My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 106.



Sera sedang menyuapi Damar makan siang, keduanya bercengkrama dan bercanda tawa. Damar merasa senang sekali karena Sera selalu ada di dekatnya, merawat dan menjaganya.


Tiba-tiba pintu ruang perawatan Damar diketuk dari luar, Sera pun beranjak lalu membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Anggi beserta kedua orang tuanya, Sera merasa sedikit kesal tapi dia berusaha bersikap biasa saja, sedangkan Damar memandang mereka dengan wajah bingung.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Anggi sambil meletakkan sekeranjang buah-buahan di atas meja.


"Sudah lebih baik," jawab Damar.


"Syukurlah, aku tenang sekarang," balas Anggi.


Sera hanya berdiri di depan pintu dan memperhatikan mereka.


"Kami ke sini ingin mengucapkan terima kasih sekaligus minta maaf," ujar Anggi.


Damar mengernyit heran.


"Terima kasih untuk semua yang telah kamu lakukan dan berikan pada Dafi selama ini, aku sudah tahu semuanya dari dia," lanjut Anggi.


"Tidak perlu berterima kasih, itu sudah kewajiban aku sebagai seorang ayah."


Anggi tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


"Damar, aku minta maaf atas semua yang sudah aku dan keluargaku lakukan padamu di masa lalu, aku minta maaf karena sudah menyakitimu dan juga keluargamu. Aku menyesali semua itu." Anggi tertunduk sedih.


"Iya, Damar. Tante dan Om juga minta maaf atas apa yang sudah kami lakukan padamu, kami sudah membuat Dafi membenci dan memusuhi kamu bertahun-tahun. Kami sungguh minta maaf," sambung Ratih yang tak lain adalah ibunya Anggi.


Sementara Arman hanya tertunduk menyesal sembari memeluk tubuh sang istri.


Damar mengembuskan napas panjang, "Sudahlah, semua sudah berlalu. Aku juga sudah memaafkan kalian jauh sebelum kalian minta maaf, ini sudah takdir, jangan disesali lagi."


Sera tertegun mendengar kata-kata Damar yang begitu bijaksana, dia semakin kagum pada lelaki itu.


"Terima kasih," ucap Anggi sambil tersenyum.


"Iya, setelah ini hiduplah dengan baik dan jangan melakukan kesalahan-kesalahan yang sama lagi," imbuh Damar.


Anggi mengangguk lalu tiba-tiba memeluk Damar, hal itu sontak membuat hati Sera panas dan cemburu, wajah cantiknya kini berubah masam, dia menatap mereka dengan sinis.


Anggi melepaskan pelukannya dan menjauh dari Damat, tapi tatapan sinis Sera masih belum beralih dari mereka.


"Kalau begitu kami sekalian pamit, ya. Aku dan orang tua ku akan kembali ke Surabaya, aku titip Dafi pada kamu."


"Iya, kamu tenang saja. Aku akan menjaga Dafi dengan baik."


"Semoga cepat sembuh," ucap Anggi lago, dan Damar hanya mengangguk.


"Om dan Tante pamit, ya. Titip salam buat Mama dan Papa kamu," sela Arman.


"Iya, Om. Hati-hati di jalan."


Anggi lalu berjalan mendekati Sera dan memeluk gadis itu, "Aku minta maaf karena sudah bicara kasar dan menuduh kamu yang tidak-tidak."


"Iya, tidak apa-apa."


"Kamu beruntung bisa mendapatkan laki-laki sebaik Damar, jangan pernah kecewakan dia!"


Sera sempat terdiam menatap Damar, namun akhirnya dia mengangguk.


Anggi dan kedua orang tuanya pun akhirnya meninggalkan ruang perawatan Damar, Sera kembali mendekati lelaki itu, wajahnya masih masam.


"Makan lagi?" tanya Sera datar, dia tidak lagi ceria seperti sebelumnya.


Damar menggeleng, "Sudah, Om sudah kenyang."


"Dipeluk mantan istri langsung kenyang, ya?" sindir Sera sinis.


Damar mengerutkan keningnya, dia menatap Sera dengan bingung, "Kenapa kamu bicara seperti itu?"


Di saat bersamaan Riko beserta Ferdi, Rafi dan Deni datang mengunjungi Damar sebelum Sera sempat menjawab.


"Sudah lebih baik," sahut Damar sambil melirik Sera yang berdiri di sampingnya.


"Wah, Sera sudah seperti istri sungguhan saja, setia menemani suami yang sedang sakit," ledek Raffi.


"Lah, kan memang dia istri sungguhan," sela Deni.


Ferdi sontak menatap Sera dan Damar bergantian dengan wajah mesum, "Kalian sudah jadi suami istri sungguhan?"


"Apaan, sih?" sungut Sera, sementara Damar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku para talent itu.


Semua orang pun tertawa kecuali Sera yang wajahnya tetap masam.


"Sssstt, jangan berisik! Ini rumah sakit." Riko mengingatkan.


"Kami dengar dari Riko kalau Mas Damar ditikam orang, makanya kami datang untuk menjenguk," terang Ferdi meskipun tak ada yang bertanya.


"Terima kasih, ya," balas Damar.


Dafi tiba-tiba masuk sambil membawa makan siang untuk Sera, dia terkejut saat melihat Ferdi ada di ruang perawatan sang ayah. Begitu juga dengan Ferdi, dia tak menyangka akan bertemu Dafi di sini.


"Dafi?"


"Mas Ferdi?"


Semua orang terkejut mengetahui jika keduanya sudah saling kenal. Sera tahu Ferdi itu saudaranya Alvin, tapi dia tak menyangka Ferdi juga mengenal Dafi.


"Kalian saling kenal?" tanya Riko.


"Mas Ferdi ini kakaknya sahabat aku, Mas," jawab Dafi jujur.


Semuanya tercengang mendapati kenyataan itu.


"Wah, ternyata dunia ini benar-benar sempit!" cicit Riko.


"Kamu ngapain di sini?" Ferdi bertanya pada Dafi.


Pemuda itu terdiam sambil memandang Sera dan Damar bergantian, dia sempat ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, namun entah apa yang mendorongnya hingga akhirnya berkata jujur.


"Ini Papaku, Mas."


Ketiga talent itu kembali tercengang.


"Serius kamu, Daf?" Ferdi memastikan.


Dafi mengangguk, "Iya, Mas."


Ferdi terperangah tak percaya, "Jadi Papa kamu menikah dengan mantan kamu sendiri?"


Dafi mengangguk dua kali.


"Wah, amazing!" seru Ferdi, tapi kemudian dia berlutut menghadap Damar dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada, "Maafkan aku, Mas!"


Damar dan semua orang bingung melihat tingkah lelaki yang jago bersandiwara itu.


Damar mengernyit heran, "Kamu kenapa?"


"Kemarin aku tidak sengaja membeberkan sandiwara Mas dan Sera pada Dafi, aku tidak tahu kalau dia itu putranya Mas. Aku minta maaf!" ungkap Ferdi penuh drama.


Lagi-lagi orang di ruangan itu terkejut mendengar pengakuan Ferdi, kecuali Dafi tentunya.


"Dasar ember bocor!" gerutu Damar.


"Tapi kenapa Mas Ferdi bisa cerita ke Dafi?" Tanya Riko.


Ferdi dan Dafi pun menceritakan bagaimana kronologisnya hingga rahasia yang seharusnya disimpan rapat itu bisa terbongkar. Sekarang Damar juga Sera tahu dari mana Dafi mengetahui tentang sandiwara mereka dan menjadikannya sebagai alat untuk mengancam sang ayah.


***