
Empat puluh lima hari kemudian, Damar tiba-tiba ditelepon oleh Sera dan disuruh pulang, saat dia bertanya ada apa, gadis itu langsung mematikan teleponnya. Hal itu sontak membuat Damar panik dan cemas, dia buru-buru pulang dari ke rumah.
Sesampainya di rumah, dia langsung mencari keberadaan Sera, dan menemukan istrinya itu sedang duduk sendiri di taman belakang.
Damar segera berlari mendekati Sera, "Sayang, ada apa? Kenapa kamu menyuruh aku pulang?"
Bukannya menjawab, Sera malah memeluk Damar dan menangis di dalam pelukan sang suami.
Damar semakin cemas, "Kamu kenapa, sayang?"
Sera melepaskan pelukannya, lalu memberikannya sebuah amplop putih bertuliskan label sebuah klinik.
Damar mengernyit, "Apa ini? Kamu sakit?"
"Bukalah dan baca sendiri!" pinta Sera.
Dengan tangan gemetar Damar membuka amplop putih itu dan mengeluarkan secarik kertas, dia membaca kertas itu dengan saksama. Matanya seketika berbinar, tawa di bibirnya langsung merekah. Dia benar-benar tak bisa menutupi raut bahagianya.
Damar menatap Sera tak percaya, "Kamu hamil?"
Sera mengangguk sambil mengusap air matanya, rupanya dia menangis karena terharu saat mengetahui dirinya kini berbadan dua.
Damar sontak memeluk Sera dan menghujani kepala wanita itu dengan banyak ciuman.
"Terima kasih, Tuhan!" seru Damar girang, "aku bahagia banget, sayang!"
Sera melepaskan pelukan Damar dan menjauh dari lelaki itu, "Ada kabar bahagia satu lagi, Mas."
"Apa, sayang?"
Sera mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kiriman email dari kampus tempat dia mendaftar waktu itu, "Aku lulus ujian seleksi, Mas."
Namun kali ini tidak ada raut bahagia di wajah Damar, dia mendadak berubah galau.
"Mas kenapa? Mas tidak senang aku lulus?"
"Bukan begitu, sayang. Aku hanya khawatir padamu," sanggah Damar.
"Khawatir kenapa?"
"Kamu kan sedang hamil, kalau kamu kuliah nanti kamu bisa kelelahan dan aku takut kamu kenapa-kenapa."
Sera tersenyum lalu memeluk pinggang Damar, "Mas tenang saja, aku pasti akan menjaga diri."
"Tapi tetap saja aku khawatir! Apa tidak sebaiknya kamu tunda dulu kuliahnya?"
"Mas, bisa kuliah di sana itu impian aku dari dulu. Aku mohon boleh, ya?"
Damar terdiam, dia merasa ragu untuk mengizinkan Sera kuliah.
"Mas, boleh, ya?" rengek Sera.
Damar pun akhirnya mengalah, dia mengembuskan napas lalu mengangguk setuju.
Sera tersenyum senang dan langsung memeluk tubuh Damar erat-erat, "Terima kasih, ya, Mas."
"Iya, tapi kamu janji jangan sampai kelelahan dan harus banyak istirahat. Kalau sampai kamu kenapa-kenapa, aku akan melarang kamu kuliah lagi."
"Iya, suamiku sayang."
Keduanya pun berpelukan di taman belakang, di saksikan bunga-bunga indah dan langit biru yang mempesona.
"Sekarang kita sampaikan kabar gembira ini pada Mama dan Papa, mereka pasti senang mendengarnya," ajak Damar.
Mereka pun menghubungi Lusi dan memberitahukan tentang kehamilan Sera, dan bisa ditebak, Lusi sangat bahagia. Wanita paruh baya itu bahkan menasihati Sera dan Damar panjang lebar perihal kehamilan.
***
Yuni menyiapkan banyak makanan sehat untuk Sera, tentunya sesuai permintaan Damar dan Lusi.
"Wah, Eonni masak banyak sekali hari ini? Mau ada tamu, ya?" tanya Sera bingung.
"Ini semua permintaan Oppa dan Nyonya Lusi, mereka ingin kamu memakannya."
Sera tercengang, "Aku harus makan sebanyak ini?"
"Iya, biar kamu dan bayi di kandungan kamu sehat."
"Tapi mana mungkin aku bisa menghabiskannya!" keluh Sera.
"Pasti bisa, nanti aku suapin kamu," sela Damar yang turun dari lantai atas.
"Mas, nanti aku bisa gendut kalau makan sebanyak ini." Sera menatap Damar dengan wajah melas.
"Kamu gendut, aku tetap cinta, kok!" balas Damar, dia mendekati Sera dan mengecup bibir istrinya itu.
Tingkahnya itu sontak mendapat protes dari Yuni yang merasa iri dengan kemesraan mereka.
"Ih, Oppa! Jangan sembarangan main sosor saja, dong! Hargai saya di sini! Entar kalau saya juga mau, gimana?" protes Yuni.
"Makanya nikah, Yun," sahut Damar enteng.
"Saya sudah nikah, Oppa. Malah suami saya sudah dua, tapi mereka masih di Korea, belum bisa pulang ke sini," seloroh Yuni.
"Dasar halu!" ejek Damar, "mending kamu sama Bobi saja, dari pada entar lama-lama gila karena kebanyakan mengkhayal."
"Ish, Oppa! Bobi itu bukan tipe saya."
"Memangnya tipe kamu seperti apa?" Damar masih meladeni Yuni, sementara Sera hanya tertawa mendengar obrolan tak berfaedah dua orang itu.
"Yang matanya sipit, hidungnya mancung dan kulitnya putih. Lah, Bobi apaan? Hidungnya pesek dan dekil begitu."
Tawa pasangan suami-istri itu sontak pecah saat mendengar ocehan Yuni.
"Eonni tidak boleh begitu, entar benar-benar jodoh dengan Mas Bobi, baru tahu rasa. Kayak aku dulu, aku ogah banget berhubungan dengan yang jauh lebih tua, tapi malah dapat suami om-om. Mesum pula!" Sera berbicara sambil melirik Damar.
Mendengar kata-kata Sera, Damar sontak menatap tajam istrinya itu, "Kamu bilang apa?"
Sera menggeleng sambil menutup mulutnya.
"Kamu mengejek aku? Mau aku hukum?" Damar berusaha mencium bibir Sera lagi, tapi wanita itu terus menghindar sambil tertawa terbahak-bahak.
Yuni yang melihat kemesraan mereka merasa iri sekaligus bahagia, setelah lika-liku perjalanan yang berhias air mata, akhirnya kedua insan itu dipersatukan oleh cinta.
Takdir Tuhan memang tak bisa ditebak, tapi pasti Dia akan memberikan yang terbaik untuk umatnya.
💜SEKIAN💜
Terima kasih sudah setia mengikuti kisah ini, semoga banyak pelajaran yang bisa kita ambil.
Jangan lupa mampir ke karyaku yang berjudul MENDADAK NIKAH MUDA.
Baca juga novelku yang lain, kamu bisa klik profilku dan follow aku.
Sarang Hae Yo.💜