
Usai menaiki gondola mengelilingi kanal, Sera dan Damar melanjutkan liburan mereka ke Piazza San Marco, yang merupakan alun-alun utama dan terbesar di Venesia.
Tempat itu tidak pernah sepi pengunjung, banyak wisatawan dari berbagai negara datang untuk menikmati keindahan bangunan-bangunan bersejarah yang memiliki arsitektur unik dan juga ratusan burung merpati yang selalu turun mencari makan di sekitar alun-alun.
"Wah, tempatnya bagus sekali!" seru Sera girang, "burung merpati nya banyak."
"Kamu mau memberi makan burung-burung itu?" tanya Damar.
"Boleh, Om?"
"Boleh, dong! Kalau begitu kamu tunggu di sini, Om mau beli jagung dulu." Damar meninggalkan Sera dan membeli jagung di kios sekitar alun-alun.
Tak lama kemudian, pria berwajah rupawan itu kembali lagi dan menyerahkan sekantung jagung pada Sera, "Ini jagungnya."
Sera mengambil kantung berisi jagung itu, lalu segera memberikannya ke burung-burung merpati yang mendekatinya.
"Ayo, sini-sini! Siapa yang mau jagung?" ucap Sera pada burung-burung itu.
Damar memperhatikan tingkah gadis itu sambil tersenyum, dia lalu iseng merekam Sera dengan ponselnya.
Sera beralih memandang Damar, "Om tidak mau memberi makan burung-burung ini?"
Damar menggeleng, "Tidak, kamu saja."
"Kalau begitu foto aku bersama mereka, ya, Om?"
"Iya." Damar berhenti merekam dan berganti memotret Sera yang berpose bersama burung-burung merpati itu.
Sera juga berpose di bawah menara lonceng Basilica dan di depan gedung-gedung yang membentang indah di sepanjang alun-alun San Marco.
"Om tidak mau foto juga? Sini biar aku ambilkan."
"Tidak usah, Om fotoin kamu saja."
"Ish, kenapa gitu? Masa cuma aku saja yang foto? Om juga, ya?" rengek Sera.
Damar akhirnya mengangguk.
"Kalau begitu cepat bergaya, Om!" pinta Sera heboh.
Damar berpose ala kadarnya dan Sera langsung memotret suaminya itu, mereka juga mengambil beberapa foto selfie. Damar mengirimkan foto-foto mereka ke Lusi, agar sang mama senang.
"Kita makan siang dulu, yuk! Om sudah mulai lapar," ajak Damar.
"Iya, aku juga sudah lapar."
"Kamu mau makan apa?" tanya Damar
"Apa saja, yang penting buat kenyang."
"Ya sudah, kita cari restoran, nanti kita lihat apa saja menunya."
Sera mengangguk setuju.
Keduanya melenggang pergi, menyusuri jalanan di San Marco dan memilih sebuah restoran halal, yaitu SKK Mediterranea.
"Kamu pesan apa?" Damar bertanya sambil memperhatikan menu makanan yang terpampang di dinding restoran.
"Tidak ada nasi soto, ya, Om?" tanya Sera polos sebab menunya tak ada yang dia kenal.
Damar sontak tertawa.
Sera mengernyit heran, "Om kenapa tertawa?"
"Sera, ini bukan warteg, mana ada nasi soto," sahut Damar, lalu menunjuk daftar menu makanan di hadapan mereka, "yang ada itu burger, kebab, pizza, bigoli dan aneka pasta."
Wajah Sera cemberut, "Aku tidak kenyang kalau makan itu, Om."
"Kalau begitu makannya yang banyak, biar kenyang," sambung Damar enteng.
"Ya sudah, aku pesan pizza saja, deh. Tapi yang jumbo, ya, Om?"
"Iya, Tuan Putri," balas Damar, lalu segera memesan makanan dalam bahasa Inggris.
Lima belas menit kemudian, pesanan mereka pun datang, Pizza jumbo dengan toping daging dan keju mozzarella, pasta bolognese, serta dua gelas besar minuman soda.
***
Dafi yang sedang tidur tersentak saat mendengar suara ketukan dari luar kamar kostnya, dengan malas dia bangkit dan segera membuka pintu, ternyata Marcell yang datang.
"Bro, gimana keadaanmu?" tanya Marcell.
"Buruk."
"Kamu masih sedih karena Sera menikah?"
Dafi tak menjawab, dia kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
Marcell tahu Dafi masih sangat terpukul, makanya dia ingin menemani sahabatnya itu.
"Ini aku bawakan ketoprak buat kamu, makanlah!" Marcell menyodorkan bungkusan.
"Terima kasih, letak saja di situ, nanti aku makan," sahut Dafi tak acuh.
Marcell meletakkan bungkusan berisi ketoprak yang dia bawa itu di atas meja, lalu duduk di tepi ranjang.
"Kamu sudah lihat media sosial hari ini?"
Dafi menggeleng, "Sejak semalam aku belum ada mengecek ponsel."
Iya, semalaman Dafi tidak bisa tidur memikirkan Sera, dia baru terlelap saat menjelang pagi, alhasil seharian ini dia hanya menghabiskan waktu dengan tidur.
Marcell terdiam, dia pikir Dafi sudah melihat foto yang di posting oleh Sera tadi, namun ternyata belum. Dia jadi merasa tidak enak memberitahu sahabatnya itu.
Melihat Marcell diam, Dafi menjadi curiga, "Memangnya ada apa, Cell?"
Marcell mendadak gugup, dia menelan ludah sebelum bicara, "Sera memosting foto liburan di Venesia."
Jantung Dafi seketika berdenyut dan nyeri, hatinya merasa cemburu dan panas.
"Foto bersama seorang pria, mungkin suaminya, tapi dia menutup wajah suaminya itu dengan emoticon. Sepertinya dia ingin membuat orang lain penasaran dengan wajah suaminya," terang Marcell.
Dafi bergegas mengambil ponselnya dan mengecek foto yang dimaksud Marcell itu, hatinya kian terasa pedih saat melihat foto Sera tengah tersenyum manis bersama Damar. Meskipun wajah Damar ditutupi oleh emoticon, tapi dia tahu itu adalah sang ayah.
Dafi meremas kuat ponselnya demi menahan geram, dia sungguh tidak bisa terima melihat mereka begitu bahagia.
"Sabar, Bro. Kalian telah berakhir dan sekarang dia sudah bahagia bersama orang lain, kamu harus ikhlas! Mulailah hidup yang baru, kejar kebahagiaan mu juga," ucap Marcell sembari menepuk pundak sang sahabat.
Dafi tak menjawab, dia sedang berusaha menahan perasaannya yang berkecamuk. Benar apa yang dikatakan Marcell, tapi nyatanya tidak mudah merelakan semuanya begitu saja. Mungkin hanya waktu yang mampu menyembuhkan luka hatinya dan memulihkan perasaannya yang hancur berkeping-keping, meski dia tidak tahu berapa lama.
Dafi mengembuskan napas berat, dia melempar ponselnya ke kasur dan kembali memejamkan mata. Marcell merasa prihatin dengan sahabatnya itu, namun sebuah ide tiba-tiba muncul di kepala Marcell untuk mengalihkan pikiran agar Dafi tidak berlarut-larut dalam kesedihannya.
"Eh, Daf, kamu sudah jenguk Mas Ferdi?"
"Belum, aku belum ada jenguk dia," jawab Dafi malas.
"Sama aku juga belum. Bagaimana kalau habis ini kita jenguk dia, mumpung Davin juga lagi ada di rumah sakit," cetus Marcell.
"Aku malas keluar, Cell."
"Ayolah, Bro! Keluar dan cari hiburan," desak Marcell.
"Cari hiburan kok ke rumah sakit," gerutu Dafi.
"Iya, kita jenguk Mas Ferdi dulu, habis itu baru cari hiburan. Entar kita ajak Alvin juga, biar kamu tidak galau dan sedih terus," bujuk Marcell.
Dafi bergeming, dia masih menimbang-nimbang ajakan Marcell itu.
"Dafi, yuk!"
"Memangnya kamu tidak kerja hari ini?"
"Aku off hari ini, makanya bisa kelayapan," sahut Marcell, "ayolah!"
Dafi menghela napas pasrah, "Baiklah."
"Yes! Gitu, dong!" Seru Marcell.
***