My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 74.



Usai makan malam, seperti biasanya, Sera dan Yuni menonton film di ruang keluarga. Sementara Damar sedang berada di ruang kerjanya dan Dafi lagi mandi.


"Eonni, aku takut lama-lama Om Damar curiga dan semua rahasia ini terbongkar," bisik Sera cemas.


"Makanya kamu jangan kelihatan banget bencinya pada Dafi, berusaha bersikap biasa saja. Kalau kamu terlalu nampak jaga jarak pada Dafi, lama-lama Oppa bisa curiga," bisik Yuni pelan.


Sera termangu, tentu apa yang dikatakan Yuni itu bukan perkara muda baginya. Sampai detik ini dia masih merasa benci pada putra Damar itu, dia juga merasa canggung dan risi jika mereka berdekatan.


Rupanya Dafi yang sudah selesai mandi memperhatikan Sera dan Yuni dari jauh, dengan perlahan di menghampiri dua wanita itu dan duduk di samping Sera.


"Pasti lagi ngomongin aku, kan?" tebak Dafi penuh percaya diri.


Sera sontak beringsut dan menjauhi Dafi, "Jangan kepedean!"


Dafi tersenyum lalu menatap Yuni yang duduk di sebelah Sera, "Mbak, tolong buatkan aku teh hangat!"


"Iya," sahut Yuni dingin, dia beranjak ke dapur meskipun merasa kesal pada Dafi.


Kini tinggallah Sera dan Dafi berdua di ruang keluarga.


"Takdir itu lucu, ya? Kita pernah pacaran lalu putus dan kini kamu malah menikah dengan papaku," ucap Dafi tiba-tiba.


Sera mendadak panik, dia celingukan kesana-kemari, takut Damar datang dan mendengar mereka.


"Kenapa? Takut papaku tahu tentang kita?"


Sera menatap tajam Dafi, "Sebenarnya apa mau mu?"


"Aku cuma mau mengingatkan, secepat apa pun kebohongan berlari, yakinlah bahwa kebenaran akan melewatinya," sindir Dafi.


Sera tertegun mendengar kata-kata sindiran dari mantan kekasihnya itu.


Di saat bersamaan Damar keluar dari ruang kerjanya dan memergoki Dafi bersama Sera, dan segera menghampiri dua insan tersebut.


"Sera! Dafi!" tegur Damar, membuat keduanya terkejut.


Sera memanfaatkan situasi ini untuk memanas-manasi Dafi, dia langsung berdiri dan menarik lengan Damar, membuat lelaki itu terkejut dan kebingungan.


"Mas, sini! Kita nonton bareng," ajak Sera sok mesra.


Meskipun bingung, Damar tetap menuruti sang istri. Keduanya pun duduk tepat di hadapan Dafi yang kini menatap tajam mereka.


Namun tak cukup sampai di situ, kali ini Sera malah meletakan kepalanya di pundak Damar, membuat lelaki itu lagi-lagi terkejut dan bingung dengan tingkah tak biasanya tersebut. Sementara Dafi berusaha menahan rasa cemburu di dalam hatinya.


Yuni yang keluar dari dapur pun terperangah melihat semua itu, namun dia mengerti jika Sera sedang berakting.


"Ini teh hangatnya, silakan." Yuni meletakkan gelas berisi teh buatannya di hadapan Dafi, tapi lelaki itu tak menggubrisnya.


Yuni yang memperhatikan wajah kesal Dafi mengulum senyum, dia tahu anak majikannya itu pasti cemburu. Dia lalu beralih memandang Damar yang wajahnya tegang bercampur bingung.


"Oppa mau saya buatkan minum juga?" tanya Yuni.


Damar menggeleng, "Tidak usah, Yun."


Akhirnya suasana pun hening, hanya terdengar suara film yang sedang berlangsung. Damar menatap televisi namun pikirannya tertuju pada Sera yang mendadak bersikap aneh, dan Dafi terus memandangi mereka.


"Mas, ke kamar, yuk!" rengek Sera manja.


Damar kembali terkejut dengan kelakuan Sera itu.


"Bukannya kamu mau nonton?" tanya Damar heran.


"Aku mengantuk." Sera kembali merengek.


"Ya sudah, kita ke kamar," sahut Damar, lalu beralih menatap Dafi, "Papa ke kamar dulu, ya?"


Dafi hanya mengangguk dengan wajah kesal.


Sera dan Damar pun beranjak kemudian berlalu meninggalkan ruang keluarga, Dafi hanya bergeming sambil mengepal kuat tangannya.


"Aku tahu kamu sengaja memanas-manasi aku, Sera. Kamu pasti ingin membuat aku cemburu," batin Dafi, dia mengeraskan rahangnya menahan geram.


Dafi juga akhirnya ikut beranjak dan pergi tanpa menyentuh teh buatan Yuni sama sekali.


Yuni memandangi kepergian tiga orang itu, "Sungguh hubungan yang rumit."


Di dalam kamar, Sera langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan pura-pura tidur sebab merasa malu telah bertingkah seperti tadi. Namun rupanya Damar masih penasaran dengan sikap gadis itu.


"Kenapa tiba-tiba kamu bersikap seperti tadi?" cecar Damar, tapi Sera tak menjawab.


"Sera, Om tahu kamu pura-pura tidur!"


Sera sontak bangkit dan duduk di atas kasur sambil menatap Damar, "Bukannya Om sendiri yang bilang kalau kita harus terlihat seperti pasangan suami istri yang harmonis di depan anak Om, kenapa sekarang Om protes?"


Damar termangu mendengar ucapan Sera, dia lupa pernah mengatakan hal tersebut.


"Maaf, Om lupa."


"Itu tandanya kalau Om sudah tua, jadi pikun," ejek Sera.


"Enak saja bilangin Om pikun!" sungut Damar.


"Kalau bukan pikun, lalu apa namanya?"


"Om hanya lupa saja, maklum banyak pikiran," dalih Damar.


"Eleh, alasan! Dasar om-om pikun, mesum lagi!" Sera kembali berbaring lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.


"Hei, berani sekali kamu bilang begitu! Awas kamu, ya!" Damar sontak menarik selimut yang menutupi tubuh Sera, membuat gadis itu berteriak heboh.


Tepat bersamaan Dafi lewat di depan kamar mereka dan mendengar suara teriakan Sera itu, hatinya semakin panas dan cemburu. Dia penasaran apa yang Sera dan sang ayah lakukan di dalam sana?


***