
Pagi ini semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan, Damar tidak bersemangat, matanya berat dan perih karena semalam tidak tidur, dia mengantuk. Rupanya Lusi memperhatikan putranya itu dan merasa cemas.
"Kamu terlihat lesu, sayang. Apa kamu sedang sakit?"
Pertanyaan Lusi itu membuat Sera, Dafi dan Anggi memandang ke arah Damar.
"Aku baik-baik saja, Ma," sanggah Damar.
"Tapi kamu seperti tidak sehat, mata kamu juga merah. Kamu yakin baik-baik saja?" Lusi memastikan.
"Iya, Ma. Jangan khawatir!"
Sera memperhatikan wajah Damar yang tampak kusut, dia juga merasa cemas.
Tiba-tiba Bobi datang dengan membawa sebuah hadiah berbentuk kotak dan menghampiri meja makan.
"Maaf, Pak. Saya menemukan hadiah ini di depan pintu gerbang."
Damar mengernyit, merasa heran dengan benda temuan Bobi itu, "Siapa pengirimnya?"
"Tidak tahu, Pak. Saat saya membuka gerbang tadi, hadiah ini sudah ada dan tidak ada siapa-siapa."
"Sini hadiahnya!"
Bobi menyerahkan hadiah itu ke tangan Damar.
"Hati-hati, sayang! Mama takut isinya berbahaya."
"Iya, Mama tenang saja!" Damar menarik pita yang mengikat hadiah itu, lalu dengan perlahan membukanya.
Damar terkejut minta ampun saat melihat isinya ternyata bangkai kelinci yang berlumuran darah, dia langsung menutup kembali kotak hadiah itu.
"Apa isinya, sayang?" tanya Lusi penasaran.
"Bangkai binatang, Ma," jawab Damar.
Semua orang ikut terkejut mendengar penuturan duda tampan itu.
"Siapa kira-kira yang mengirimkannya?" Lusi bertanya-tanya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Tapi siapa pun orang itu, dia pasti punya niat buruk," sahut Damar.
"Sebaiknya kita lihat cctv!" cetus Dafi, dan Damar mengangguk setuju.
Mereka semua mengecek cctv di ponsel Damar, di dalam rekaman terlihat sebuah mobil Taft berwarna hitam berhenti di depan gerbang rumah Damar sekitar pukul enam pagi, lalu meletakkan hadiah berisi bangkai itu, kemudian pergi. Damar merasa tidak asing dengan mobil itu, dia berusaha mengingat-ingat pernah melihatnya di mana dan baru menyadari sesuatu.
"Kalau tidak salah mobil ini yang kemarin nyaris menyerempet mobilku," ujar Damar.
Sera terkesiap dan langsung memperhatikan rekaman cctv tersebut, dia juga mengenali mobil itu, "Iya, ini mobil yang sama."
"Jadi kalian sempat diserempet? Kapan? Lalu apa kalian terluka?" cecar Lusi cemas.
"Iya, kemarin, Ma. Tapi kami tidak apa-apa, kok."
Anggi bergeming dengan wajah tegang, dia seketika merasa ketakutan.
"Ini sudah meresahkan, kamu harus lapor polisi!" usul Lusi.
"Iya, Ma. Aku akan lapor polisi dan menunjukkan bukti rekaman cctv juga bangkai binatang ini."
"Mama takut ada yang berniat jahat pada keluarga kita." Lusi berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.
Sera mendekap mertuanya itu dengan penuh kasih sayang, "Mama tenang, ya. Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan."
Dafi dan Anggi merasa iri dengan keharmonisan hubungan antara menantu dan mertua itu.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu," kata Damar, lalu menatap Dafi yang berdiri di sampingnya, "Papa titip orang-orang di rumah ini, kalau ada apa-apa, cepat kabari Papa!"
Dafi mengangguk, "Iya."
"Damar, kamu hati-hati, ya," ucap Lusi cemas.
"Iya, Ma." Damar bergegas pergi sambil membawa kotak hadiah berisi bangkai hewan itu.
"Mama takut sekali." Lusi semakin mengeratkan pelukannya pada Sera.
"Mama tenang, semua pasti akan baik-baik saja," balas Sera.
Namun tiba-tiba Lusi mengalihkan pandangannya ke Anggi dan menatap curiga wanita itu, "Jangan-jangan semua ini ada hubungannya dengan kau! Ini pasti ulah suamimu itu, kan?"
Anggi terdiam sambil menelan ludah, dia tak berani menjawab tuduhan Lusi.
"Oma kenapa menuduh Mama seperti itu?" protes Dafi, dia tidak terima Anggi dituduh sebagai penyebab semua ini.
"Dafi, sebelum mamamu datang ke sini, semuanya baik-baik saja! Tapi begitu dia datang, teror ini terjadi!" sungut Lusi.
"Ma, sudahlah." Sera mengusap pundak Lusi demi menenangkan mertuanya itu.
"Bisa saja teror ini dari musuhnya Papa, atau orang yang mungkin tidak menyukainya," sanggah Dafi, dia berusaha membela sang mama.
"Oma kenal papamu, dia orang baik, mana mungkin ada orang yang tidak menyukainya," bantah Lusi.
"Kalau dia orang baik, dia tidak akan menyakiti Mama dan meninggalkan kami!" ujar Dafi menohok.
Lusi, Sera, dan Yuni terkejut mendengar ucapan Dafi, begitupun dengan Anggi, dia berusaha menarik Dafi dan menenangkan putranya itu.
"Dafi! Kamu tidak tahu kalau ... akh ..." Kata-kata Lusi terhenti sebab mendadak dia merasa pusing dan nyaris limbung.
"Mama! Mama tidak apa-apa?" Sera berusaha memegangi Lusi, dia seketika panik.
"Sebaiknya Nyonya duduk dulu, biar saya ambilkan air minum," usul Yuni.
Sera dan Yuni membantu Lusi duduk di sofa ruang tamu, sementara Dafi dan Anggi hanya bergeming menatap mereka. Tiba-tiba ponsel Anggi bergetar, dia termangu dengan wajah tegang saat melihat ID si penelepon.
"Mama ke kamar dulu," bisik Anggi pada sang putra.
Dafi mengangguk, "Iya, Ma."
Anggi buru-buru naik ke lantai atas, meninggalkan orang-orang yang sedang cemas dengan keadaan Lusi.
Di kantor polisi, Damar sedang memberikan laporan sambil menunjukkan rekaman cctv di rumahnya.
"Saya yakin ini orang yang sama, Pak," tutur Damar penuh keyakinan.
"Baiklah, kami akan menyelidiki kasus ini dan mencaritahu siapa orang yang sudah meneror Mas."
"Iya, Pak. Saya berharap orang itu segera bisa diamankan, karena dia sudah meresahkan dan membuat keluarga saya takut."
"Mas Damar tenang saja."
Damar pun bisa sedikit merasa lega karena sudah melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib, meskipun dia masih bingung siapa peneror itu dan apa tujuannya?
***