My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 24.



Pagi ini Lusi dan Damar sedang sarapan bersama di meja makan.


"Bagaimana hubungan kamu dan Dafi? Apa sudah ada kemajuan?" tanya Lusi.


Damar menggeleng, "Masih sama seperti sebelumnya, Ma. Dia masih membenciku, entah sampai kapan akan seperti ini?"


"Kamu yang sabar, ya. Nanti pelan-pelan Dafi pasti bisa menerima kamu lagi, dia hanya masih marah."


"Iya, Ma."


"Atau kamu mau Mama cerita ke Dafi kalau selama ini kamu yang membiayai semua kebutuhan dia, bukan Mama. Siapa tahu dia akan berubah pikiran dan bisa bersikap lebih baik padamu."


"Tidak usah, Ma. Aku tidak ingin Dafi menolaknya lagi seperti dulu kalau dia tahu semua itu dari aku, biarkan saja dia berpikir kalau selama Mama yang membiayainya. Setidaknya aku bisa tenang karena kebutuhannya tercukupi."


Lusi tersenyum sambil mengusap punggung tangan Damar, "Kamu ayah yang baik, andai saja Dafi tahu yang sebenarnya."


"Aku justru tidak ingin Dafi tahu yang sebenarnya, aku tidak mau dia membenci ibu yang telah melahirkannya."


"Tapi Dafi juga tidak boleh membencimu, Nak! Dia harus tahu alasan sebenarnya kamu dan Anggi berpisah, bukan seperti yang keluarga Anggi ceritakan ke dia."


"Sudahlah, Ma. Biarkan saja, aku mohon!"


Lusi menghela napas, "Iya, terserah kamu saja!"


Suasana sejenak hening, keduanya menyantap sarapan dengan pikiran masing-masing, sampai Damar kembali bersuara.


"Aku belum cerita ke Mama, ya?"


Lusi mengernyit, "Tentang apa?"


"Beberapa hari yang lalu Dafi kecelakaan, dia jatuh dari motor."


Lusi terkejut dan mendadak panik, "Jadi bagaimana keadaannya?"


"Dia hanya luka-luka saja, Ma. Tidak ada yang serius," jawab Damar.


"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" Lusi melotot marah.


"Aku tidak ingin Mama cemas."


"Iya, tapi Dafi itu cucu Mama, dan Mama harus tahu apa yang terjadi padanya," sungut Lusi.


"Aku minta maaf, Ma."


"Kalau begitu nanti Mama akan mengunjunginya, Mama ingin lihat keadaannya langsung."


Damar mengangguk, "Iya, nanti aku antar Mama."


"Tidak usah! Kamu pergi ke kantor saja, Mama bisa naik taksi. Soalnya setelah itu Mama mau pergi ke tempat lain lagi."


"Oh, ya sudah kalau begitu."


Mereka kembali terdiam, Damar teringat pada Sera, dia memutuskan untuk menceritakan tentang gadis itu pada Lusi.


"Hem, Ma. Ada yang ...."


Ponsel Lusi tiba-tiba berdering, membuat Damar urung untuk bicara.


"Sebentar, Tante Elin menelepon." Lusi buru-buru menjawab panggilan masuk dari sahabatnya itu.


"Halo, Say," sapa Lusi sambil menjauh dari Damar.


Tak berapa lama ponsel Damar pun ikut berdering, dia melirik layar benda pipih itu dan bergegas menjawabnya.


"Halo, ada apa, Ko?"


"Pak, investor yang ingin berinvestasi di perusahaan kita sudah diperjalanan menuju kantor, dia akan ke China siang ini, jadi tidak banyak waktu."


"Baiklah, aku segera ke kantor."


"Baik, Pak."


Damar menutup telepon dari Riko itu dan beranjak dari duduknya, "Ma, aku ke kantor dulu, ada investor yang mau datang."


Lusi hanya mengangguk sebab dia sedang berbicara serius dengan sahabatnya itu. Damar pun bergegas meninggalkan rumah dan memacu mobilnya menuju kantor. Dia gagal menceritakan tentang Sera pada Lusi.


***


Lusi mengetuk pintu dan Dafi buru-buru membukanya.


"Oma?"


Lusi merasa kasihan melihat Dafi tinggal sendiri di kost-kostan dalam keadaan terluka seperti ini, wanita itu sontak memeluk sang cucu, "Oma merindukanmu, sayang."


Dafi hanya terdiam, dia bahkan tak membalas pelukan Lusi. Meskipun dia tidak membenci Lusi seperti dia membenci Damar, tapi Dafi tetap bersikap dingin pada Omanya itu.


Lusi melepaskan pelukannya lalu mengusap sudut matanya yang basah, "Kamu baik-baik saja, kan?"


Dafi hanya mengangguk dengan wajah datar.


"Ini Oma bawakan makanan." Lusi menyodorkan bungkusan berisi makanan yang dia bawa dan Dafi menerimanya.


"Boleh Oma masuk?" tanya Lusi sebab Dafi membiarkannya di depan pintu.


"Silakan."


Lusi pun masuk dan duduk di tepi tempat tidur Dafi lalu menatap sang cucu, "Bagaimana luka-luka kamu, sudah kering?"


"Sudah," jawab Dafi bohong, padahal luka di kaki dan tangannya masih basah.


"Oma sangat mengkhawatirkan mu, apa tidak sebaiknya kamu tinggal bersama papa kamu saja? Biar ada urus."


"Aku bisa urus diri sendiri, aku tidak butuh dia!"


Wajah tua Lusi berubah sendu, "Sampai kapan kamu akan terus memusuhi papamu?"


"Selamanya, sampai aku mati."


"Dafi, kamu tidak boleh seperti ini! Papa kamu itu sayang padamu."


"Kalau dia sayang padaku, dia tidak mungkin meninggalkan aku dan Mama," ujar Dafi menohok.


"Dafi, kamu tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi," sanggah Lusi.


"Aku sudah cukup mengerti, Oma! Dia egois dan keras kepala, dia lebih memikirkan dirinya sendiri daripada aku dan Mama."


"Lalu apa bedanya dengan mamamu? Dia juga egois dan memikirkan dirinya sendiri, dia lebih memilih menikah dengan orang lain lalu pergi meninggalkanmu di sini."


Dafi terdiam, jauh di hatinya dia juga marah pada Anggi walaupun tidak membenci wanita itu seperti dia membenci Damar.


"Kenapa kamu tidak membenci mamamu?" lanjut Lusi.


"Mama menikah lagi dan pergi karena Papa, kalau saja waktu itu Papa bersedia mengajak Mama rujuk, Mama pasti tetap di sini dan kami bisa bisa berkumpul lagi," balas Dafi emosi.


Lusi tercengang, dia tak menyangka Dafi malah menyalahkan Damar.


"Aku mohon Oma berhenti memaksaku untuk memaafkan Papa, karena sampai kapanpun aku tidak bisa." Dafi membuang muka.


Lusi mengusap punggung belakang Dafi sambil berlinang air mata, "Maafkan, Oma. Oma hanya ingin kalian berbaikan, karena bagaimanapun kalian ini ayah dan anak."


Dafi menggeleng, "Aku sakit hati, Oma. Dia meninggalkan aku di saat aku masih membutuhkan dirinya, bertahun-tahun aku selalu diejek karena tidak punya ayah. Andai saat itu dia mau kembali bersama Mama, mungkin aku bisa memaafkannya."


Lusi merasa iba dan terharu, rasanya saat ini ingin sekali dia membeberkan alasan sebenarnya Damar meninggalkan Anggi, tapi dia sudah berjanji pada sang putra untuk tetap menutup mulut.


Lusi mengusap air matanya dan memegang pundak Dafi, "Sudah jangan bersedih lagi! Oma minta maaf, ya."


Dafi mengangguk,matanya merah sebab menahan tangis.


"Oma mau jalan-jalan ke mall, kamu mau ikut?"


"Tidak, Oma. Aku sedang malas keluar, aku mau istirahat saja," tolak Dafi, sejak semalam dia memang tidak bersemangat melakukan apa pun, makanya hari ini dia tidak masuk kuliah.


"Ya sudah, kalau begitu Oma pergi dulu, nanti Oma datang lagi ke sini. Jika kamu butuh apa-apa, jangan sungkan hubungi Oma," ujar Lusi sembari mengusap kepala Dafi.


"Iya, Oma."


Lusi pun meninggalkan kost-kostan Dafi, dia sudah ada janji bertemu dengan Sarah di salah satu mall.


***