
Ayahanda Damar yang bernama Erick langsung menyambut kedatangan anak dan calon menantunya dengan girang.
"Sayang, perkenalkan ini Sera, calon istrinya Damar." Lusi memperkenalkan Sera pada sang suami.
"Hai, Sera. Apa kabar?" sapa Erick ramah.
"Ba-baik, Om." Jawab Jora gugup.
"Kamu kenapa gugup begitu, Sera? Santai saja." Lusi yang menyadari kegugupan Sera, mengusap pundak gadis itu.
Sera meringis,"Iya, Tante."
"Maklumlah, Ma. Namanya juga bertemu calon mertua, wajarlah kalau gugup," sela Damar lalu menatap Sera dengan mesra, "Iya, kan, sayang?"
Sera terkesiap mendengar Damar memanggilnya begitu, ia tahu ini hanya sandiwara tapi entah mengapa jantungnya berdebar kencang, "I-iya, Mas."
"Kemarin saat pertama kali bertemu Mama, tidak gugup begini," protes Lusi.
"Mungkin karena beda situasi, Ma. Pertama kali bertemu Mama kan di mall, jadi mungkin lebih santai daripada di rumah," dalih Damar.
"Sudahlah, Mama ini seperti tidak pernah muda saja. Mama juga pertama kali bertemu dengan orang tuaku gugup dan grogi, bahkan sampai tidak berani angkat kepala, berjam-jam hanya menunduk saja seperti ayam sakit," ledek Erick.
Lusi merajuk sambil memukul pelan paha suaminya itu, "Ish, Papa! Jangan diingatkan lagi, Mama malu tahu!"
Damar dan Sera akhirnya tertawa melihat interaksi sepasang suami-istri itu, seketika suasana menjadi hangat dan ceria.
"Oh iya, Sera ini asli mana?" tanya Erick.
"Asli Jakarta, Om. Aku lahir dan besar di sini, tapi kalau Ibu dan Ayah orang Bandung," sahut Sera.
"Oh, ayah dan ibu kamu orang Bandung juga? Kalau begitu sama, Om juga orang Bandung, keluarga Om banyak di sana. Mantan istri Damar juga orang Bandung," beber Erick.
Damar sontak melirik Erick, dia merasa risi sebab sang ayah menyebut-nyebut mantan istrinya.
"Pa, ngapain sebut-sebut mantan istri Damar segala, sih? Tidak enak dengan Sera," tegur Lusi.
"Papa keceplosan, Ma," sanggah Erick, lalu menatap Sera, "Maaf, ya, Sera?"
Sera tersenyum, "Tidak apa-apa, kok, Om."
"Jadi kamu sudah bertemu dengan anaknya Damar?" Lusi mengalihkan pembicaraan.
Sera menggeleng, "Belum, Tante."
Lusi mengerutkan keningnya, "Loh, kok belum? Bukannya tadi kalian ketemuan di kafe?"
"Tadi pas anaknya Mas Damar datang, aku sedang ke toilet, jadi aku tidak sempat bertemu dengannya karena dia buru-buru pergi," terang Sera.
Lusi beralih memandang sang putra, "Kenapa begitu, Damar?"
Lusi yang mengerti pun mengangguk setuju.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita makan malam dulu! Yuni sudah menyiapkan makanan untuk kita," pinta Lusi.
Mereka pun beranjak dan bergegas ke ruang makan, beraneka ragam makanan yang menggugah selera sudah terhidang di atas meja makan.
Akhirnya Sera makan malam bersama Damar dan kedua orang tuanya, sesekali mereka mengobrol dan bercanda tawa, suasana akrab pun seketika tercipta di antara mereka.
"Kamu tahu tidak, sewaktu kecil Damar pernah menjadi model cilik, loh," ungkap Lusi bangga.
"Oh, iya? Aku baru tahu, Tante."
"Damar tidak pernah cerita?" tanya Lusi.
Sera menggeleng, "Tidak, Tante."
"Mungkin Damar malu, Ma," sela Erick sembari melirik Damar yang sejak tadi hanya menyimak obrolan Sera dan sang mama.
"Kenapa malu, Pa? Seharusnya bangga, dong," sambung Lusi.
"Iya, sekarang dia kan sudah dewasa," imbuh Erick.
"Aku jadi penasaran, seperti apa Mas Damar kecil." Sera sambil menatap Damar sambil terkekeh.
"Waktu kecil, Damar itu ganteng banget," tutur Lusi.
"Sampai sekarang juga masih ganteng, kok." Akhirnya Damar menyela dengan penuh percaya diri.
"Narsis!" seru Sera.
"Memang benar, seluruh dunia pun mengakui itu," ucap Damar semakin menjadi.
"Dunia apa? Dunia halu atau dunia lain?" ejek Sera, sejujurnya di dalam hati, dia memang mengakui ketampanan wajah Damar meskipun lelaki itu sudah berumur tiga puluh tujuh tahun. Dan sekilas Damar mengingatkannya pada sang mantan kekasih.
Damar sontak tertawa mendengar ejekan Sera, sedangkan Lusi dan Erick merasa senang melihat interaksi dua insan di hadapan mereka itu.
Melihat tawa lepas Damar membuat mereka semakin yakin jika Sera pasti bisa membahagiakan sang putra.
"Kalian memang pasangan yang serasi, semoga hubungan kalian langgeng terus, ya," harap Lusi terharu.
"Iya, sampai jadi kakek dan nenek," sambung Erick.
Damar dan Sera langsung terdiam kemudian saling pandang, harapan Lusi juga Erick itu membuat keduanya semakin merasa bersalah karena telah membohongi mereka. Kedua orang tua itu pasti sangat terluka jika suatu saat tahu yang sebenarnya.
Keduanya pun memaksakan senyuman lalu melanjutkan makan malam dengan perasaan canggung.
***