
Pasangan suami istri itu akhirnya kembali ke Indonesia, Riko yang menjemput mereka di bandara. Selama perjalanan, Sera menjaga jarak dan sama sekali tak mau bicara pada Damar, sepertinya dia masih sangat kesal pada suaminya itu.
"Hai, Oppa, Sera. Annyeong haseyo!" Yuni menyapa dengan heboh.
"Eonni, aku kangen." Sera memeluk Yuni, akhirnya gadis itu bersuara juga.
"Aku juga," balas Yuni.
Damar menghela napas, dia sadar jika Sera masih marah, makanya sejak kemarin gadis itu tak mau bicara padanya.
Yuni melepaskan pelukannya dan memandang Sera penuh harap, "Oleh-oleh buat aku ada, kan?"
"Tentu saja ada, aku sudah membelikan sesuatu yang spesial untuk Eonni."
"Asyik!" Yuni memekik kegirangan.
"Barang-barangnya mau diletakkan di mana, Pak?" tanya Riko yang baru masuk sambil menarik koper Sera dan Damar, diikuti oleh Bobi yang menenteng dua tas besar.
Damar mengalihkan perhatiannya ke Riko, "Letak di kamarku saja!"
"Baik, Pak," sahut Riko.
"Punyaku jangan!" Sera merebut kopernya dari tangan Riko, lalu mengalihkan pandangannya ke Bobi, "Mas Bobi, tas yang berwarna merah muda itu tolong bawa ke kamar tamu, ya!"
Bobi memandang Damar untuk meminta persetujuan, dan Damar pun mengangguk.
Riko memperhatikan tingkah Sera dan Damar yang aneh, dia mencurigai sesuatu.
"Yuk, Eonni!" Sera mengajak Yuni ke kamar tamu sembari menarik kopernya.
Yuni yang merasa tidak enak dengan Damar sedikit keberatan dengan ajakan Sera itu, "Hem, kamu duluan saja. Nanti aku menyusul."
"Ya sudah, aku duluan." Sera melangkah meninggalkan semua orang yang kebingungan dengan sikapnya itu, kecuali Damar yang memang sudah tahu penyebabnya.
Setelah Sera masuk ke dalam kamar tamu, Yuni yang kepo pun mulai mencari tahu apa yang terjadi.
"Oppa, Sera kenapa?"
"Tidak apa-apa, mungkin dia lelah. Sudah, sana temui Sera! Dia bawa banyak oleh-oleh untuk kamu!" jawab Damar, dia berusaha menutupi apa yang terjadi.
"Nde, Oppa." Yuni bergegas menyusul Sera.
"Bob, bawa tas dan koperku ke kamar, ya!" titah Damar.
"Siap, Mas." Bobi segera melakukan perintah majikannya itu.
"Ada masalah, Pak?" Riko tiba-tiba bertanya.
Damar menggeleng, "Tidak."
"Lalu kenapa Sera seperti itu?"
"Memangnya dia seperti apa? Bukankah memang seharusnya di tidur di kamar itu?" Damar masih berusaha menutupi apa yang terjadi.
"Bukan itu, Pak. Maksud saya kenapa dia terlihat cuek pada anda, dia bahkan tidak bicara atau pun sekedar memandang wajah anda. Apa telah terjadi sesuatu antara kalian?" Riko menatap curiga Damar.
"Kamu jangan mikir macam-macam!"
"Saya tidak mikir macam-macam, Pak. Saya hanya bertanya saja!" sanggah Riko.
"Jadi bawahan itu jangan terlalu kepo dengan urusan pribadi atasan, mau aku pecat?" ancam Damar.
Riko meringis, "Tidak, Pak. Maaf!"
"Ya sudah, sekarang kamu boleh pulang, aku mau istirahat."
"Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi, selamat sore."
"Selamat sore."
Damar naik ke lantai atas menuju kamarnya, sedangkan Riko meninggalkan kediaman atasannya tersebut.
Baru saja Damar hendak membuka pakaian, ponselnya berdering. Ada panggilan masuk dari Lusi dan dia buru-buru menjawabnya.
"Halo, Ma."
"Kalian sudah sampai?"
"Sudah, baru saja."
"Sera mana?"
Damar terdiam sejenak, lalu menjawab dengan berbohong, "Sedang di kamar mandi, Ma."
Damar lega karena sang ibu percaya.
"Sayang, tadi Dafi menelepon Mama. Dia nanyain kamu sudah pulang apa belum."
Damar menautkan kedua alisnya, "Dafi nanyain aku, Ma? Tumben banget?"
"Entahlah, Mama juga heran."
"Mama tidak tanya ada apa?" tanya Damar.
"Sudah, tapi dia bilang cuma bertanya saja."
"Aneh sekali." Damar bingung dengan tingkah tak biasa putranya itu.
"Ya sudah, nanti kamu coba hubungi Dafi, tanya langsung ke dia."
"Baik, Ma."
"Kalau begitu Mama tutup dulu, ya. Titip salam buat Sera."
"Iya, Ma."
***
Di dalam kamar tamu, Sera sedang membongkar koper dan tasnya, dia memberikan oleh-oleh untuk Yuni berupa tas cantik dari merek ternama, gaun yang indah dan parfum. Yuni sangat senang dan langsung mencoba barang-barang pemberian Sera itu.
"Bagus tidak?" Yuni memamerkan gaun dan tas yang dia pakai.
"Bagus banget, Eonni," puji Sera.
"Terima kasih, ya, Sera. Aku suka banget."
Sera tersenyum, "Sama-sama Eonni."
Selain untuk Yuni, Sera juga membelikan oleh-oleh untuk Bobi, dia menitipkannya kepada Yuni.
Tapi rupanya rasa penasaran Yuni belum hilang, dia kembali mencari tahu apa yang terjadi dari Sera.
"Sebenarnya kamu kenapa, sih?" tanya Yuni tanpa basa-basi.
"Kenapa apanya? Aku baik-baik saja, Eonni."
"Aku perhatikan sikap kamu beda, kamu terlihat cuek pada Oppa. Apa ada masalah?" Yuni memandang penuh selidik.
Sera tertunduk demi menghindari tatapan Yuni, dia merasa gugup, "Ah, itu perasaan Eonni saja! Tidak ada masalah apa-apa, kok."
Yuni menggenggam kedua tangan Sera, "Kita ini sahabat, kamu tidak bisa menutupi apa pun dari aku, karena aku bisa melihatnya dari sikap dan raut wajahmu."
"Tidak ada apa-apa, Eonni. Sungguh!"
Yuni mengembuskan napas, meskipun Sera menyangkalnya, tapi dia yakin pasti ada sesuatu yang terjadi antara gadis itu dan majikannya, sebab biasanya mereka terlihat hangat dan akrab, namun kali ini Sera terkesan cuek dan menjauhi Damar.
***
Malam ini Damar memutuskan untuk keluar, sepertinya dia butuh tempat untuk melampiaskan hasratnya yang sudah hampir dua Minggu ini tidak tersalurkan. Dia berpikir mungkin karena hal itu dia jadi sering berpikiran yang tidak-tidak tentang Sera dan susah mengendalikan dirinya.
Damar menyewa seorang wanita bayaran nan cantik dan seksi, dia mengajak wanita itu ke sebuah kamar hotel. Tak ingin membuang-buang waktu, Damar yang memang sudah terbakar api gairah langsung mencumbui wanita itu dengan penuh hasrat. Dia melucutii pakaian wanita itu dan siap untuk mengarungi lautan kenikmatan, namun tiba-tiba bayangan wajah Sera hadir mengusiknya.
Damar mencoba menepis sosok cantik yang terus mengganggunya, namun gadis itu seolah enggan pergi dari pikirannya.
Mendadak Damar hilang selera, dia tak lagi bernafsu untuk menyentuh wanita yang sedang menunggu di bawah kungkungan nya. Entah apa yang terjadi padanya, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini, berhenti sebelum memulai bercinta.
Damar turun dari ranjang lalu memakai celananya, wanita itu bangkit dan menatap Damar dengan kecewa.
"Ada apa, Mas? Kenapa tidak jadi?"
"Aku sudah tidak berselera," jawab Damar tak acuh.
"Apa ada yang salah?"
"Tidak, tidak ada." Damar mengambil beberapa lembar uang seratus ribu, lalu melemparkannya ke wanita itu, "ambil itu, dan pergi dari sini!"
Wanita itu mengutip uang yang Damar lempar dengan kesal, dia lalu mengenakan pakaiannya dan bergegas pergi sambil menggerutu.
Damar tak menghiraukan wanita itu, dia duduk di tepi ranjang dan mengusap wajahnya sambil berulang kali menghela napas. Dia juga kesal pada dirinya sendiri, di saat hasratnya sedang menggebu-gebu, tiba-tiba bayangan Sera datang dan membuatnya tak lagi bernafsu.
"Ada apa denganku?"
Tak ingin terus-terusan dihantui rasa kesal, Damar pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
***