My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 59.



Sera, Damar dan kedua orang tuanya sudah tiba di bandara, Riko yang mengantarkan mereka.


Keempat orang itu memang akan ke Italia, tapi mereka berbeda tujuan. Damar dan Sera ke Venesia, sedangkan Lusi dan Erick pulang ke Roma.


"Kalian hati-hati di sana, jangan lupa mampir ke Roma nanti," ujar Lusi sambil memeluk anak dan menantunya.


"Iya, Ma," jawab Damar.


Lusi melepaskan pelukannya dan menatap Damar juga Sera bergantian, "Mama tunggu kabar baik itu secepatnya, Mama sudah tidak sabar ingin menggendong anak kalian."


Wajah Sera dan Damar seketika merah, keduanya merasa malu dan canggung. Sementara Riko yang berdiri di belakang Damar berusaha menahan tawa.


"Mama, sudah! Lihat wajah mereka jadi merah begitu," ledek Erick sambil merangkul sang istri.


Damar yang salah tingkah mencari-cari alasan untuk menghindari situasi ini.


"Hem, aku mau bicara dengan Riko dulu." Damar buru-buru menarik Riko menjauh dari Sera dan kedua orang tuanya.


"Ada apa, Pak? Anda pasti sedang berusaha menghindar, kan?" tebak Riko sambil terkekeh geli.


"Diam lah, Ko!" seru Damar dengan mata melotot, Riko sontak merapatkan mulutnya dan kembali menahan tawa.


"Selama aku pergi, aku titip kantor padamu. Kamu tangani semuanya, jangan sampai ada yang berantakan. Bisa, kan?" titah Damar tegas.


Riko mengangguk, "Bisa, Pak."


"Terus satu lagi, kamu tolong pantau Dafi, kalau ada sesuatu yang terjadi padanya, cepat kabarin aku. Nanti aku kasih bonus untukmu."


"Siap, Pak."


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."


"Iya, Pak. Selamat menikmati bulan madu anda bersama Sera, awas khilaf," sindir Riko sambil mengulum senyum.


Damar spontan meninju lengan Riko, membuat bawahannya itu meringis sakit, tapi kemudian tertawa terbahak-bahak.


Tak ingin meladeni Riko, Damar pun meninggalkan bawahannya itu dengan memasang wajah kesal bercampur malu.


"Riko kenapa?" Lusi bertanya sebab heran melihat Riko tertawa-tawa.


"Sudah gila, Ma," sahut Damar asal.


Lusi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang itu, dia tahu bagaimana hubungan mereka yang sudah seperti sahabat.


***


Dafi pulang ke kost-kostan nya dengan membawa kekecewaan dan rasa sakit, dia hanya duduk di tepi kasur sambil memandangi foto dirinya dan Sera yang masih dia simpan tanpa sepengetahuan Luna.


Sejujurnya dia ingin mengatakan kepada semua orang jika Sera itu adalah mantan kekasihnya yang masih dia sayangi, tapi dia malu karena Sera sendiri tidak mau mengakui dirinya dan hanya menganggapnya teman.


Tak berapa lama, Alvin dan Marcell pun datang, mereka mengetuk pintunya kamar kost Dafi.


"Bro, buka pintunya, dong!" teriak Marcell.


Dengan malas Dafi beranjak lalu membukakan pintu untuk kedua sahabatnya itu.


Alvin dan Marcell terkejut melihat wajah Dafi yang penuh luka juga lebam kebiruan.


"Daf, kamu kenapa?" tanya Alvin cemas.


"Kamu berkelahi? Atau dipukuli?" cecar Marcell.


Dafi memalingkan wajahnya dan kembali duduk di tempat tadi, dia malas meladeni pertanyaan sahabat-sahabatnya itu.


"Daf, cerita, dong!" desak Alvin.


"Iya, Bro. Katakan apa yang terjadi sampai wajahmu seperti ini." Marcell menimpali.


Dafi mengembuskan napas berat, "Semalam aku mabuk dan dipukuli."


Alvin dan Marcell terkejut mendengar pengakuan Dafi, mereka tahu sahabat mereka itu tidak pernah mabuk-mabukan sebelumnya.


"Kok bisa, Daf? Apa masalahnya dan sejak kapan kamu tahu mabuk-mabukan begitu?" Alvin kembali bertanya.


Alvin memegangi pundak Dafi, "Kalau kamu cerita, siapa tahu kami bisa bantu."


"Aku sakit hati," jawab Dafi akhirnya.


Alvin mengernyitkan keningnya, "Sakit hati kenapa?"


"Sera sudah menikah," beber Dafi lirih.


Kedua pemuda itu tercengang mendengar kabar mengejutkan ini.


"Kamu tahu dari mana?" tanya Marcell.


Dafi termangu, dia tak mungkin mengatakan jika Sera menikah dengan ayahnya sendiri.


"Dafi!" tegur Marcell sebab melihat Dafi termenung.


"Hem, semalam aku bertemu dia dan suaminya di restoran," terang Dafi.


"Siapa tahu itu bukan suami, cuma pacar atau temannya," bantah Alvin.


"Tidak, mereka sudah menikah beberapa hari yang lalu," sahut Dafi sedih.


Marcell menautkan kedua alisnya, "Kamu tahu dari mana?"


Dafi mendadak gugup, "Dia sendiri yang mengatakannya padaku."


Dafi sengaja berbohong demi menutupi semuanya dari Alvin dan Marcell.


"Jadi itu yang membuat mu seperti sekarang ini?"


Dafi mengangguk dua kali.


"Lalu kenapa kamu sampai dipukuli?" tanya Alvin lagi.


Dafi pun menceritakan apa yang terjadi di bar semalam, walaupun dia mabuk, tapi dia masih bisa mengingat kejadiannya sedikit-sedikit.


Alvin menghela napas, "Daf, tidak seharusnya kamu melakukan itu, sama saja kamu seperti membahayakan dan menghancurkan diri sendiri. Sementara Sera sudah tidak peduli lagi padamu."


Dafi tertegun, ucapan Alvin ada benarnya, dia bisa melihat sikap Sera yang biasa saja tadi saat melihatnya terluka dan babak belur. Mantan kekasihnya itu tidak tampak khawatir sama sekali, malah dengan sengaja memamerkan kemesraan di hadapannya. Sungguh menyakitkan.


"Iya, Bro. Walaupun Sera sudah jadi milik orang lain, bukan berarti hidupmu berakhir. Masih banyak gadis-gadis lain di luar sana, masa playboy cengeng begini." ledek Marcell.


Dafi mengembuskan napas berat, "Tapi aku masih menyayanginya, aku tidak terima dia bersama orang lain."


"Daf, jangan egois! Kamu sudah mengkhianati Sera, kamu tega menyakiti dan melepaskannya demi Luna, demi kesenangan mu. Jadi sekarang biarkan Sera bahagia dengan orang lain."


"Tidak semudah itu, Vin! Tidak mudah merelakannya begitu saja!" sungut Dafi kesal.


"Tapi dia sudah menikah, mau tidak mau kamu harus lupakan dia." pungkas Alvin.


Dafi kembali bergeming, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, sebab tak ingin sahabat-sahabatnya itu melihat matanya yang merah dan mulai basah. Dalam hati dia merasakan penyesalan yang sangat besar, andai dia tidak egois dan bisa menahan hawa nafsunya, pasti saat ini Sera masih menjadi kekasihnya alih-alih istri sang ayah.


Marcell merangkul pundak Dafi, "Sudahlah, Bro! Jangan sedih berlarut-larut, kamu juga harus melanjutkan hidupmu. Kalian itu tidak berjodoh, jadi jangan disesalkan lagi."


"Tolong tinggalkan aku sendiri!" pinta Dafi.


"Tapi kamu jangan melakukan hal yang aneh-aneh, ya?" Marcell memperingatkan.


Dafi hanya mengangguk.


"Ya sudah, kami pergi dulu. Kalau butuh kami, cepat kabari," lanjut Marcell.


"Hem."


"Yuk, Vin!" Marcell menarik Alvin pergi dari kamar kost Dafi.


"Aku memang bersalah karena telah menyakitimu, Sera. Tapi bukan berarti balasannya harus seperti ini!" ucap Dafi lirih, air mata yang sedari tadi dia tahan, akhirnya jatuh juga.


***