My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 15.



Sera, Damar dan Yuni tiba di sebuah pusat jajanan serba ada yang di maksud. Pengunjungnya cukup ramai dan banyak stand makanan yang menjual beraneka ragam kuliner, dari yang Nusantara sampai internasional dan semuanya memberikan diskon besar-besaran untuk hari ini.


Sejak turun dari mobil, Damar terus menggandeng tangan Sera, dia takut Sera tertabrak pengunjung lain dan terjatuh, dia benar-benar melindungi gadis itu dengan sepenuh hati.


"Kita mau pesan apa?" Yuni yang kebingungan celingukan.


"Sebaiknya kita cari tempat duduk dulu, kasihan kalau Sera berdiri terlalu lama," cetus Damar.


Mereka pun mencari-cari tempat duduk dan akhirnya menemukan tempat yang nyaman.


"Kamu duduk di sini." Damar membantu Sera duduk.


"Aku mau pesan makanan dulu, deh." Yuni yang sudah tidak sabar bergegas ke stand makanan favoritnya.


"Kamu mau makan apa? Biar Om pesankan," tanya Damar.


"Tidak usah, Om! Biar aku pesan sendiri saja," tolak Sera sebab merasa tak enak hati jika menyusahkan Damar.


"Sudah biar Om saja, kamu duduk di sini!"


"Ya sudahlah, aku pesan pentol pedas, telur gulung dan ceker mercon, ya, Om."


Damar mengernyit mendengar nama-nama makanan yang Sera sebutkan barusan, dia merasa asing karena tak pernah mendengarnya. Namun dia tak mau protes dan tetap beranjak untuk membelikannya.


Sera duduk sendiri memandangi orang-orang yang berlalu lalang, dia merasa senang karena setelah enam bulan terkurung di rumah Damar, hari ini dia bisa menikmati dunia luar.


Tak berapa lama, Damar pun kembali dengan banyak bungkusan di tangannya. Karena tidak tahu makanan apa yang dipesan Sera itu, dia sampai harus bertanya ke beberapa orang.


"Ini sudah Om belikan." Damar meletakkan bungkusan yang dia pegang di hadapan Sera.


Sera melotot kaget, "Wah, banyak banget, Om?"


"Iya, karena Om tidak tahu makanan apa yang kamu pesan itu jadi Om beli saja semuanya," jawab Damar enteng.


Sera tercengang, "Astaga, Om! Tapi ini terlalu banyak, mana mungkin habis."


"Ya sudah, nanti bawa pulang untuk Bobi saja," pinta Damar, Sera pun mengangguk.


Gadis itu mulai membongkar bungkusan di hadapannya, matanya berbinar saat melihat sebungkus telur gulung, itu jajanan saat dia sekolah dulu.


Tanpa basa-basi Sera langsung melahapnya.


Damar pun tersenyum melihat gadis itu makan.


"Om tidak mau mencobanya?" tanya Sera dengan mulut yang penuh.


"Tidak usah, kamu saja yang makan."


"Ini enak loh, Om harus coba." Sera menyodorkan satu tusuk telur gulung ke depan mulut Damar. "Ayo, Om. Buka mulutnya!"


Mau tak mau Damar membuka mulut dan memakan telur gulung yang disuap oleh Sera itu.


"Enakkan, Om?" Sera memastikan.


Damar mengangguk, "Iya, enak."


"Om mau lagi?"


Kali ini Damar menggelengkan kepalanya. "Tidak, buat kamu saja."


Sera tersenyum lalu kembali memakan telur gulung itu, Damar membukakan segel penutup botol air mineral dan memberikannya ke Sera.


"Ini minum dulu!"


Sera meraih botol air mineral itu dan menenggak isinya, lalu kemudian kembali menikmati makanan di tangannya dengan penuh suka cita.


Damar memperhatikan bibir Sera yang belepotan saus, dia segera mengambil tisu dan mengelapnya dengan lembut. Sera tertegun dengan perlakuan Damar itu, dia seketika teringat saat dulu masih menjalin hubungan dengan Dafi, mantan kekasihnya itu selalu mengelap bibirnya jika dia makan belepotan.


"Dasar bocah! Makan saja masih belepotan," ujar Damar sambil mengusap kepala Sera, membuat gadis itu tersentak dari lamunannya.


Saat bersamaan Yuni pun datang dengan bungkusan yang tidak kalah banyaknya, "Sorry, lama."


Sera mengalihkan pandangannya ke Yuni dan terkesiap, "Ya ampun banyak banget, Eonni?"


"Habis aku selera semuanya," sahut Yuni seenaknya, lalu segera menyantap tahu walik yang dia beli.


Yuni memandang Damar, "Oppa tidak makan?"


"Tidak, kalian saja yang makan," jawab Damar, dia memang tidak terlalu suka jajanan seperti yang Sera dan Yuni makan, bahkan seumur hidup baru kali ini dia ke tempat beginian.


"Yaa, masa tidak makan, sih! Padahal makanan di sini enak-enak semua, loh. Entar Oppa menyesal." Yuni mengoceh dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Iya, Om. Kita kan ke sini mau merayakan kesembuhan ku, masa Om tidak makan. Tidak asyik, ah!" Sera mengomel.


"Baiklah, Om makan, deh." Damar mengalah.


Damar mengambil hamburger yang tadi dia belikan untuk Sera, karena hanya makanan itu yang dia kenal, lalu menyantapnya.


Yuni dan Sera tersenyum senang, keduanya pun lanjut menikmati makanan yang ada di hadapan mereka. Tapi tiba-tiba ponsel Damar berdering, dia merogoh benda pipih itu dari dalam sakunya. Ternyata Lusi yang tak lain adalah Mama Damar menelepon.


"Aku tinggal dulu." Damar beranjak lalu melangkah menjauhi Sera dan Yuni.


Setelah berada di tempat yang lebih sepi, Damar pun segera menjawab telepon itu dari Lusi.


"Halo, Ma."


"Halo, sayang. Besok malam kamu ada acara?"


"Tidak, memangnya kenapa, Ma?" tanya Damar.


"Besok malam kamu bisa tidak temui anaknya teman Mama?"


"Siapa, Ma?"


"Anaknya Tante Elin, namanya Sarah. Dia baru datang ke Jakarta dan ingin bertemu kamu."


Damar mengernyitkan keningnya, "Mau apa dia bertemu aku?"


"Mama kan cerita tentang kamu, jadi Sarah penasaran dan ingin bertemu langsung. Siapa tahu dia tertarik dengan mu, kan kita bisa jadi keluarga dengan Tante Elin."


Sekarang Damar mengerti apa maksud sang mama.


"Jadi Mama mau jodohkan aku dengan anak Tante Elin itu?" tebak Damar.


"Iya, sayang. Anaknya cantik, baik dan berpendidikan. Kamu pasti suka, deh."


"Ma, berapa kali harus aku bilang, aku tidak mau dijodohkan dengan siapapun! Aku masih ingin menikmati kesendirianku," bantah Damar.


"Mau sampai kapan kamu seperti ini? Kamu selalu bergonta-ganti pasangan, kamu hidup tak tentu arah dan hanya memikirkan kesenanganmu saja. Umurmu sudah tiga puluh tujuh tahun, dan kamu sudah lama bercerai, apa tidak ada keinginanmu untuk membina rumah tangga lagi dan memiliki keluarga seperti yang lainnya?"


"Ma, aku sangat menikmati semuanya saat ini, aku tidak masalah hidup sendiri. Jadi Mama jangan khawatir!"


"Damar, sebagai seorang ibu, Mama sedih melihatmu seperti ini. Mama ingin sebelum mati bisa melihatmu menikah dan hidup bahagia."


"Mama tenang saja, aku bahagia, kok."


"Kamu ini keras kepala sekali! Pokoknya Mama tidak mau tahu, kamu harus temui Sarah besok malam!"


"Tapi, Ma ...." Damar memelas.


"Damar, jangan membuat Mama malu! Mama sudah berjanji dengan Tante Elin untuk mempertemukan kamu dengan putrinya. Lagipula kamu kan belum lihat bagaimana Sarah, siapa tahu kamu tertarik."


Damar menghela napas pasrah, saat ini dia benar-benar sedang malas berdebat dengan sang mama.


"Baiklah, Ma. Di mana aku harus menemuinya?"


"Di Antares Hotel jam tujuh malam, awas kalau kamu tidak datang, Mama akan marah besar."


"Iya, Ma, iya."


Lusi mengakhiri pembicaraan dengan sang putra. Damar kembali mengembuskan napas, dia sungguh malas menemui wanita yang bernama Sarah itu. Ini sudah kesekian kalinya Lusi menjodohkan Damar dengan wanita-wanita pilihannya, namun tak satupun ada yang berhasil menerobos benteng pertahanan lelaki itu, dia tetap menutup hatinya dari wanita manapun sebab tak mau terikat dengan yang namanya pernikahan. Bayang-bayang kegagalan di masa lalu masih terus saja menghantuinya sampai detik ini.


Damar juga sengaja tidak menceritakan apa yang terjadi pada Dafi, karena tak ingin mamanya itu khawatir. Karena meskipun dia dan Dafi tidak akur, tapi Lusi sangat menyayangi putranya itu. Bahkan saat dia belum mendapatkan penghasilan, Lusi lah yang membiayai segala kebutuhan Dafi.


Damar kembali menemui Sera dan Yuni setelah selesai berbicara dengan mamanya, dia tak ingin dua orang itu terlalu lama menunggunya.


***