
Sesudah puas berjalan-jalan mengitari Piazza San Marco, Sera dan Damar pun kembali ke hotel.
Sera langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, "Haa, lelahnya."
"Tapi seru, kan?" Damar memastikan.
"Iya, seru banget malah. Ini pertama kalinya aku keluar negeri, ternyata suasananya beda dengan Indonesia."
"Italia itu memang salah satu negara yang keren dan asyik buat liburan, bahkan untuk tempat tinggal. Makanya Mama dan Papa Om memilih menetap di negara ini."
"Oh iya, kapan kita ke rumah orang tua Om?" tanya Sera.
"Besok kita akan cek out dan pergi ke Roma, soalnya Om tidak bisa cuti lama-lama," sahut Damar.
"Kita naik apa ke Roma? Pesawat?"
"Kita akan naik kereta api cepat, biar bisa menikmati perjalanan dari Venesia ke Roma."
Sera merasa lega, "Syukur,deh. Soalnya aku masih trauma kalau naik pesawat."
"Idih, segitunya. Nanti pulang ke Jakarta juga naik pesawat lagi."
"Iya, sih. Tapi setidaknya aku sudah jauh lebih baik, lagipula nanti aku mau minum obat untuk mabuk perjalanan dulu sebelum naik pesawat."
"Iya, deh, iya. Nanti kita beli obatnya," balas Damar, "ya sudah, Om mau menghubungi Riko dulu, mau mengecek keadaan kantor.
"Baiklah, aku juga mau istirahat."
Damar segera melangkah ke balkon, sebenarnya dia bukan saja ingin mengecek kantor, dia juga ingin memastikan keadaan Dafi melalui Riko yang sudah dia utus untuk memantau putranya itu.
Sementara Sera mengotak-atik ponselnya, dia melihat postingannya yang dibanjiri komentar dari teman-temannya. Dia hanya tersenyum dan tidak membalas komentar-komentar tersebut, dia tahu Dafi pasti sudah melihat postingan itu.
Tidak cukup sampai di situ, Sera juga mengunggah beberapa foto dirinya saat di alun-alun San Marco yang lagi-lagi ramai diserbu komentar dari teman-temannya, banyak yang memuji Sera karena terlihat lebih cantik dan modis, ada juga yang basa-basi menitip oleh-oleh. Namun lagi-lagi Sera tidak membalasnya.
***
Dafi dan Marcell menjenguk Ferdi yang sudah mulai membaik, sedangkan Jamal telah dipindahkan ke rumah sakit lain yang lebih dekat dengan rumahnya.
Sedari tadi Dafi hanya duduk diam mendengarkan Alvin dan Marcell bersenda gurau bersama Ferdi, dia tidak bersemangat dan terlihat murung. Rupanya Ferdi memperhatikan teman adiknya itu.
"Teman kalian itu kenapa? Cacingan? Kenapa dari tadi diam saja?" cecar Ferdi dengan nada seloroh.
"Biasa, Mas. Dia lagi patah hati, mantannya nikah," ledek Marcell.
Dafi hanya diam tak menanggapi ocehan dua orang itu.
"Yaelah, kalau dia sudah nikah, berarti kamu harus move on, dong!" ujar Ferdi.
"Masalahnya Dafi gagal move on, Mas. Dia masih berniat balikan, tapi mantannya keburu nikah dengan orang lain," sambung Alvin.
"Kalian ini tidak bisa bahas yang lain?" Dafi berusaha mengalihkan pembicaraan karena merasa malu, tapi ketiga orang itu tak menggubrisnya.
"Iya, Mas. Mana tadi unggah foto bareng suaminya lagi, pamer jalan-jalan ke Venesia," lanjut Marcell yang semakin menjadi.
Alvin terkesiap, sebab dia belum melihat postingan Sera itu, "Benarkah? Aku kok belum lihat, ya?"
"Emang dari tadi kamu ngapain saja, Vin?" tanya Marcell.
"Main game online, habis jenuh jagain Mas Ferdi," jawab Alvin.
Ferdi sontak mengeplak kepala Alvin yang duduk di samping ranjangnya, "Gitu saja jenuh!"
Alvin meringis. Dia lalu mengeluarkan ponselnya dan mencari postingan Sera.
"Wah, dia jalan-jalan ke Venesia! Tapi kenapa wajah suaminya ditutupi emoticon, ya?" Alvin langsung heboh saat menemukan foto unggahan Sera itu.
"Mungkin mau buat orang penasaran," tebak Marcell.
Dafi hanya menghela napas, dia benar-benar malas meladeni teman-temannya itu.
"Mana? Coba lihat!" pinta Ferdi yang ikut penasaran.
Ferdi terkejut saat melihat sosok yang sangat dia kenal di foto itu. "Sera?"
Dafi dan kedua sahabatnya pun ikut terkejut saat Ferdi menyebut nama Sera.
"Mas kenal dengan Sera?" Dafi memastikan.
"Kenal. Jadi dia mantan pacar kamu?"
Dafi mengangguk.
"Mas kenal dia dari mana?" tanya Alvin.
"Aku kenal dia dari Riko, asistennya Mas Damar," ujar Ferdi.
Damar kembali terkejut, "Mas juga kenal Pap ... maksudku suaminya?"
Dafi hampir saja keceplosan menyebut Damar papanya.
Ferdi mengangguk.
"Jadi nama suami Sera itu Damar?" sela Marcell, lalu menatap curiga Dafi, "kamu tahu dari mana, Daf?"
Dafi seketika gugup.
"Iya, Daf. Kamu kok tahu?" Alvin ikut-ikutan bertanya.
"Kan aku sudah bilang kemarin bertemu mereka di restoran, dan sempat berkenalan dengan suaminya." Dafi terpaksa berbohong.
"Oh iya, aku lupa." Marcell menepuk pelan dahinya.
"Mas datang ke pernikahan mereka?" tanya Alvin.
"Mas mau datang, tapi malah kecelakaan begini," jawab Ferdi.
"Pasti suami Sera orang kaya dan pestanya mewah!" tebak Marcell.
"Pestanya sederhana, kok. Cuma diadakan di apartemen Sera dan dihadiri keluarga Mas Damar saja."
"Loh, kenapa gitu?"
Ferdi tertawa, "Iyalah, awalnya pernikahan itu cuma bohongan saja."
Dafi menautkan kedua alisnya, "Apa maksud Mas dengan bohongan?"
"Kalau Mas cerita, kalian janji jangan bilang ke siapa-siapa, ya?" Ferdi memandangi ketiga orang itu mencari kepastian.
"Iya, Mas. Kami janji tidak akan mengatakannya ke siapa pun."
Ferdi lantas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, membuat ketiga orang itu terperangah tak percaya.
"Tapi karena Mas dan Bang Jamal kecelakaan, mereka jadi menikah sungguhan," sesal Ferdi.
"Wah, itu berarti suaminya Sera awalnya ingin memanfaatkan dia. Kenapa Sera mau, ya?" Alvin berkomentar.
"Karena balas budi, Mas Damar itu sudah banyak membantu Sera. Lagipula dari awal mereka sudah terlanjur berbohong pada mamanya Mas Damar, jadi mau tak mau harus membuat kebohongan baru dan inilah hasilnya," terang Ferdi.
Dafi yang syok terdiam mendengar semua cerita yang disampaikan oleh Ferdi, dia benar-benar tak menyangka akan mendapatkan kenyataan mengejutkan ini.
"Berarti mereka tidak saling mencintai, dong? Mereka kan terpaksa menikah?" tanya Marcell lagi.
"Mungkin awalnya tidak, tapi kalau sudah menikah begini dan setiap hari bertemu, lama-lama cinta juga akan datang sendiri. Apalagi Sera itu cantik, Mas Damar mana bisa tahan. Entah jangan-jangan saat ini sudah digarap olehnya," tutur Ferdi.
Dafi mengeraskan rahangnya, dia sungguh tidak rela membayangkan Sera disentuh oleh Damar.
"Jadi sebaiknya sekarang kamu ikhlas kan Sera, dia sudah jadi istri orang lain. Kalau pun kamu masih mau dengannya, berarti kamu harus menunggu dia cerai dari suaminya, alias janda. Itupun kalau mereka berpisah, kalau langgeng, kamu tidak akan mendapatkannya sama sekali," imbuh Ferdi.
Dafi masih bergeming dengan perasaan campur aduk, dia benar-benar syok dan kaget.
***