My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 77.



Sera dan Dafi sama-sama berlari keluar rumah, tapi mobil Damar sudah melesat pergi dengan kecepatan tinggi. Sera semakin panik dan cemas, dia takut terjadi sesuatu pada suaminya itu.


Melihat Sera menangis, Dafi semakin bingung.


"Ra, sebenarnya ada apa?" Dafi kembali bertanya, tapi Sera tetap tak mau menjawabnya.


Di saat bersamaan Yuni juga datang menghampiri mereka dan ikut bingung melihat Sera menangis, "Sera, kamu kenapa?"


Sera langsung memeluk Yuni, "Eonni, aku takut."


"Takut apa?" tanya Yuni, "ayo, ceritakan pelan-pelan!"


Sera melepaskan pelukannya lalu menceritakan yang sebenarnya terjadi sambil sesekali terisak, Dafi dan Yuni terkejut setengah mati mendengar pengakuan gadis itu.


"Sebaiknya sekarang kamu duduk dan tenangkan diri." Yuni menuntun Sera untuk duduk di sofa, "aku akan ambilkan minum dulu."


Yuni buru-buru berlari ke dapur untuk mengambil segelas air putih untuk Sera.


Dafi mendekati Sera dan duduk di sampingnya gadis itu, "Kenapa kamu tidak bilang kalau semua ini ulah ayah tiri mu itu?"


"Apa perlu aku mengatakannya padamu? Kamu dan dia tidak ada bedanya, kalian sama-sama jahat dan menyakiti aku," ucap Sera ketus.


Dafi termangu, dia begitu tertampar mendengar kalimat menohok dari mantan kekasihnya itu.


"Sera, aku minta maaf, aku khilaf. Aku akui, saat itu aku terlalu egois, tapi aku sungguh menyesalinya," sesal Dafi.


"Sudahlah, aku muak mendengarnya." Sera beranjak dan pergi meninggalkan Dafi begitu saja.


Yuni yang baru kembali dari dapur melongo melihat Sera menaiki anak tangga, padahal dia sudah membawakan segelas air putih untuk gadis itu.


Dafi hanya tertunduk dengan beribu rasa penyesalan yang kembali menusuk relung hatinya. Dia merasa sedih karena Sera sangat membencinya.


***


Damar menyusuri daerah sekitar tempat tinggal Sera dulu, dia mencari-cari tempat perjudian yang gadis itu maksud. Sampai di ujung jalan dia melihat sebuah bangunan semi permanen yang ramai dan penuh dengan orang yang berlalu lalang, suara musik remix terdengar dari dalam tempat yang dihiasi lampu kelap-kelip itu.


Damar turun dari mobil dan mendekati tempat itu, tapi seorang pria berbadan tegap menghadangnya.


Pria itu mengamati Damar dengan saksama sebab dia belum pernah melihat Damar sebelumnya, "Orang baru, ya?"


"Aku ke sini mau mencari Heru," ujar Damar tanpa basa-basi.


Pria itu mengernyit, "Heru? Heru yang mana? Di sini banyak yang namanya Heru."


Damar mengingat-ingat sosok Heru dan memberitahu ciri-cirinya pada pria itu.


"Tunggu sebentar." Pria itu mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkannya ke Damar, "apa yang ini orangnya?"


"Iya, ini orangnya!" Damar mengangguk saat melihat foto Heru di ponsel pria tersebut.


"Kalau dia, sudah seminggu tidak datang ke sini."


Damar mengerutkan keningnya, "Kenapa?"


"Dia kalah judi dan berhutang pada pemilik tempat ini, sudah jatuh tempo tapi dia tidak bisa bayar dan coba melarikan diri," beber pria itu.


"Apa kau tahu tempat tinggalnya?"


"Kalau aku tahu, aku pasti sudah tunjukkan pada Bos ku di mana si berengsek itu."


Rupanya tanpa sepengetahuan Damar dan pria itu, seorang wanita penghibur menguping pembicaraan mereka.


"Tunggu! Kenapa kau mencarinya?"


"Aku ada urusan pribadi dengannya," sahut Damar, lalu melanjutkan langkahnya.


Melihat Damar pergi, wanita penghibur itu bergegas mengejarnya.


"Hei, Mas! Tunggu!" teriak wanita itu.


Damar berhenti dan berbalik, "Ada apa?"


"Aku tahu di mana tempat tinggal Heru."


Damar terkesiap, "Kalau begitu beritahu aku!"


"Eits, tidak gratis," ujar wanita itu sambil melangkah mendekati Damar, lalu memainkan kancing kemejanya.


Damar sontak menepis tangan wanita itu, "Jangan main-main! Cepat katakan!"


Wanita itu tersenyum genit lalu menadahkan tangannya, "Aku minta bayaran."


"Aku akan bayar, kalau kau bisa menunjukkan di mana Heru."


"Janji?"


"Iya, aku janji. Tapi kalau kau coba-coba mempermainkan aku, ku pastikan kau akan menyesal," ancam Damar.


"Baiklah, aku akan tunjukkan."


Akhirnya Damar dan wanita penghibur itu pergi menuju tempat tinggal Heru.


Di perjalanan, beberapa kali ponsel Damar berdering, tapi dia tak menghiraukannya karena sedang fokus memperhatikan jalanan.


"Mas ada perlu apa mencari Heru?" tanya wanita itu ingin tahu.


"Ada urusan!"


"Mas pasti juga korban penipuannya, ya?" tebak wanita itu.


"Bukan."


"Oh, aku kirain Mas juga korban Heru, soalnya orang-orang kalau cari Heru pasti karena ditipu olehnya."


"Dia itu suka meminjam uang dengan alasan anaknya sakit parah, tapi setelah itu dia kabur dan orang-orang akan mencarinya ke tempat tadi," lanjut wanita itu meski Damar tak bertanya.


"Kau sendiri kenapa mau membantuku menunjukkan rumah Heru?" Damar balik bertanya.


"Aku kesal, dia pernah minta aku datang ke rumahnya dan melayaninya, tapi dia tidak mau bayar," gerutu wanita itu, "makanya aku bisa tahu rumahnya."


"Lalu kenapa kau tidak memberitahu pemilik tempat itu di mana rumah Heru?"


"Buat apa? Percuma memberitahu mereka, aku tidak akan dapat apa-apa. Mereka pasti tidak mau membayar ku seperti Mas."


"Dasar mata duitan!" gumam Damar.


Wanita itu tertawa, "Zaman sekarang, mana ada yang gratis, Mas."


Damar tak membalasnya, dia hanya fokus mengemudi.


***