
Tak butuh waktu lama, si penghulu yang ditelepon oleh Pak RT tadi pun datang. Damar serta Sera semakin panik dan tegang, begitu juga dengan Riko dan para talent.
Lusi langsung memanggil Damar, "Sayang, penghulunya sudah datang. Mari kita mulai akad nikahnya."
"Mampus aku, Ko," keluh Damar sambil menelan ludah.
"Damar, ayo sini!" Lusi kembali memanggil sang putra yang masih bergeming dengan wajah tegang.
Mau tak mau Damar pun kembali ke ruang tamu dan menghampiri penghulu itu.
"Pengantin pria silakan duduk di samping pengantin wanitanya," pinta si penghulu.
Damar dan Sera duduk berdampingan, keduanya terlihat sangat serasi, yang satu begitu cantik dengan balutan kebaya putih dan yang satunya lagi sangat tampan mengenakan beskap modern dengan warna senada.
Jantung keduanya nyaris copot, panik bercampur tegang. Mereka berharap ada keajaiban yang datang sehingga semua ini bisa dibatalkan, namun sepertinya semesta memiliki rencana lain untuk keduanya.
"Sudah siap?" tanya si penghulu pada Damar.
"Hem, i-iya, si-siap!" jawab Damar terbata-bata, wajahnya sangat tegang.
Sera hanya bisa tertunduk seraya meremas ujung kebayanya dengan tangan gemetar, saking panik dan takutnya, dia pun akhirnya menangis.
"Tenang, jangan tegang! Santai saja." Si penghulu berusaha menenangkan Damar.
"Sayang, tarik napas dalam-dalam, lalu buang. Biar tidak gugup," sela Lusi.
Damar mengangguk.
"Bisa kita mulai?" Si penghulu memastikan, tapi Damar hanya bergeming.
"Mas Damar, bisa kita mulai?" Si penghulu mengulang pertanyaannya, tapi Damar tetap diam.
"Damar, jawab!" Lusi menyentuh pundak sang putra.
"I-iya, Pak. Bisa." Akhirnya Damar menjawab dengan pasrah.
"Kalau begitu, jabat tangan saya!" Pinta si penghulu sembari mengulurkan tangannya ke hadapan Damar, dan duda tampan itu menjabatnya dengan tangan yang berkeringat dingin.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Damar Putra Mahendra bin Erick Mahendra ...."
Sera sontak mengangkat kepalanya lalu menatap Damar dengan raut terkejut dan air mata yang berlinang.
"Nama itu?" Sera bertanya dalam hati.
"Dengan Seranita Humaira binti Almarhum Rizaldi, dengan mas kawin uang tunai sebesar tiga ratus juta rupiah dibayar tunai," ucap si penghulu.
"Sa-saya terima nikah dan kawinnya Seranita Humaira binti Almarhum Rizaldi dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah!"
Damar memejamkan matanya dengan kuat, mimpi apa dia sampai harus menikah sungguhan dengan gadis yang sudah dianggap seperti anak sendiri. Sementara Sera masih memandangnya dengan tatapan tak terbaca, air matanya terus jatuh menetes.
"Sera cium tangan suami kamu!" Titah Lusi.
Damar pun membuka mata dan menatap istrinya itu.
Namun Sera hanya bergeming menatap Damar, membuat semua orang bingung melihat sikapnya.
Rupanya dari tadi Sera melamun memikirkan nama belakang Damar yang sama persis seperti nama belakang Dafi.
"I-iya."
"Ayo cium tangan suami kamu!"
Dengan gemetar, Sera meraih tangan Damar lalu mencium punggung tangannya.
"Sekarang giliran Damar yang cium istrinya!" seru Lina penuh semangat.
Damar tercengang, dia menelan ludah demi menahan rasa gugup.
"Iya, sayang. Cium dong istrinya." Lusi menimpali.
Dengan canggung Damar mendekati Sera, dan mencium kening gadis itu. Jantung keduanya berdebar tak karuan, wajah mereka semakin merah padam.
Dari kejauhan Riko, Yuni serta para talent hanya bisa termangu menyaksikan semua itu, tak menyangka rencana yang sudah mereka susun dengan matang harus berantakan seperti ini.
***
Setelah selesai melakukan sungkem, diam-diam Damar mengajak Sera dan Riko ke dalam kamar.
"Bagaimana ini, Ko? Kami tidak mungkin terikat dalam pernikahan seperti ini!" ucap Damar.
"Maaf, Pak! Saya sudah coba memikirkan rencana lain, tapi belum ketemu. Jadi untuk saat ini tidak ada yang bisa kita lakukan," sahut Riko menyesal.
"Jadi kami harus menerima semua ini begitu saja?" sungut Damar, sementara Sera hanya bergeming menatapnya.
Meskipun sudah lebih tenang, tapi Sera masih bertanya-tanya apakah Damar memang memiliki hubungan dengan Dafi, atau hanya kebetulan saja nama belakang mereka sama.
"Anda dan Sera sudah terlanjur menikah, mau tidak mau kalian harus menjalani pernikahan ini sampai kita menemukan cara dan waktu yang tepat untuk mengakhirinya. Karena jalan satu-satunya adalah perceraian," jawab Riko.
Damar duduk di tepi ranjang lalu meremas kuat rambutnya, dia benar-benar pusing memikirkan semua yang terjadi.
"Semuanya menjadi semakin rumit gara-gara kamu dan teman-temanmu itu! Karena kecerobohan kalian, kami jadi terjebak dalam pernikahan gila ini," gerutu Damar kesal.
Riko menghela napas mendengar Damar lagi-lagi menyalahkannya, tapi dia tak ingin membantah. Dia kemudian beralih memandang Sera yang sedari tadi hanya diam membisu.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Riko cemas.
"Jadi aku harus bilang apa lagi, Mas? Semua sudah terjadi, suka atau tidak, aku tetap harus menjalaninya, meskipun aku tidak menginginkan pernikahan ini." Sera berbicara dengan pasrah, air matanya kembali menetes.
Damar dan Riko tertegun mendengar jawaban Sera, mereka tak menyangka dia bisa begitu dewasa menyikapi apa yang terjadi. Seketika Damar merasa semakin bersalah karena sudah melibatkan gadis itu dalam masalah ini.
"Sera, Om minta maaf. Om janji akan segera menyelesaikan semuanya dan mengakhiri pernikahan gila ini," ujar Damar seraya mengusap air mata di pipi Sera.
Sera hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Damar itu.
"Kalau begitu sekarang kita keluar sebelum Mama dan semua orang curiga," pinta Damar.
"Om dan mas Riko duluan saja, aku ingin merapikan riasan ku dulu."
"Baiklah." Damar bergegas keluar dari kamar itu bersama Riko, sementara Sera masih terpaku di tempatnya.
"Aku harus cari tahu siapa nama anaknya Om Damar," gumam Sera.
***