
Damar dan Sera turun untuk sarapan, di ruang makan sudah ada Dafi, Lusi dan juga Erick. Begitu melihat kedua insan itu turun dengan rambut yang basah, Lusi langsung senyum-senyum sendiri.
"Tumben kesiangan, sayang. Pasti kelelahan, ya?" ledek Lusi.
Wajah keduanya sontak merah menahan malu. Sedangkan Dafi hanya menatap mereka sambil berusaha menahan rasa cemburunya.
"Mama ini seperti tidak pernah muda saja," sela Erick.
Sera maupun Damar tak membalas ledekan kedua orang tua itu, mereka memilih duduk dan mulai menyantap nasi goreng yang sudah disiapkan oleh Yuni.
Namun rupanya perhatian Lusi tertuju pada bercak merah di leher Sera akibat gigitan Damar semalam, wanita paruh baya itu semakin tersenyum lebar.
"Wah, sepertinya sebentar lagi Dafi bakal punya adik ini," ujar Lusi.
Sera sontak terbatuk-batuk karena tersedak nasi goreng yang dia makan, Damar sigap memberikan air minum kepada istrinya itu.
Dafi semakin merasa cemburu, hatinya kian panas membayangkan Sera dan Damar bermesraan, tapi sebisa mungkin dia bersikap tenang seolah dia baik-baik saja.
"Mama sudah, dong! Jangan meledek mereka terus! Mereka kan malu." Erick memarahi istrinya itu.
Lusi tertawa, "Iya-iya, Mama hanya bercanda. Maaf, ya."
Damar dan Sera hanya bergeming dengan wajah merona merah.
Sedangkan Dafi harus mati-matian berusaha menahan rasa sakit dan cemburunya, sesekali dia melirik Sera yang tertunduk malu. Damar menyadari hal itu, dia tahu Dafi masih mencintai Sera, namun sekarang dia tak bisa merelakan gadis itu untuk putranya lagi.
***
Malam harinya Sera beserta keluarga Damar makan bersama, mereka mengobrol sambil sesekali bersenda gurau. Tapi tentu Dafi tak banyak bicara, dia lebih banyak diam seraya melirik Sera dan Damar yang terlihat mesra dan harmonis.
"Hem, ada yang mau aku sampaikan." Tiba-tiba Dafi bersuara.
Pandangan semua orang sontak tertuju pada lelaki berumur dua puluh tahun itu.
"Apa, sayang?" tanya Lusi penasaran.
"Aku sudah memutuskan untuk kuliah ke Australia," beber Dafi.
Erick mengernyit, "Kenapa tiba-tiba kamu ingin kuliah ke Australia?"
"Aku ingin ganti suasana saja, Opa. Bosan di Indonesia," dalih Dafi.
"Apa tidak sebaiknya kamu kuliah di sini saja, sayang? Di Australia kamu tidak punya keluarga, kalau di sini kan ada papa dan mama kamu."
Dafi melirik Sera dan Damar, "Aku merasa lebih baik jika hidup sendiri, Oma. Jadi aku bisa mandiri."
Baik Damar maupun Sera tentu tahu alasan sebenarnya Dafi ingin pergi dan keluar dari rumah ini.
"Iya, tapi kalau ada apa-apa dengan kamu di sana, bagaimana?" Lusi merasa cemas.
"Tidak akan terjadi apa-apa denganku, Oma tenang saja," bantah Dafi.
Lusi beralih memandang Damar yang sejak tadi diam dan tidak berkomentar, "Damar, kamu jangan diam saja, dong! Kamu tidak khawatir anak kamu pergi jauh darimu?"
"Ma, Dafi sudah dewasa, dia tahu mana yang baik dan buruk untuknya. Kalau dia sudah memutuskan untuk pergi, berarti dia tahu resikonya, dia juga pasti bisa menghandle yang terjadi nanti. Lagipula Dafi kan ke Australia mau kuliah, bukan perang, dia pasti baik-baik saja." Damar berbicara dengan tenang, walaupun sejujurnya dia sendiri pun merasa berat membiarkan Dafi pergi.
"Papa benar Oma, aku pasti baik-baik saja di sana," sambung Dafi.
"Kalian berdua ini sama saja!" keluh Lusi dengan wajah cemberut.
Lusi menghela napas pasrah, "Ya sudahlah, terserah kalian saja. Tapi kalau sempat terjadi sesuatu pada Dafi, Mama akan jemput dia dan mengajak dia pulang."
"Iya, Mama."
***
Setelah mengurus berkas-berkas kepindahannya dan semua keperluannya, hari ini Dafi pun berangkat ke Australia di antar oleh Lusi dan juga Erick, nanti dari negeri kanguru itu, barulah mereka pulang ke Italia. Damar dan Sera juga ikut mengantar mereka ke bandara.
"Begitu sampai di sana, langsung kasih kabar!" pinta Damar pada putranya itu.
Dafi mengangguk, "Iya, Pa."
Damar lalu mengeluarkan black card miliknya dan memberikannya ke Dafi, "Ambil ini! Gunakan untuk keperluan kamu di sana."
Dafi tercengang melihat sang ayah memberikannya kartu ajaib itu, tapi dia tetap menerimanya, "Terima kasih, Pa."
"Aku pamit, Pa," ucap Dafi dengan mata berkaca-kaca.
Damar memeluk putranya itu, "Kamu hati-hati di sana, jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Papa!"
"Iya, Papa juga jaga diri," balas Dafi sambil mengusap sudut matanya, "aku titip Sera, jaga dia baik-baik dan jangan pernah sakiti dia!"
"Iya, Papa janji akan selalu menjaganya. Terima kasih untuk semuanya dan maafkan Papa."
"Tidak apa-apa, Pa. Aku bahagia untuk kalian."
Keduanya berpelukan dan saling berbagi perasaan, membuat semua orang ikut merasakan haru. Sera dan Lusi bahkan sampai tak kuasa menahan air mata agar tidak menetes.
Sebenarnya Lusi dan Erick bingung mendengar kata-kata Dafi, tapi mereka tak ingin bertanya. Karena mereka sadar, tidak semua hal mereka harus mengetahuinya.
Dafi melepaskan pelukannya dan beralih menatap Sera, "Aku pamit, terima kasih sudah memaafkan aku dan menjadi bagian dari hidupku."
Sera mengangguk sambil berlinang air mata, "Sampai jumpa lagi."
Dafi memaksakan senyuman walau dadanya terasa sesak menahan kepedihan.
"Kami pergi dulu, ya. Kalian baik-baik di sini," ujar Erick.
"Iya, Pa."
"Mama tunggu kabar baik tentang adik Dafi," sambung Lusi.
Wajah Sera sontak berubah merah, dia malu. Sementara Damar hanya tertawa menanggapi ucapan mamanya itu.
Dafi pun berangkat bersama kakek dan neneknya, meninggalkan kota Jakarta yang sudah begitu banyak menyimpan cerita tentang hidupnya. Penyesalan dan cinta yang masih dia rasakan tetap dia bawa bersama kepedihan hatinya, berharap kelak Tuhan mengubahnya menjadi bahagia.
Damar dan Sera memandangi kepergian mereka dengan perasaan sedih, Sera bahkan harus berulang kali menyeka air matanya yang tak mau berhenti menetes. Apa pun alasannya, perpisahan selalu menyedihkan.
Damar menoleh ke arah Sera dan menatap istrinya itu, "Kita pulang?"
Sera mengangguk, "Iya, Mas."
Keduanya pun meninggalkan bandara dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Perjalanan cinta mereka baru akan dimulai, masih banyak yang harus mereka lakukan demi mewujudkan mimpi dan angan-angan.
***