
Karena mendengar teriakkan Bobi, Sera dan Anggi kaget, begitu pun dengan Yuni yang baru kembali dari dapur.
"Itu suara Mas Bobi, kan?" Sera memastikan.
"Benar, ada apa, ya?" sahut Yuni, dia segera meletakkan nampan yang dia bawa dan bermaksud mengecek keluar.
Tapi tiga orang pria berpakaian serba hitam dan memakai masker menyelonong masuk ke dalam rumah, ketiga wanita itu mendadak panik dan takut. Sera bahkan langsung berdiri dan merapat ke Yuni, namun Anggi hanya berdiri di tempatnya dengan wajah tegang.
"Jangan ada yang bersuara ataupun bergerak!" pinta seorang pria berambut gondrong sembari menodongkan pisau belati ke arah mereka.
"Siapa mereka, Eonni?" bisik Sera.
Yuni menggeleng dan balik berbisik, "Aku juga tidak tahu."
"Hei, kalian tidak dengar!" bentak pria gondrong itu, membuat Sera dan Yuni langsung terdiam.
"Itu dia!" Seorang pria lain yang bertato menunjuk Anggi.
Sera dan Yuni sontak memandang Anggi dengan kebingungan. Sadar jika dirinya yang menjadi target, Anggi bergegas hendak kabur ke lantai atas. Tapi pria bertato dan temannya bergerak cepat ke arah Anggi kemudian menangkap wanita itu.
"Jangan!" jerit Anggi, "Dafi tolong!"
Anggi berteriak sembari memberontak, pria bertato itu langsung membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius, Anggi pun pingsan. Sementara Sera dan Yuni hanya mematung ketakutan.
Mendengar ada keributan, Dafi dan Lusi yang sedang istirahat di kamar pun bergegas keluar. Keduanya terkejut saat melihat apa yang sedang terjadi.
"Mama!" pekik Dafi, dia berlari menghampiri Anggi dan berusaha membebaskan sang mama dari pria-pria misterius itu.
"Lepaskan Mamaku!" Dafi menarik pria-pria itu, namun apes, dia malah dipukul hingga terhuyung dan nyaris jatuh.
"Dafi!" Lusi menjerit.
"Bawa dia! Biar aku urus bocah ini!" titah pria bertato itu.
Anggi digendong dan dibawa keluar, Dafi hendak mengejar sang mama, tapi pria tadi kembali memukulnya. Awalnya Dafi bisa menangkis dan melawan, tapi akhirnya dia kalah dan terkapar di lantai dengan kepala berdarah karena lukanya yang kemarin kembali terbuka.
"Jangan sakiti cucuku!" Lusi memohon sambil menangis histeris, dia sangat takut tapi tak berani mendekat.
Sera dan Yuni juga panik dan takut, mereka mencemaskan Dafi namun tak bisa berbuat apa-apa.
Melihat Dafi sudah tak berdaya, pria itu pun meninggalkannya, disusul juga oleh si pria gondrong.
Namun rupanya Dafi tak ingin menyerah begitu saja, dengan susah payah dia kembali bangkit dan mengejar pria-pria itu dengan tertatih-tatih.
"Dafi jangan!" Lusi pun ikut mengejar sang cucu,
"Eonni, hubungi Om Damar!" pinta Sera, "Aku akan susul Dafi dan Mama."
"Iya."
Sera pun menyusul Lusi dan Dafi keluar.
Tepat di saat bersamaan, Damar pulang dan melihat semua itu, dia buru-buru turun dari mobil lalu berlari ke arah Dafi.
Damar memukuli orang-orang itu, dan menyelamatkan sang putra.
"Cepat selamatkan mamamu!" teriak Damar.
Dafi mengangguk lalu berlari ke mobil Taft hitam yang membawa Anggi, dia membuka pintu mobil dan hendak mengeluarkan sang mama tapi rupanya pria gondrong tadi melihatnya.
Pria gondrong itu bangkit dan mengeluarkan pisau belati nya, dia mendekati Dafi dan ingin menikam pemuda itu dari belakang.
Sera yang melihat itu spontan berteriak, "Dafi awas!"
Mendengar itu, Damar menoleh ke arah Dafi, dia langsung berlari sekuat tenaga dan menghalangi pisau itu agar tidak melukai sang putra.
Damar hanya memejamkan mata menahan sakit ketika pisau belati itu menusuk punggung belakangnya, darah segar seketika mengalir keluar membasahi jas dan kemejanya.
"Damar!" Lusi berteriak histeris melihat putra kesayangannya itu terluka dan berdarah.
"Papa!" seru Dafi tak percaya sang ayah akan rela terluka demi menyelamatkan dirinya.
Sera terperangah, dia panik dan langsung berlari ke arah Damar.
Melihat Damar terluka, pria-pria itu mendorong Dafi dan Damar agar menjauhi mobil mereka lalu bergegas masuk ke dalam mobil. Para penjahat itu kemudian pergi dengan membawa Anggi bersama mereka.
"Mama!" Dafi bingung harus menyelamatkan siapa, dia ingin mengejar mobil itu tapi dia juga tak bisa meninggalkan Damar yang terluka.
"Damar, anakku!" Lusi panik.
"Om, kita ke rumah sakit!" Sera membantu Dafi memegangi Damar yang mulai lemas.
Damar tak membalas ucapan Sera, dia hanya merintih kesakitan, wajahnya pucat dan berkeringat.
Lusi sedikit terkejut dan heran mendengar Sera memanggil Damar dengan sebutan Om, tapi ini bukan saat yang tepat untuk dia bertanya.
Mereka membawa Damar ke rumah sakit dengan mobil lelaki itu, tak lupa juga mengajak Bobi yang sudah babak belur dihajar pria-pria misterius tadi.
Selama di perjalanan, Damar terus merintih di pangkuan Sera, darahnya terus saja keluar membasahi jok dan baju gadis itu, membuatnya semakin lemas bahkan nyaris tak sadarkan diri.
"Bertahanlah! Aku mohon!" ucap Sera dengan berlinang air mata, dia benar-benar cemas.
Dafi yang mengemudikan mobil hanya melirik Sera dan Damar dari balik kaca spion, dia juga merasa cemas dan takut sesuatu yang buruk menimpa sang ayah.
***
Maaf ya kalau kalian merasa cerita ini flat dan tidak seru, aku cuma berusaha menyuguhkan kisah yang detail dan ringan. Kalian boleh tinggalkan novel ini tanpa berkomentar yang buruk.🙏🏼
Terima kasih sudah membaca.