
Tibalah hari pernikahan yang dinanti-nantikan oleh semua orang, para talent yang menyamar menjadi kerabat Sera sudah hadir di apartemen gadis itu dan tengah bersiap-siap untuk menjalankan sandiwara mereka.
Sementara Sera sendiri sedang dirias oleh MUA yang sudah dipesankan oleh Lusi, dia terlihat begitu cantik dan menawan dengan balutan kebaya putih pilihan sang calon mertua.
Ruang tamu apartemen yang tidak terlalu luas sudah dihiasi dengan bunga-bunga indah dan lampu-lampu nan cantik. Makanan dan minuman juga sudah terhidang di atas meja.
"Kalian sudah siap?" tanya Deni.
"Sudah," jawab Raffi, Ayu dan Hesti serentak.
"Bagaimana dengan Ferdi dan Bang Jamal?" tanya Deni lagi.
"Katanya mereka akan segera ke sini jika keluarga Mas Damar sudah datang, nanti aku akan kabarin mereka," sahut Hesti.
"Baiklah, usahakan jangan melakukan kesalahan sekecil apa pun. Itu pesan Mas Damar."
Raffi, Ayu dan Hesti mengangguk patuh.
Tak berapa lama, Damar beserta rombongan keluarganya pun tiba di apartemen tersebut.
"Rombongan pengantin prianya sudah datang, ayo kita sambut!" pinta Raffi yang bergegas menghampiri Damar dan juga keluarganya.
"Selamat datang bapak dan ibu, silakan masuk," sambut Raffi ramah.
Damar dan semua orang masuk, mereka pun saling bersalaman.
"Silakan duduk, bapak dan ibu," ujar Ayu, "saya akan panggilkan pengantin wanitanya dulu."
Ayu bergegas masuk ke dalam kamar untuk memanggil Sera, sementara Hesti buru-buru mengirimkan pesan ke Ferdi jika rombongan pengantin prianya sudah tiba.
Di dalam kamar, Ayu langsung menarik Sera untuk segera keluar, "Rombongan pengantin prianya sudah datang, ayo keluar!"
"Mbak, aku deg-degan." Sera terpaku di tempatnya sambil memegangi dada, dia sangat takut sampai-sampai tangannya dingin dan basah karena berkeringat.
"Tenangkan dirimu, tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan."
Sera mengikuti apa yang Ayu perintahkan, dia menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.
"Bagaimana? Sudah lebih tenang?" Ayu memastikan.
Sera menggeleng, "Masih deg-degan."
Sera menenggak air putih itu sampai tandas, lalu mengembalikan gelas kosongnya ke Ayu.
"Sudah?" tanya Ayu lagi.
Kali ini Sera mengangguk, "Sudah lebih baik, Mbak."
"Sekarang kita keluar, semua orang sudah menunggu."
Ayu menggamit lengan Sera, keduanya berjalan beriringan keluar dari kamar.
"Itu pengantin wanitanya." Lusi menunjuk Sera yang berjalan ke arah mereka, "Wah, cantiknya."
Damar dan semua orang sangat takjub melihat kecantikan Sera, dia bak bidadari yang turun dari khayangan. Sangat mempesona.
"Dia cantik sekali," batin Damar, dia begitu terpana melihat Sera, matanya bahkan tak berkedip memandang gadis itu.
"Awas jatuh cinta sungguhan, Pak," bisik Riko yang duduk di belakang Damar, membuat duda tampan itu tersentak dan mendadak salah tingkah.
"Kamu apa-apaan, sih, Ko?" tegur Damar pelan.
"Saya hanya bercanda, Pak," balas Riko, lalu terkekeh.
Sera duduk di hadapan Damar dan rombongannya, kepala gadis itu hanya tertunduk sebab merasa takut dan gugup.
Damar justru berulang kali mencuri-curi pandang ke arah Sera, sungguh dia tak bisa berhenti menatap gadis itu.
Sementara itu di jalanan ibukota, Ferdi yang berboncengan dengan Jamal sedang memacu sepeda motornya menuju apartemen Sera. Dia sengaja tidak naik mobil karena takut terjebak macet dan membuat mereka semakin lama tiba di sana, apalagi dia telah mendapatkan kabar dari Hesti jika Damar dan rombongannya sudah datang.
"Kalau kamu tidak telat bangun, kita tidak mungkin terburu-buru seperti ini." Jamal mengomeli Ferdi yang kesiangan sehingga mereka jadi terlambat datang ke apartemen Sera.
"Sorry, Bang. Tadi malam aku ada acara dengan teman-teman ku sampai subuh. Ini saja masih ngantuk banget," sahut Ferdi yang terus menambah kecepatan motornya agar segera tiba di tempat tujuan.
Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, saat di pertigaan, sepeda motor yang mereka kendarai ditabrak oleh sebuah mobil yang melaju kencang. Ferdi dan juga Jamal langsung terpental ke aspal, bahkan sepeda motor mereka terseret hingga beberapa meter.
"Aduh." Ferdi merintih kesakitan, sementara Jamal sudah tidak sadarkan diri.
Orang-orang seketika berdatangan mengerumuni Ferdi dan Jamal yang sudah terkapar dengan luka yang cukup parah, beberapa dari mereka langsung menghubungi ambulans, agar kedua korban kecelakaan itu bisa segera dibawa ke rumah sakit guna mendapatkan pertolongan medis.
***