
Seharian ini Damar terlihat murung dan lesu, dia galau mengingat kata-kata Sera semalam. Semakin dia membayangkan perpisahan dengan gadis itu, semakin dia merasa tidak rela kehilangan. Walaupun awalnya semua hanya sandiwara, tapi saat ini Damar merasa nyaman dengan hubungan dan statusnya bersama Sera, dia merasa benar-benar menjadi seorang suami, meskipun kenyataannya tidak demikian.
Rupanya sejak tadi Riko memperhatikan sikap Damar, dia yakin ada sesuatu yang menjadi beban pikiran atasannya itu.
"Sejak tadi saya perhatikan, anda murung terus, Pak. Apa ada masalah?"
"Aku lagi pusing, Ko," jawab Damar malas.
"Pusing kenapa lagi? Anak anda sudah mulai berdamai dengan anda, mama anda juga sudah pulang ke Italia."
"Aku lagi memikirkan cara dan waktu bercerai dari Sera," dalih Damar.
"Kenapa terburu-buru sekali, Pak? Kalian baru menikah, masa mau langsung berpisah? Tunggu beberapa bulan atau paling tidak satu tahun agar orang-orang tidak curiga."
"Aku juga berpikir seperti itu, tapi tadi malam Sera sudah menanyakan kapan semua ini berakhir, aku rasa dia tidak ingin terlalu lama terikat dalam pernikahan ini."
"Mungkin dia hanya bertanya saja agar anda bisa memikirkan alasan yang tepat dari sekarang, kan kalian tidak mungkin bercerai tanpa alasan, pasti harus ada masalah."
"Kamu benar, Ko."
"Riko memang selalu benar!" balas Riko sombong.
"Iya, saking benarnya, kamu sampai membuat aku terkena masalah dan terjebak dalam sandiwara pernikahan ini," sindir Damar.
Riko meringis sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Makanya saya membantu anda mencari solusinya."
Damar mencibir, "Solusi apanya? Yang ada kamu itu membuat posisi aku semakin rumit dan serba salah."
Riko mengerutkan keningnya, "Serba salah gimana, Pak?"
Damar mendadak gugup, dia tidak mungkin mengatakan yang dia rasakan terhadap Sera. Bisa-bisa bawahannya itu meledeknya habis-habisan kalau tahu perasaannya saat ini.
"Ah, sudahlah! Percuma bicara dengan kamu, aku mau pulang saja!" Damar beranjak dan buru-buru pergi demi menghindari pertanyaan Riko itu.
"Lah, Pak! Jam pulang masih dua puluh menit lagi!" pekik Riko heboh saat melihat Damar keluar dari ruangannya.
***
Sera dan Yuni sedang bersantai di ruang keluarga sambil menonton sinetron kesukaan Yuni, tiba-tiba Dafi datang dan langsung duduk di samping gadis itu. Sera sontak berengsut dan bergeser menjauh dari mantannya tersebut.
Dafi tersenyum memandang Yuni, "Mbak, bisa tolong buatkan aku minuman? Apa saja boleh."
Yuni mengangguk meskipun merasa kesal, "Iya, sebentar."
Dengan perasaan dongkol karena Dafi menggangunya dan Sera, Yuni pun beranjak ke dapur.
"Bagaimana luka kamu? Sudah baikan?" tanya Dafi.
"Tidak usah sok baik dan sok peduli padaku!" sahut Sera ketus.
"Ra, aku bukan sok baik atau sok peduli, aku hanya mencemaskan mu saja," bantah Dafi.
"Tidak perlu mencemaskan aku?"
"Ra, please! Jangan terus-terusan bersikap seperti ini padaku!"
Sera sontak menatap tajam Dafi, "Lalu aku harus bersikap bagaimana pada orang yang sangat aku benci?"
Dafi tertegun, bagai dihantam batu besar rasanya saat mendengar Sera membencinya. Sakit.
"Ra, aku mohon maafkan aku. Aku rela melakukan apa pun, asalkan kamu mau memaafkan aku," harap Dafi.
"Baiklah, kalau begitu jangan pernah mengganggu aku lagi, maka aku akan memaafkan mu." Sera beranjak pergi.
Dafi juga bangkit mengejar Sera lalu menarik lengan gadis itu, "Sera tunggu! Aku mohon dengarkan aku dulu."
Sera berontak dan menepis kasar tangan Dafi, "Lepaskan! Jangan sentuh aku!"
"Ra, kita masih bisa bicarakan ini baik-baik."
"Kita sudah berakhir! Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi!"
"Tapi aku ingin kita balikan, kita masih bisa memulai segalanya dari awal."
"Kau tidak lihat aku sudah menikah dengan Papamu?"
"Aku tahu kalian hanya bersandiwara, kalian tidak saling mencintai. Iya, kan?" ujar Dafi.
Sera terdiam, dia heran dari mana Dafi mengetahui semua itu.
"Aku tidak rela kamu dimanfaatkan oleh Papaku, aku tidak terima dia merusak hidupmu!" lanjut Dafi emosi.
"Dia tidak memanfaatkan aku, dia juga tidak merusak hidupku, bahkan dia sudah sangat banyak membantuku. Jadi kau jangan sok tahu dan sembarangan bicara!" sanggah Sera.
"Kamu tidak sadar, jika kalian berpisah nanti, statusmu akan menjadi janda dan kamu tahu kan bagaimana pandangan orang tentang janda. Aku tidak ingin di masa depan kamu yang dirugikan."
"Itu bukan urusanmu!" bentak Sera.
Tepat di saat bersamaan Damar pulang dan melihat pertengkaran mereka, tapi alih-alih melerai, dia hanya terpaku memandangi dua insan itu tanpa sepengetahuan mereka.
"Tapi aku tidak bisa membiarkan mu begitu saja, aku masih mencintaimu, Sera!Aku ingin melindungi dan menjagamu seperti dulu lagi. Aku berjanji akan membahagiakan mu seumur hidupku."
"Hentikan omong kosong mu itu! Kalau kau memang mencintaiku, kau tidak akan menyakiti aku!" sungut Sera.
"Aku khilaf, aku mohon maafkan aku!" Dafi berusaha meraih tangan Sera, tapi gadis itu menghindar.
"Maaf kau bilang? Kau tidak tahu betapa sakit dan hancurnya perasaan ku! Kau juga tidak tahu seberapa berat aku melewati semua ini, dan sekarang kau datang lalu dengan mudahnya meminta maaf? Di mana pikiran mu?" Sera berbicara dengan berlinang air mata.
Dafi hanya terdiam menyesal, dia benar-benar merasa bersalah.
Begitu pun dengan Damar, dia seketika merasakan sakit dan kecewa saat mengetahui hubungan yang sebenarnya antara Sera dan Dafi. Sekarang dia tahu jika putranya lah mantan kekasih Sera yang berengsek itu.
"Sejak malam itu aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan mu! Jadi tolong jangan ganggu aku lagi!" sambung Sera.
Entah apa yang ada dipikiran Dafi, tiba-tiba dia menarik tengkuk Sera dan mencium paksa bibir gadis tersebut.
Damar dan Yuni terkejut melihat adegan tak terduga itu. Damar bahkan sampai mengepalkan tangannya dengan kuat untuk menahan geram.
Sera pun memberontak dan mendorong Dafi sekuat tenaga hingga tautan bibir mereka terlepas, lalu menampar pipi mantannya itu dengan penuh emosi. Damar dan Yuni tercengang melihat Sera bersikap kasar terhadap Dafi.
"Kau keterlaluan! Aku benci kau!" jerit Sera, dia berbalik hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat melihat Damar berdiri dan menatap mereka dengan sorot tajam.
Sera tercengang, "Om Damar?"
"Papa?" Dafi pun sama terkejutnya dengan Sera, dia tak menyangka sang ayah akan memergoki mereka.
Damar melangkah mendekati mereka, dia menatap tajam Sera yang langsung tertunduk.
"Jadi kalian pernah punya hubungan sebelumnya?" tanya Damar dingin.
"Iya." jawab Dafi tegas, sedangkan Sera hanya bergeming.
"Berapa lama kalian pacaran?"
"Tiga tahun," jawab Dafi lagi.
Hati Damar semakin berdenyut mendengar itu, tiga tahun bukan waktu yang singkat, hubungan keduanya pasti sudah serius.
Tanpa di duga, Damar meraih tangan Sera dan mencengkeramnya sedikit kuat, "Kita perlu bicara!"
Damar lantas menarik Sera pergi dari ruang keluarga, meninggalkan Dafi dan Yuni yang terpaku memandangi mereka.
***