
Hari sudah menjelang sore, Sera dan Yuni sedang mengobrol di ruang keluarga sambil menonton televisi. Dengan antusias, Yuni menceritakan kejadian perseteruan antara Anggi dan Lusi kemarin, dia benar-benar heboh dan bersemangat.
"Eonni serius?" Sera yang tak percaya berusaha memastikan kebenaran cerita yang disampaikan oleh Yuni.
"Iya, aku serius, Sera! Nyonya marah banget saat melihat mantan istrinya Oppa itu ada di rumah ini," balas Yuni.
"Om Damar sepertinya tidak tahu hal ini, mungkin Tante Lusi sengaja tidak cerita."
"Sebaiknya Oppa memang tidak perlu tahu, nanti dia bisa semakin banyak pikiran. Ini saja dia sampai tidak bisa tidur semalam gara-gara memikirkan masalah yang ada, jangan sampai ditambah lagi dengan yang baru."
"Eonni tahu dari mana Om Damar tidak bisa tidur semalam?" tanya Sera, semalam dia tidur duluan, jadi dia tidak tahu apa-apa.
"Aku keluar mau ke kamar mandi dan aku lihat pintu terbuka, aku kirain ada maling, pas aku cek ternyata Oppa sedang duduk termenung sendiri di taman belakang. Dan kamu tahu itu pukul berapa? Pukul empat pagi, Sera!" beber Yuni penuh drama.
Sera tertegun mendengar cerita Yuni, pantas saja pagi tadi Damar terlihat lesu dan tidak bersemangat, ternyata lelaki itu bergadang semalaman.
"Aku kasihan pada Oppa, dia pusing memikirkan alasan apa yang akan dia katakan pada Nyonya dan Tuan jika kalian bercerai nanti," lanjut Yuni.
"Iya, aku juga kasihan pada Om Damar, tapi aku pun bingung, Eonni."
Yuni menghela napas, "Semua ini gara-gara Dafi! Kalau dia tidak datang lalu mengusik kehidupan kamu dan Oppa, semua tidak akan terburu-buru seperti ini, Oppa pasti bisa pelan-pelan memikirkan alasan yang tepat. Ini dia merusak semuanya dan mendesak Oppa, mana pakai acara ngancam Oppa segala lagi!"
Sera mengernyit heran, "Ngancam? Dafi ngancam Om Damar?"
Yuni mengangguk, "Dia bilang, kalau Oppa tidak segera berpisah dari kamu, dia akan membongkar sandiwara kalian ke Nyonya Lusi. Aku benar-benar kesal pada bocah tengik itu!"
Sera terkejut mendengar aduan Yuni, dia tak menyangka Dafi akan sejahat itu pada ayahnya sendiri.
"Apalagi saat Oppa bertanya sudah sejauh mana hubungan kalian ketika masih pacaran, dia menjawab seolah-olah kalian sudah begituan. Ish, rasanya aku ingin sekali meremas mulutnya itu! Ganteng tapi mulutnya jahat!" sambung Yuni, dia membeberkan semuanya dengan kesal.
Sera tercengang, "Dafi melakukan itu?"
Yuni kembali mengangguk, "Iya, aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat selesai makan malam, aku rasa ini juga yang membuat Oppa galau semalaman."
"Kenapa dia sampai galau karena hal itu?"
"Apalagi? Ya tentu saja karena Oppa cemburu, Sera," sahut Yuni enteng.
Sera sontak tertawa, "Eonni suka ngaco kalau bicara, ada-ada saja!"
"Aku serius, Oppa itu sebenarnya suka dengan kamu, memangnya kamu tidak menyadari itu?"
"Astaga, Eonni! Om Damar itu sudah aku anggap seperti ayahku, dan aku yakin dia juga menganggap aku seperti anaknya sendiri," bantah Sera.
Sera termangu, seketika dia teringat semua perhatian Damar padanya, dan saat pria itu menciumnya ketika mereka berdansa, membuat jantungnya berdebar kencang dan darahnya berdesir.
"Sera!" tegur Yuni sambil melambaikan tangannya, membuat Sera tersentak dari lamunannya.
"Iya, Eonni."
"Kamu kenapa melamun?"
"Oh, itu aku cuma merasa tidak percaya saja dengan yang Eonni katakan, Eonni pasti salah."
"Ya sudah kalau kamu tidak percaya!" Yuni melengos, "Aku sudah sering melihat gelagat pria seperti Oppa di drama-drama Korea yang aku tonton, aku tahu endingnya pasti bucin."
"Itu kan di drama, Eonni," bantah Sera.
"Sama saja, Sera!" Yuni bersikeras.
"Hem, Mbak." Suara Anggi tiba-tiba mengagetkan Yuni dan Sera, keduanya sontak menoleh ke arah mantan istri Damar itu.
"Bisa tolong buatkan aku teh hangat, tapi gulanya satu sendok saja, ya!" pinta Anggi.
Yuni mengembuskan napas kesal, "Baiklah."
Asisten rumah tangga Damar itu beranjak dan bergegas ke dapur dengan wajah masam, dia tidak suka dengan Anggi, tapi tak berani menolak permintaannya.
Anggi mendekati Sera dan duduk di hadapan gadis itu sambil menatapnya dengan sinis.
Karena merasa risi dan tidak suka, Sera pun fokus ke televisi, dia pura-pura tak memedulikan wanita itu.
"Sudah berapa banyak uang Damar yang kamu habiskan? Pasti sudah banyak, dong?" sindir Anggi.
Sera langsung mengalihkan pandangannya ke Anggi dan menatap tajam wanita itu, "Maaf, ya! Aku bukan wanita yang gila harta! Jadi jaga ucapan anda!"
"Iya-iya, mana ada sih maling yang mau ngaku!" balas Anggi dengan nada mengejek.
Sera benar-benar kesal dengan ucapan Anggi itu, tapi belum sempat dia membalasnya, terdengar suara gaduh dari luar disusul dengan suara Bobi yang meminta tolong.
"Tolong!"
***