My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 1.



Malam ini sangat dingin, hampir semua umat manusia sudah berada di tempat ternyaman mereka, begitu pun dengan Seranita. Gadis berumur dua puluh tahun yang biasa disapa Sera itu juga sudah tertidur pulas di atas kasur empuknya, dia sangat lelah karena seharian ini menggantikan sang ibu bekerja.


Namun ketenangan Sera terganggu tatkala Heru yang tak lain adalah ayah tirinya masuk ke dalam kamar lalu mulai menggerayangi tubuhnya dengan penuh hasrat.


Sera tersentak bangun dan langsung bangkit dari pembaringan, "A-apa yang Ayah lakukan?"


Heru yang sudah mabuk dan terbakar birahi menatap tubuh Sera, gadis itu sontak menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Malam ini kita akan bersenang-senang, Sera," ujar Heru tidak tahu malu.


Sera terperangah dengan mata melotot, "Ayah jangan!"


Heru tak peduli, dia langsung menerkam tubuh Sera dan mencumbunya dengan kasar. Sera memberontak dan berteriak sekuat tenaga, tapi Heru tak peduli dan semakin beringas.


"Tolong! Ibu!" teriak Sera, air matanya jatuh menetes.


Mila yang sedang tertidur pulas sayup-sayup mendengar suara jeritan Sera, dia sangat cemas tapi tidak bisa melakukan apa-apa, karena sudah setahun ini Mila terkena stroke dan badannya lumpuh sebelah.


Heru semakin menggila, dia menarik paksa baju yang Sera kenakan, tapi sebisa mungkin gadis itu menahannya, tapi tentu tenaganya kalah kuat dengan Heru.


"Ayah jangan! Aku mohon!" jerit Sera lagi.


Mila tercengang mendengar jeritan Jora kali ini, sekarang dia bisa menebak apa yang terjadi.


"Se-la!" ucap Mila cadel dan terbata-bata, dia sangat mengkhawatirkan putrinya itu.


Sementara Heru terus saja melancarkan aksinya meskipun Sera memohon dan menangis. Sepertinya lelaki itu sudah dikuasai hawa nafsu, hingga dia menjadi kesetanan dan lupa diri.


Tak ingin pasrah, Sera pun meraba sesuatu di atas meja nakas dan mendapatkan sebuah pigura foto yang terbuat dari besi, kemudian memukul kepala Heru dengan sudut pigura itu. Darah segar mengalir dari kepala Heru yang terluka, lelaki itu sontak menghentikan perbuatannya dan meringis kesakitan sambil memegangi kepala.


Kesempatan ini Sera manfaatkan untuk kabur, dia berhasil membuka pintu dan berlari keluar.


Heru menatap tajam Sera, "Dasar anak kurang ajar!"


Lelaki tidak tahu diri itu beranjak dan ingin mengejar anak tirinya tersebut.


Sera yang sangat ketakutan berlari sekuat tenaga meninggalkan rumah dan bersembunyi di balik sebuah tong sampah besar, tapi ternyata Heru sudah tidak mengejar nya lagi.


Sera menghela napas lega sambil mengusap air matanya, seketika dia teringat sang ibu yang masih ada bersama Heru. Sera takut lelaki biadab itu menyakiti ibunya, tapi Sera juga tak berani kembali ke rumah itu lagi, dia masih sangat takut dan trauma.


Akhirnya Sera memutuskan untuk pergi ke kost-kostan Dafi, saat ini hanya kekasihnya itu lah harapan Sera satu-satunya untuk berlindung, karena dia tak punya kerabat di kota ini.


Tanpa alas kaki dan keadaan yang berantakan, Sera melangkah sendiri di gelapnya malam, berulang kali dia mengusap air matanya yang jatuh menetes. Dia terpaksa pergi dari rumah hanya dengan membawa pakaian yang melekat di tubuhnya, tak ada uang sepeser pun.


Sera terus melangkah di dalam kesunyian, rasa sedih dan takut masih terus menggelayuti hatinya. Tak terasa dia tiba di depan kost-kostan Dafi yang lampunya masih menyala, pertanda sang kekasih masih terjaga. Sera mengetuk pintu, namun Dafi tidak membukanya. Dia pun kembali mengetuknya, kali ini pintu dibuka oleh Dafi yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendek.


Dafi terkejut melihat kehadiran sang kekasih,"Se-Sera?"


"Dafi." Sera kembali menangis.


"Ke-kenapa kamu datang malam-malam begini?" tanya Dafi gugup.


"Tolong aku, Daf. Aku ...."


"Siapa yang datang, sayang?" Tiba-tiba seorang wanita yang hanya memakai handuk keluar dari dalam kamar.


Sera tercengang melihat wanita itu, lalu beralih menatap Dafi yang mendadak tegang.


"Siapa dia?"


Dafi tergagap, dia terdiam sambil menelan ludah.


"Jawab, Daf!" bentak Sera.


Plak!


Sera sontak melayangkan tamparan keras ke pipi Dafi, sungguh dia merasa sakit di hatinya, seolah sebuah gada berduri baru saja menghantam dadanya. Ia menggeleng sambil mengusap air mata, wajah cantiknya memerah. Ia begitu mencintai Dafi, tapi dengan mudahnya pria itu berpaling tanpa perasaan.


Luna langsung mendekati Dafi dan meraba pipi lelaki itu, "Kamu tidak apa-apa, sayang?"


Dafi menggeleng, "Tidak apa-apa."


Sera melihat semua itu dengan perasaan hancur, hatinya semakin sakit.


"Tega kau melakukan semua ini, Daf! Apa salahku?" hardik Sera.


Beberapa penghuni kost yang lain sampai keluar karena mendengar suara gadis itu.


"Aku minta maaf, Ra. Sudah lama aku ingin mengatakan ini, tapi aku takut menyakitimu. Sebenarnya aku jenuh dengan hubungan kita."


Sera tertegun dengan air mata yang berlinang, dia tak menyangka itu alasan sang kekasih menduakan dirinya.


"Tapi sekarang kau menyakitiku, Daf. Aku benci kau!" Sera bergegas pergi, dia gak sanggup lebih lama lagi menahan sakit dan cemburu melihat Dafi bersama wanita lain.


Dafi mengembuskan napas melihat kepergian Sera, dia merasa bersalah sekaligus lega, karena apa yang dia tutupi selama ini akhirnya terbongkar juga.


Sera berjalan tak tentu arah sambil menangis terisak-isak, dia tak tahu harus pergi ke mana lagi? Harapan terakhirnya sudah musnah, kini dia bak gelandang yang tak punya tempat tinggal dan Luntang-lantung di jalanan.


Dia benar-benar merasa hancur, dalam sehari dia disakiti oleh dua orang yang begitu dia hargai, semua terasa tidak adil untuknya.


Namun tampaknya semesta masih ingin bermain-main dengan Sera, tanpa gadis itu sadari, dua orang preman sedang mengintainya dari kejauhan.


"Ada cewek cantik itu."


"Yuk, sikat!"


Kedua preman itu mendekati Sera, membuat gadis itu ketakutan.


"Hai, cantik. Mau ke mana malam-malam begini?"


"Jangan ganggu aku!" Sera hendak berlalu tapi salah seorang preman itu menghadangnya.


"Eh, mau ke mana? Mending ikut kami, nanti kita bersenang-senang."


Sera semakin ketakutan, dia kembali teringat perlakuan tak senonoh Heru tadi.


"Jangan ganggu aku! Aku mohon!" pinta Sera dengan tubuh yang gemetar.


Bukannya melepaskan Sera, preman-preman itu malah semakin menggodanya, bahkan mereka berani mencolek dagu Sera.


"Jangan ganggu aku! Tolong!" teriak Sera.


Preman itu tertawa, "Teriak saja, tidak akan ada yang dengar."


Sera benar-benar panik, tak kehabisan akal, Sera pun menendang ******** salah satu preman itu dan buru-buru kabur.


"Aduh! Dasar cewek sialan!" Preman itu meringis kesakitan.


"He, jangan kabur!" Teriak preman yang satunya lagi.


Sera berlari sekuat tenaga menjauhi dua preman itu, dengan tidak hati-hati dia menyeberang jalan dan naas sebuah mobil sedan mewah melaju kencang dan langsung menabrak tubuhnya. Sera terpental ke aspal dan terluka parah, gadis itu tak sadarkan diri dengan kepala berdarah.


***