
Pasangan suami istri itu melangkah bersama menuruni anak tangga, setiap pasang mata memandang takjub pada mereka. Keduanya pun menghampiri Lusi yang sedang mengobrol dengan teman-temannya.
"Hai, sayang. Kamu cantik sekali memakai gaun itu, seperti model kelas atas." Lusi memuji dengan berlebihan.
Sera tersipu malu, "Mama bisa saja."
Lusi lalu memperkenalkan Sera pada teman-temannya dalam bahasa Italia, "Questa è mia nuora, si chiama Sera."
"Ciao, Sera." Teman-teman Lusi menyapa Sera sambil melambaikan tangan.
Sera yang bingung dengan bahasa mereka hanya menganggukkan kepala dan tersenyum.
"Lei è molto bella." Salah seorang teman Lusi memuji kecantikan Sera.
"Grazie." Lusi mengucapkan terima kasih.
Mereka pun kembali bercengkrama menggunakan bahasa Italia, Sera sama sekali tidak mengerti dan merasa canggung.
"Kita duduk di sana saja, yuk!" Damar menunjuk sofa di dekat Erick dan teman-temannya sedang duduk.
Sera hanya mengangguk, dan keduanya melangkah perlahan menuju sofa itu. Sera dan Damar duduk berdampingan, memandangi para tamu yang semuanya seumuran Lusi juga Erick, tak terlihat ada anak muda di sana. Ini benar-benar pesta untuk orang tua.
Tiba-tiba Erick menghampiri mereka dan menyodorkan dua gelas wine, "Kalian tidak minum? Ini anggur terbaik produksi kilang kita, ayo cobain!"
"Maaf, Pa. Aku tidak minum itu," tolak Sera.
"Sedikit saja, cuma mencicipi." Erick sedikit memaksa.
"Pa, Sera tidak pernah minum yang begituan, jangan dipaksa!"
"Ya sudahlah, kalau begitu kamu saja yang minum!"
"Iya, Pa." Damar pun menenggak anggur merah yang Erick berikan itu.
"Bagaimana?" tanya Erick.
"Perfetto!"
Erick tertawa lalu menepuk pundak Damar, "Kalau begitu Papa tinggal dulu, kalian bersenang-senang lah."
"Iya, Pa," balas Damar dan Sera bersamaan.
Selepas kepergian Erick, Sera menatap Damar dengan penasaran, "Enak, Om?"
"Enak, dong! Kamu mau coba?" goda Damar sambil mengangkat gelas berisi wine yang satunya lagi.
Sera sontak menggeleng cepat, "Tidak, aku tidak mau!"
"Ya sudah, Om minum saja." Damar kembali menenggak wine itu, Sera hanya memandanginya.
Namun seketika suasana menjadi temaram sebab cahaya lampu meredup dan musik romantis mengalun merdu. Sera yang bingung hanya celingukan ke sana-ke mari, dan Lusi mendadak muncul di hadapan mereka.
"Karena ini acara kalian, para tamu ingin melihat kalian berdansa," ujar Lusi.
"Tapi aku tidak bisa berdansa, Ma," bantah Sera.
"Kan ada Damar, nanti dia akan mengajari kamu berdansa. Gini-gini, dia jago dansa, loh." Lusi tersenyum menyindir sang putra.
Keduanya saling pandang dengan wajah tegang, kemudian Damar beralih menatap Lusi.
"Ma, tidak usah, ya? Kami malu."
"Ayolah, sayang. Sebentar saja, please!" desak Lusi.
Damar mengembuskan napas pasrah, "Baiklah."
Sera mendadak gugup dan kebingungan.
Damar mengulurkan tangannya ke hadapan Sera, "Yuk, kita dansa!"
"Tapi aku tidak bisa."
"Nanti aku ajari."
Mau tak mau Sera pun menuruti permintaan Lusi itu, sebenarnya Damar juga malas, tapi dia tak tega menolak keinginan sang mama yang terlihat sangat bahagia malam ini.
Keduanya beranjak lalu berdiri di tengah ruangan, dengan perlahan Damar menggenggam tangan Sera lalu memeluk pinggang belakangnya, membuat gadis itu tersentak kaget dan menatap Damar yang juga sedang memandangnya.
Pasangan suami istri itu mulai berdansa mengikuti alunan musik, jarak mereka sangat dekat sekarang, bahkan Damar bisa merasakan dada Sera menyentuh dadanya, membuat jantungnya berdebar kencang dan hasratnya kembali terpancing.
Bukan hanya Damar, kali ini Sera juga merasakan sesuatu yang aneh, jantungnya bertalu-talu, memicu gelanyar aneh, seperti ada ribuan kepakan sayap kupu-kupu di dalam perutnya. Saking gugupnya, dia akhirnya tertunduk alih-alih terus menatap sang suami.
Semua orang memandang takjub pada dua insan itu, mereka benar-benar terlihat seperti pasangan pengantin baru yang saling mencintai.
Lama kelamaan keduanya mulai terbawa suasana, tanpa sadar Damar mendekatkan wajahnya ke wajah Sera lalu mencium bibir gadis itu dengan sangat lembut.
Sera terkejut, dia sontak mendorong dada Damar dan menatap tajam suaminya itu, "Apa-apaan ini?"
Damar yang tersadar mendadak panik dan malu, "Sera, maaf."
Sera melepaskan tangan Damar dari pinggangnya dan pergi dengan langkah yang hati-hati, beberapa kali dia nyaris terjatuh sehingga dengan sangat terpaksa Sera mencopot heelsnya.
"Sera, tunggu!" Damar buru-buru mengejar istrinya itu.
Lusi dan semua orang yang melihatnya kebingungan, mereka tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Erick menghampiri Lusi, "Ada apa, Ma?"
Lusi geleng-geleng kepala, "Mama juga tidak tahu, Pa. Sera tiba-tiba pergi dan sepertinya dia marah pada Damar."
"Ya sudah, kalau begitu cepat susul mereka, tanya ada apa?" pinta Erick.
"Iya, Pa." Lusi segera menyusul anak dan menantunya itu.
***