
Karena pengaruh obat pereda nyeri yang diberikan oleh dokter tadi, Sera pun akhirnya tertidur setelah Damar pergi.
Ternyata Damar mengutus Yuni untuk menemani Sera selama dia bekerja, dia tak sampai hati membiarkan gadis itu seorang diri.
Yuni duduk di sofa sambil menonton drama Korea kesukaannya dari ponsel, dia tak tahu harus berbuat apa, karena Sera sedang tidur.
Tiga jam berlalu, Yuni yang tadinya menonton kini malah sudah ikut terlelap di sofa, bahkan sampai mendengkur dengan keras.
Karena efek obatnya sudah hilang, Sera mulai terbangun lalu membuka mata. Dia terkesiap dan heran saat melihat ada seorang wanita yang tidak dia kenal di dalam ruang perawatannya.
"Siapa dia? Apa dia yang disuruh Om Damar untuk menemaniku di sini?" Sera bertanya pada dirinya sendiri.
Sera tak ingin mengganggu tidur Yuni, dia pun lebih memilih untuk tetap diam sambil terus memandangi wanita itu dari tempatnya berbaring.
Tiba-tiba ponsel di tangan Yuni berdering nyaring, membuat wanita bertubuh semok itu tersentak dan kaget setengah mati.
"Lee Min Ho, mana Lee Min Ho?" Yuni refleks berteriak heboh sembari celingukan kesana-kemari, membuat Sera tertawa geli melihat tingkah konyolnya itu.
Setelah sadar ada yang menelepon, Yuni buru-buru menjawabnya.
"Halo, Oppa," sapa Yuni.
"Yun, bagaimana gadis itu? Tidak ada masalah, kan?"
Yuni menoleh ke arah Sera yang sedang menatapnya sambil menahan tawa, wanita itu pun nyengir sebelum menjawab pertanyaan Dirga, "Aman, Oppa. Dia sudah bangun, kok."
"Dia sudah makan?"
Yuni melirik seporsi bubur dan segelas susu yang masih utuh di atas meja. "Belum."
"Loh, kenapa belum makan? Ini sudah jam berapa, Yun?"
"Iya-iya, Oppa. Ini mau disuapin makan, kok," sahut Yuni takut.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa, cepat kabari aku."
"Nde, Oppa."
Dirga pun mengakhiri pembicaraan dengan asisten rumah tangganya itu.
Yuni mengembuskan napas lega, kemudian berjalan mendekati Sera dan tersenyum, "Hai, kamu sudah bangun rupanya."
Jora juga tersenyum sembari mengangguk.
"Kenalkan, aku Lee Yun Ni, asisten rumah tangga Oppa Damar yang paling cantik sekompleks perumahan." Yuni memperkenalkan dirinya dengan kocak dan penuh percaya diri, Sera ingin tertawa tapi tidak enak.
"Dia mengutus aku ke sini untuk menemani dan menjaga kamu," lanjut Yuni.
"Salam kenal, Bu," balas Sera yang masih berusia menahan tawa.
"Eh, jangan panggil Ibu, aku masih muda tahu! Panggil Eonni saja," protes Yuni tak terima.
Sera mengulum senyum, tentu dia tahu panggilan itu. "Baik, Eonni."
"Nah, gitu kan enak dengarnya. Masa istrinya Lee Min Ho dipanggil ibu, sih?" gerutu Yuni.
"Oh iya, nama kamu siapa?" tanya Yuni.
"Sera."
"Ok, Sera. Sekarang kita makan, ya? Biar aku suap kamu."
Sera mengangguk setuju, sebab perutnya memang mulai terasa lapar.
Yuni pun meraih mangkuk bubur di atas meja lalu duduk di tepi ranjang Sera. Dia menyuapi gadis itu dengan telaten dan hati-hati, sambil bercerita panjang lebar tentang drama Korea yang baru dia tonton.
Sera mengunyah buburnya seraya menyimak cerita Yuni tanpa berkomentar, karena dia sendiri tidak terlalu suka drama Korea meskipun mengetahui beberapa bahasa populernya.
Tak terasa bubur di mangkuk sudah habis dilahap oleh Sera, meskipun dia merasa sedikit mual, tapi gadis cantik itu tetap menelannya.
"Orang tua kamu di mana?" tanya Yuni penasaran, sebab tak ada satu pun keluarga Sera yang menemaninya di sini. Dia tak tahu apa-apa sebab Damar belum menceritakan tentang Sera padanya.
Wajah Sera berubah sendu, "Orang tuaku ada di rumah."
"Kenapa mereka tidak ke sini? Kamu tidak memberitahu mereka?"
Sera terdiam menahan air matanya, dia dilema, harus kah menceritakan kejadian buruk itu kepada Yuni?
"Kamu kenapa? Apa aku salah bicara?" tegur Yuni yang menyadari perubahan wajah Sera.
Sera menggeleng, "Tidak, Eonni tidak salah bicara. Aku hanya sedih saja jika teringat keluargaku."
"Kalau boleh tahu, memangnya ada apa dengan keluarga kamu?" Yuni penasaran.
"Ibuku sakit stroke, sudah setahun ini dia tergolek tak berdaya," ungkap Sera dengan berlinang air mata.
"Kalau ayahmu?"
"Ayahku sudah meninggal, dan Ibuku sudah menikah lagi. Tapi ayah tiri ku kasar dan suka mabuk-mabukan, dan tadi malam dia berusaha melecehkan aku." Tangis Sera akhirnya pecah saat mengenang perbuatan Heru.
Yuni terhenyak, "Ya ampun, kurang ajar sekali dia! Apa hal itu ada hubungannya dengan kecelakaan tadi malam?"
Sera mengangguk, "Aku kabur dari rumah, aku memutuskan untuk ke kost-kostan pacarku, tapi aku malah memergoki dia selingkuh. Aku akhirnya pergi, berjalan tak tentu arah. Sampai akhirnya aku diganggu preman, aku berusaha kabur dan malah tertabrak."
Hati Yuni terenyuh mendengar cerita Sera, dia merasa prihatin pada gadis itu, "Kamu yang sabar, ya! Kamu harus kuat!"
"Iya, Eonni."
"Ya sudah, kamu jangan sedih lagi! Mending sekarang kita nonton Drakor," usul Yuni bersemangat.
"Tapi aku tidak terlalu tertarik nonton Drakor."
"Nonton saja dulu, nanti lama-lama pasti tertarik." Yuni memaksa dan langsung memutar drama kesukaannya.
Akhirnya mau tidak mau Sera pun terpaksa ikut nonton drama Korea bersama asisten rumah tangga Damar itu.
***