
Damar buru-buru pergi setelah mendapatkan kabar tidak mengenakan dari mantan istrinya, Sera dan Yuni kebingungan melihat lelaki itu tergesa-gesa dengan wajah cemas.
"Ada apa, ya?" tanya Sera.
"Pasti terjadi sesuatu," tebak Yuni.
Riko pun keluar dari ruang kerja Damar sambil membawa beberapa map, melihat pria itu, Sera langsung bertanya.
"Mas Riko, ada apa? Kenapa Om Damar buru-buru pergi?"
"Oh, anaknya Pak Damar kecelakaan, makanya dia buru-buru ke rumah sakit," jawab Riko lugas.
Sera dan Yuni terkesiap, keduanya langsung panik.
"Kecelakaannya parah, Mas?" tanya Sera lagi.
"Sepertinya begitu."
"Siapa yang mengabarkan, Ko?" Kali ini Yuni yang bertanya.
"Mantan istrinya Pak Damar, Mbak," sahut Riko, "Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu."
"Iya, Ko."
Sera mengangguk. "Iya, Mas."
Riko pun meninggalkan kediaman Damar.
"Om Damar masih berhubungan baik dengan mantan istrinya, ya?" Sera bertanya.
"Tidak terlalu baik, sih. Mereka hanya berkomunikasi kalau ada hal penting saja mengenai anaknya, seperti sekarang ini."
"Oh, begitu. Kalau Om Damar dengan anaknya?"
"Oppa dan anaknya tidak cocok, anaknya itu bahkan tidak pernah menghubungi dia, apalagi datang ke rumah ini," terang Yuni.
Sera mengernyitkan keningnya. "Kenapa seperti itu?"
Yuni menaikkan kedua bahunya, "Tidak tahu, mungkin karena orang tuanya bercerai, dan dia menyalahkan ayahnya."
"Tapi Oppa tetap membiayai semua kebutuhan anaknya, dari jajan, kuliah, kost-kostan, dan lain-lain," lanjut Yuni.
"Anaknya ngekost?"
"Iya, soalnya mantan istri Oppa sudah menikah lagi dan ikut suaminya tinggal di luar negeri, sementara anaknya sekolah di sini, jadi terpaksa ngekost."
Sera tertegun, cerita anaknya Damar persis seperti kehidupan Dafi. Sera tahu ibu Dafi sudah menikah lagi dan sekarang tinggal di Malaysia, tapi Dafi sendiri tidak pernah menceritakan tentang ayahnya, dia selalu mengatakan jika sang ayah sudah tiada.
"Sera, kenapa melamun?"
Sera tersentak, "Eh, tidak apa-apa. Ya sudah, kita doakan semoga anaknya Om Damar baik-baik saja."
"Aamiin."
***
Damar berjalan memasuki ruang UGD dengan langkah yang lebar, dia sungguh mencemaskan keadaan putra semata wayangnya itu. Begitu melihat anaknya terbaring dengan tangan dan kaki diperban, Damar langsung menghampirinya.
"Dafi, kamu tidak apa-apa?"
Bukannya menjawab pertanyaan Damar, Dafi malah membuang muka.
"Tadi Mama kamu menghubungi Papa, dan Papa langsung ke sini," ujar Damar meski Dafi tak bertanya.
"Aku baik-baik saja, jadi sekarang Papa bisa pergi." Dafi berbicara dengan ketus tanpa memandang Damar.
"Daf, Papa itu mencemaskan mu. Mana mungkin Papa meninggalkan kamu dalam situasi seperti ini."
Dafi memutar kepalanya, dia menatap Damar dengan tidak suka, "Papa tidak perlu repot-repot mencemaskan aku! Aku bisa sendiri."
"Mau sampai kapan kamu bersikap seperti ini pada Papa, Daf? Kamu bukan anak kecil lagi, sudah seharusnya kamu bersikap dewasa."
"Aku akan bersikap seperti ini sampai aku mati. Puas?" sahut Dafi.
"Papa akan menemui dokter sebentar, kamu tunggu di sini!" Damar memilih untuk menemui dokter alih-alih terus berdebat dengan putranya itu.
Melihat sang ayah meninggalkannya, Dafi pun bangkit dari pembaringan dan mencabut paksa jarum infus yang tertancap di tangannya.
Dafi meringis menahan sakit sambil memegangi tangannya yang berdarah bekas jarum infus itu, tapi ternyata aksinya itu tertangkap basah oleh seorang perawat yang tiba-tiba datang.
"Loh, kenapa dicabut?" sergah perawat itu panik.
Di saat bersamaan Damar juga datang bersama seorang dokter dan terkejut melihat semua itu.
"Dafi? Apa yang kamu lakukan?" tanya Dirga.
"Aku mau pulang," jawab Dafi ketus.
"Tapi kamu masih belum boleh pulang," bantah dokter itu.
"Pokoknya aku mau pulang!" bentak Dafi, Damar dan semua orang terkejut dengan sikap kasarnya.
"Baiklah, Dok. Kalau begitu izinkan anak saya pulang, nanti biar saya yang mengurusnya," pinta Damar, dia memandang dokter itu penuh harap.
Dokter itu menghela napas, "Ya sudah, anak anda boleh pulang. Tapi harus istirahat yang cukup di rumah dan jangan lupa minum obat yang teratur, agar luka di kaki dan tangannya cepat kering."
Damar mengangguk, "Baik, Dok."
Setelah mengurus administrasi, Damar dan Dafi pun keluar dari rumah sakit. Dafi berjalan dengan terpincang-pincang, Damar hendak membantu dengan memapahnya, tapi dia mengelak dan menjauh dari sang ayah.
"Kamu pulang ke rumah Papa saja!" cetus Damar, sekalian dia ingin memperkenalkan Sera pada putranya itu.
"Aku tidak mau!" balas Dafi.
"Dafi, kamu sedang terluka, tidak ada yang mengurus mu kalau di kost-kostan."
"Aku tidak perlu diurus, aku bisa sendiri." ujar Dafi.
"Dafi, tolong jangan keras kepala!"
"Harusnya katakan itu pada diri Papa sendiri!" Dafi berlalu meninggalkan Damar dengan tertatih-tatih.
Damar tercenung memandang sang putra, dia sedang berusaha menahan kesal. Dia berulang kali menghela napas demi meredam emosinya, meskipun dia menyayangi sang putra tapi dia tetap tidak bisa terus-terusan sabar diperlakukan seperti ini.
Damar pun segera menyusul Dafi, "Kalau begitu biar Papa antar."
"Tidak perlu! Aku bisa pulang sendiri!" tolak Dafi.
"Motor kamu di bengkel, kamu akan kesulitan kalau naik kendaraan umum dalam kondisi seperti ini."
"Itu urusan ku!"
"Dafi! Berhenti bersikap seperti ini! Jangan buat Papa hilang kesabaran!" bentak Damar marah.
"Lalu kenapa kalau Papa hilang kesabaran? Papa mau memukulku? Silakan, Pa! Aku tidak takut!" tantang Dafi.
Plaak ....
Damar yang sudah tersulut emosi spontan menampar pipi putranya itu, dan menarik perhatian beberapa orang yang kebetulan sedang berada di sekitar mereka.
Dafi menatap tajam Damar, "Hanya segitu?"
Damar tertegun dan merasa menyesal.
"Dari kecil aku sudah terbiasa hidup tanpa Papa, dan sekarang pun aku tidak butuh Papa. Jadi jangan sok peduli padaku!" pungkas Dafi kemudian berlalu pergi dari hadapan sang ayah.
Damar merasa tertampar dengan kata-kata Dafi, dia memang pernah membuat kesalahan dengan meninggalkan Dafi bersama ibunya, tapi dia punya alasan kuat mengapa melakukan itu.
Sekarang dia sedang berusaha menunjukkan rasa tanggung jawabnya sebagai seorang ayah, salah satunya dengan membiayai semua kebutuhan Dafi meskipun sang putra tidak pernah tahu.
Sebab selama ini Dafi berpikir jika ibunda Damar lah yang membiayainya.
Akhirnya Damar membiarkan Dafi pulang sendiri dengan menaiki taksi, dia tak ingin terus berdebat dengan sang putra dan membuat hatinya semakin terluka.
***