My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 72.



Keesokan paginya, Sera mulai menjalankan rencananya untuk memanas-manasi Dafi, dia keramas lalu berdandan sangat cantik.


Sera turun ke lantai bawah untuk sarapan, dan di meja makan sudah ada Dafi yang sedang menyantap nasi goreng buatan Yuni.


Meskipun sedikit deg-degan dan canggung tapi Sera berusaha bersikap biasa saja di depan mantannya itu. Dia melangkah mendekati meja makan dan duduk di samping Dafi, membuat lelaki sedikit heran namun pura-pura cuek.


Yuni yang melihat Sera langsung meledeknya, "Wah, setiap hari keramas terus, nih."


"Maklumlah, Eonni. Namanya juga pengantin baru," balas Sera sambil melirik Dafi yang terlihat tak acuh.


Sebenarnya Dafi sedikit kesal mendengarnya, namun dia tetap berusaha tenang dan mendadak sebuah ide muncul di kepalanya.


"Iya, deh, iya. Aku paham," sahut Yuni kemudian kembali ke dapur.


Setelah Yuni pergi, Dafi menoleh menatap Sera, "Kamu tidak kaget saat tahu Papa belum sunat."


Sera yang terkejut sontak memandang Dafi, "Apa? Belum sunat?"


"Kenapa reaksi mu begitu? Jangan-jangan kamu tidak tahu."


Sera terdiam sambil menutup mulutnya dengan tangan.


Dafi kembali fokus ke makanan di hadapannya sambil tersenyum sinis, "Aneh, ya? Masa sudah jadi istri tapi tidak tahu hal itu."


Dafi memang sengaja memancing Sera dan kini dia sudah mendapatkan jawabannya, dia yakin jika ayahnya dan gadis itu belum pernah melakukan hubungan suami istri.


Sera termangu, dia sadar telah salah bicara dan masuk ke dalam jebakan Dafi.


Di saat bersamaan Damar pun turun dan bergabung bersama mereka di meja makan.


"Selamat pagi, semua. Ternyata kalian sudah duluan, ya?" sapa Damar, namun tak ada yang membalas sapaannya.


Sera hanya terdiam dengan wajah tegang, sedangkan Dafi langsung beranjak dari duduknya.


"Aku sudah selesai, aku berangkat kuliah dulu."


"Oh, baiklah kalau begitu hati-hati di jalan," ujar Damar.


Dafi hanya mengangguk, namun sebelum pergi dia berbisik di telinga Sera, "Yang tadi hanya bercanda, kok."


Dafi kemudian melangkah pergi sembari menyeringai penuh kemenangan, sementara Sera masih bergeming.


Damar yang melihat tingkah Dafi dan sikap diam Sera itu merasa curiga.


"Ada apa?"


Sera menggeleng, "Tidak ada apa-apa."


"Lalu kenapa wajahmu tegang begitu? Apa Dafi mengatakan sesuatu yang menyinggung mu?"


"Tidak, kok," jawab Sera dan pura-pura sibuk sarapan, dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya sebab merasa malu dan juga tak ingin Damar curiga.


Meskipun Sera tak mau bicara, tapi Damar yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh gadis itu, namun dia tak mau memaksa.


***


Sera sedang curhat pada Yuni, dia menceritakan apa yang dilakukan Dafi tadi pagi saat sarapan. Dia takut mantannya itu melakukan sesuatu untuk membongkar semua rahasia dan sandiwaranya.


"Gimana ini, Eonni? Aku yakin dia pasti punya rencana buruk."


"Kamu tenang saja, jangan panik! Kita akan ikuti permainan dia, dan tetap pada rencana awal kita. Kamu harus membuat dia iri dan menyesal, nanti aku akan bantu kamu."


"Tapi bagaimana kalau dia mengatakan yang sebenarnya ke Om Damar?" tanya Sera cemas.


Sera termangu, sejujurnya dia juga heran sebab Dafi tak membeberkan hubungan mereka kepada Damar, seolah-olah pemuda itu membenarkan jika mereka hanya teman sekolah.


Lamunan Sera buyar saat sebuah pesan email masuk ke ponselnya, dia buru-buru membaca pesan tersebut yang ternyata dari Universitas tempat dia mendaftar kuliah.


"Eonni, besok aku akan ujian seleksi!" seru Sera.


"Wah, kalau begitu kamu harus siap-siap! Ayo, buruan belajar!" ujar Yuni heboh.


"Iya-iya, Eonni. Aku mau belajar dulu." Sera beranjak dan hendak pergi ke kamar, namun tepat bersamaan Dafi pulang sambil membawa bungkusan.


Wajah Sera berubah masam saat melihat mantannya itu berjalan ke arahnya.


"Hai, Ra. Aku bawain sesuatu untuk kamu." Dafi menyodorkan bungkusan yang dia bawa ke hadapan mantannya itu.


Sera terdiam memandangi bungkusan itu.


"Ada ceker mercon dan telur gulung kesukaan kamu, aku beli di warung langganan kita," lanjut Dafi dengan senyum mengembang.


Hati Sera seketika bergetar dan dengan cepat cairan bening menggenangi matanya, dia teringat saat membeli jajanan itu bersama Dafi dulu.


Yuni hanya terdiam kebingungan, dia heran melihat tingkah Dafi itu.


"Aku tidak mau!" tolak Sera tegas, dia sedang berusaha mati-matian menahan air matanya.


Dafi mengerutkan keningnya, "Kenapa? Bukankah kamu sangat menyukainya? Bahkan dulu hampir setiap hari kamu minta aku belikan ini."


"Sekarang sudah tidak suka lagi!" ujar Sera ketus dan bergegas pergi dari hadapan Dafi, air matanya pun jatuh menetes namun buru-buru dia hapus.


Dafi terdiam sambil memandangi bungkusan yang dia pegang, dia tahu Sera pasti akan menolak pemberiannya itu, tapi dia tak peduli, karena tujuannya adalah ingin merebut hati Sera kembali dan memisahkan gadis itu dari ayahnya.


Di dalam kamar, Sera menangis sesenggukan, dia kembali teringat saat dirinya merengek minta dibelikan ceker mercon dan telur gulung kesukaannya itu pada Dafi, dia bahkan rela mengecup pipi sang mantan sebagai imbalan.


Dulu mereka begitu bahagia, sampai sebuah kenyataan menyakitkan akhirnya membuat hubungan mereka hancur. Sera sangat terpukul dan terluka saat itu, namun perlahan dia bangkit dan menata kembali hidupnya. Tapi kini Dafi hadir lagi dan membuat luka lamanya kembali terbuka.


"Kenapa kamu mengingatkan aku tentang kenangan kita, Daf? Padahal aku sudah susah payah melupakannya," ucap Sera lirih.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dibarengi dengan teriakkan Yuni.


"Sera, buka pintunya!"


Sera mengusap air matanya dan segera membukakan pintu untuk Yuni.


Melihat wajah Sera yang merah dan matanya yang basah, Yuni mendadak cemas, "Kamu nangis?"


Sera hanya bergeming dan tertunduk.


"Pasti ini karena ulah anak Oppa tadi, kan?" tebak Yuni.


Sera mengangguk pelan, "Aku sedih, Eonni. Aku jadi teringat saat-saat kami masih bersama dulu."


"Sera, kamu jangan terpancing! Aku yakin semua ini bagian dari rencananya. Kamu harus fokus pada rencana awal kita, jadi jangan mudah terbawa perasaan." Yuni mengingatkan.


"Aku tidak bisa, Eonni!" bantah Sera.


"Kamu pasti bisa! Ingat, dia sudah mengkhianati dan menyakiti kamu. Sekarang saatnya kamu balas dendam."


Sera sontak teringat malam nahas itu, malam paling menyakitkan dalam hidupnya, di mana dia nyaris dilecehkan oleh Heru, melihat Dafi selingkuh dan tertabrak mobil Damar. Rasa marah dan benci seketika memenuhi hatinya.


***