
Damar pulang ke rumahnya, dia melangkah masuk dengan lesu. Rumah besar itu sangat sunyi dan dingin, seperti tak ada kehidupan. Sudah beberapa tahun ini Damar tinggal di sana, dia hanya ditemani seorang asisten rumah tangga bernama Yuni dan seorang satpam bernama Bobi.
Seorang wanita berumur tiga puluh tahun berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Damar dan seketika wajahnya tegang bercampur cemas.
"Omo, Oppa! Ada apa? Kok bajunya banyak darah?" cecar Yuni heboh, membuat langkah Damar terhenti.
"Tadi aku tidak sengaja menabrak seorang gadis dan saat menggendong gadis itu ke mobil, bajuku jadi terkena darahnya," beber Damar.
"Ya Tuhan!" Yuni menutup mulutnya yang menganga, "jadi bagaimana kondisi gadis itu? Apa dia mati?"
Damar menggeleng, "Dia selamat, tapi terluka cukup parah. Kakinya patah dan mengalami gegar otak."
"Aigo, kasihan banget!"
"Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu, mau mandi."
"Nde, Oppa. Annyeonghi jumuseyo." Yuni mengucapkan selamat malam dalam bahasa Korea.
Damar mengangguk lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Yuni di ruang tamu. Yuni memandangi kepergian Damar, sejujurnya dia merasa kasihan pada majikannya itu, dia tahu Damar kesepian, makanya setiap hari selalu pulang larut malam.
Di dalam kamarnya, Damar membuka pakaian dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Dia membiarkan tubuhnya basah akibat air yang jatuh dari shower, menikmati rasa dingin yang menyentuh kulitnya.
Damar mengembuskan napas berat, mungkin kesialan ini karma dari perbuatan dosanya. Dia sadar Tuhan pasti marah karena dia baru saja berzina dengan seorang wanita bayaran, dia tak ada pilihan lagi selain itu demi melampiaskan hasratnya. Karena kejadian masa lalunya, membuat Damar enggan terikat dalam pernikahan lagi.
Setelah selesai mandi, Damar mengenakan pakaian lalu membanting tubuhnya di atas ranjang. Dia memejamkan mata, tapi bayangan wajah pucat Sera sontak muncul di ingatannya, membuat hatinya merasa tidak tenang dan khawatir pada gadis itu. Dirga pun kembali membuka mata dan mengembuskan napas berat.
"Sebaiknya aku menghubungi Riko." Damar mengambil ponselnya dan segera menelepon bawahannya itu untuk menanyakan keadaan Sera.
Damar baru merasa lega saat Riko mengatakan jika kondisi Sera aman.
***
Keesokan paginya, Sera mulai sadar, jari tangan gadis itu bergerak dan dengan perlahan dia membuka matanya, namun kemudian kembali dia tutup karena merasa silau dengan cahaya lampu yang terang. Kemudian Sera membuka matanya lagi, namun dia merasa pusing dan sedikit mual.
"Aku dimana?" Sera bertanya dengan pelan sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar bercat putih itu.
Dia merasa linglung dan kebingungan, juga ada sedikit rasa cemas di hatinya. Sera pun berusaha bangkit dari pembaringan, tapi rasa sakit langsung menyerang kepala dan kakinya yang patah, membuat gadis cantik itu memekik kesakitan.
"Aduh!" Sera kembali berbaring.
Riko yang tertidur di sofa terperanjat saat mendengar suara pekikan Sera, dia sontak beranjak dan bergegas menghampiri gadis itu.
"Kamu sudah sadar?" tanya Riko.
"Aku di mana?" Sera masih kebingungan, lalu menatap Riko dengan alis yang menaut, "kamu siapa?"
"Namaku Riko. Sekarang kamu ada di rumah sakit, tadi malam kamu tertabrak mobil atasanku," jawab Riko apa adanya.
Riko mengernyitkan keningnya. "Tidak ingat?"
Sera menggeleng, namun tiba-tiba rasa mual yang dia rasakan semakin menjadi. Sera menutup mulutnya dan ingin muntah, membuat Riko panik.
"Kamu kenapa?"
Belum sempat pertanyaan Riko terjawab, Sera sudah lebih dulu muntah, mengotori wajah, leher dan juga kasur. Riko seketika merasa jijik dan ikut merasa mual.
"Aku akan panggilkan dokter." Riko segera berlari memanggil dokter.
Tak berapa lama seorang dokter dan dua orang perawat datang ke ruang perawatan Sera, dengan sigap dua perawat itu membersihkan bekas muntahan Sera dan setelah itu si dokter pun memeriksanya.
Sementara Riko langsung menghubungi Damar untuk mengabarkan tentang gadis itu.
Riko kembali masuk ke dalam ruang perawatan Sera, dia lega karena gadis itu sudah ganti baju dan kembali bersih dari bekas muntahannya.
"Pasien sudah membaik, kita tinggal menunggu dia pulih saja," ujar si dokter.
"Tapi kenapa tadi dia muntah, Dok?" tanya Riko bingung, dia tak mengerti tentang ilmu medis sama sekali.
"Itu efek dari gegar otak yang dialami pasien. Selain itu, dia juga akan merasa linglung, pusing, sensitif terhadap cahaya, pandangan kabur dan kehilangan beberapa ingatannya. Tapi jangan khawatir, seiring berjalannya waktu, dia akan pulih dan kembali seperti semula. Kami akan terus pantau perkembangannya," sambung si dokter.
Riko mengembuskan napas lega. "Kira-kira berapa lama dia akan pulih, Dok?"
"Paling satu atau dua bulan, tapi dia harus istirahat yang cukup dan jangan terlalu banyak berpikir keras."
"Kalau untuk kakinya, kapan dia bisa berjalan lagi seperti semula?" Riko kembali bertanya.
"Biasanya dalam waktu empat atau enam bulan, dia sudah bisa berjalan lagi. Tapi tentu harus dibantu dengan terapi yang rutin."
"Baiklah, Dok. Terima kasih banyak."
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu. Selamat pagi."
"Selamat pagi, Dok."
Dokter itu pun berlalu pergi. Riko memandang Sera yang kini juga menatapnya, dia pun melangkah mendekati gadis itu.
"Bagaimana, kamu masih merasa sakit?"
"Sudah tidak," sahut Sera pelan, tadi dokter sudah memberikan obat pereda nyeri padanya.
Tiba-tiba pintu ruangan Sera terbuka, Damar yang baru datang langsung menyelonong masuk.
💘💘💘