My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 66.



Malam pun tiba, Sera sedang didandani oleh seorang make up artis yang sengaja Lusi sewa untuk merias menantunya itu. Sedangkan Damar yang sudah selesai mengenakan stelan jas nya memilih untuk keluar dari kamar dan bergabung bersama Erick dan beberapa tamu yang sudah mulai berdatangan.


Di dalam kamar, Lusi memberikan sebuah gaun cantik nan seksi berwarna merah dan sepatu heels warna senada kepada Sera.


"Kamu pakai gaun ini, ya, sayang. Mama sengaja memesannya dari butik langganan Mama."


Sera tersenyum dari balik cermin, "Iya, Ma."


"È finito," ujar si MUA yang sudah selesai merias Sera.


"Wah, kamu cantik banget, sayang," puji Lusi yang takjub melihat kecantikan wajah Sera.


Sera tersipu malu dengan wajah merona, "Terima kasih, Ma."


"Baiklah, Mama antar MUA nya keluar dulu, kamu ganti pakaian!"


"Baik, Ma."


Lusi mengajak MUA berkebangsaan Italia itu keluar dari kamar, sementara Sera segera mengganti pakaiannya dengan gaun pemberian Lusi tadi.


Di lantai bawah, Damar yang melihat Lusi turun, bergegas menghampiri mamanya itu.


"Sera mana, Ma?" tanya Damar.


"Ada di kamar, lagi ganti pakaian," jawab Lusi, "ya sudah, susul sana! Ajak dia turun bersama kamu!"


"Iya, Ma." Damar segera naik ke lantai atas.


Di depan kamar, Damar pun mengetuk pintu sebab dia tak ingin kejadian di dalam kamar mandi waktu itu terulang lagi karena sembarangan masuk.


"Sera, kamu sudah selesai?"


"Sudah, masuk saja!" sahut Sera dari dalam kamar.


Damar menarik handle pintu dan membukanya, seketika dia terpana tatkala matanya melihat sosok Sera sedang berdiri menatapnya. Gaun merah seksi itu membuat lekuk tubuh Sera terlihat bak gitar Spanyol, bagian atasnya yang terbuka mengekspos pundak dan dada putih mulus milik sang istri, ditambah lagi riasan serta tatanan rambut Sera yang membuat gadis itu bagaikan Dewi Yunani. Sangat cantik dan sempurna.


Damar menelan ludah melihat gadis yang sudah menjadi istrinya itu, dadanya berdebar tak karuan dan perasaan aneh yang belakangan mengusiknya mendadak datang lagi.


"Om, kenapa lihatin aku begitu?" tegur Sera, "aku jadi terlihat aneh, ya?"


"Oh, hem ... ti-tidak, kok. Kamu cantik, cantik banget! Om saja sampai terpukau melihatnya," ucap Damar gugup, matanya tak bisa berhenti menikmati keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini.


"Om bisa saja!" balas Sera malu, "tapi aku risi, Om. Gaun nya terlalu terbuka."


"Kalau kamu tidak suka, kamu bisa pakai gaun yang lain saja," cetus Damar yang sedang berusaha mati-matian menahan perasaan gugupnya agar terlihat biasa saja. Dia sendiri pun mengakui jika gaun itu terlalu seksi.


"Tapi ini pemberian mama Om, aku tidak enak kalau menolak memakainya."


"Eh, jangan Om! Mama Om pasti kecewa nanti," tolak Sera, "ya sudah aku pakai saja."


Damar tak menjawab, dia masih mengamati tiap inci tubuh Sera yang membuat jiwa lelakinya mulai terpancing.


"Sekarang yang jadi masalah, aku harus memakai heels itu, sementara aku tidak bisa. Gimana ini?" keluh Sera sambil menunjuk heels berwarna merah di samping ranjang.


Damar mengalihkan pandangannya ke heels tersebut, "Kamu coba dulu, lagian heels tidak terlalu tinggi, kok. Nanti kamu bisa jalan pelan-pelan saja."


"Baiklah, aku coba."


Sera duduk di tepi ranjang, lalu membungkuk memasang sepatu heels itu ke kakinya. Damar yang berdiri di hadapannya semakin salah tingkah saat melihat belahan dada Sera yang seolah menantangnya.


"Ya Tuhan, kuatkan aku!" batin Damar, dia sebenarnya tak ingin melihat pemandangan itu, namun juga tak rela melewatkannya. Mendadak pikirannya membayangkan yang tidak-tidak tentang Sera.


"Sudah, aku coba jalan, ya," ujar Sera, membuat Damar tersadar dari pikiran-pikiran kotornya.


Sera beranjak dan melangkah perlahan ke arah Damar, dia benar-benar kesulitan berjalan menggunakan heels itu. Satu langkah, dua langkah dan di langkah yang ketiga dia pun kehilangan keseimbangan dan terjatuh menabrak Damar.


Dengan sigap Damar menangkap Sera dan memeluk tubuh istrinya itu agar tidak terjatuh ke lantai, membuat jantungnya semakin berdebar-debar tak karuan.


"Itu kan, aku bilang juga apa!" gerutu Sera kesal, dia menjauhkan dirinya dari Damar lalu buru-buru membuka heels itu, "aku tidak bisa berjalan dengan heels ini, Om."


"Kamu hanya tidak terbiasa saja dan kurang menjaga keseimbangan."


Sera cemberut, "Jadi sekarang gimana, Om? Aku harus pakai apa?"


"Kamu tidak punya sepatu atau sandal yang lain?" tanya Damar.


"Aku punya flatshoes dan sandal jepit, mana cocok jika dipakai bersama gaun seperti ini."


Damar menghela napas, "Baiklah, kalau begitu kamu tetap memakai heels itu, tapi jalannya berpegangan jadi kamu bisa menjaga keseimbangan."


Sera mengerutkan keningnya, "Berpegangan?"


Damar mengangguk lalu mengulurkan tangannya, "Kamu bisa berpegangan pada lengan Om, yuk!"


Sera tertegun namun kemudian tersenyum, "Baiklah, tapi Om jangan jauh-jauh dari aku, ya?"


"Iya, bawel."


Sera pun kembali mengenakan heels merah itu, lalu menggandeng tangan Damar dan melangkah bersama lelaki itu. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri yang romantis.


***