kasih."


Sera hanya senyuman walaupun sejujurnya dia merasa sangat sedih dan prihatin dengan apa yang terjadi dalam hidup Damar dan Dafi.


Ternyata Damar pernah melalui saat-saat kelam yang menyakitkan dalam hidupnya, kesalahan yang dia perbuat di masa lalu benar-benar membuatnya hidup di dalam kepedihan. Sungguh sangat menyedihkan, dibalik sikap hangat dan cerianya, Damar menyimpan luka batin yang tak sangat parah.


***