My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 75.



Sera buru-buru keluar dari rumah sembari memesan ojek online, dia bahkan tidak sempat sarapan karena takut telat.


Dafi yang melihat Sera bergegas mengejar gadis itu dan menghampirinya, "Pergi bareng aku saja, yuk?"


Sera tak meladeni tawaran Dafi, dia pura-pura bersikap tak acuh, bahkan tak mau memandang mantannya itu.


"Ra, please! Jangan terus-terusan memusuhi ku seperti ini!"


Sera masih tak menggubris ucapan Dafi, dia pura-pura sibuk memeriksa ponselnya.


Beberapa saat kemudian ojek online yang Sera pesan datang, dia buru-buru naik tanpa memedulikan Dafi.


"Jalan, Bang!" pinta Sera.


Sepeda motor yang dikendarai driver ojek online itu pun melaju meninggalkan kediaman Damar.


"Sera!"


Melihat Sera pergi, Dafi juga segera naik ke sepeda motornya dan menyusul gadis itu.


Bobi yang melihat tingkah kedua insan itu pun kebingungan.


Dafi terus mengikuti Sera dari belakang, membuat gadis itu merasa risi dan kesal dengan ulahnya. Namun tiba-tiba dia melesat kencang mendahului Sera dan meninggalkan gadis itu.


"Dasar gila!" umpat Sera pelan.


Sampai akhirnya Sera tiba di depan kampus yang ia tuju, dia bergegas turun dari motor dan melangkah masuk, tapi rupanya Dafi sudah menunggunya.


"Aku akan tunjukkan ruang ujiannya, kebetulan aku tahu tempatnya," ujar Dafi sambil mengikuti langkah Sera.


"Tidak perlu! Aku tidak butuh bantuan mu!" tolak Sera ketus, dia sok jual mahal pada Dafi, padahal sejujurnya dia sendiri bingung akan ke mana.


Walaupun sikap Sera kasar dan tidak bersahabat, tapi Dafi tak peduli, dia terus saja mengikuti gadis itu dan menunjukkan arah mana menuju ruang ujian seleksi.


Meskipun sempat menolak niat baik Dafi, tapi pada akhirnya Sera tetap menuruti mantannya itu.


Beberapa mahasiswa memandangi Sera dengan takjub, bahkan ada yang terang-terangan menggodanya. Tentu Dafi tidak suka dan langsung menatap tajam mereka.


"Woi, Daf! Mangsa baru? Kece, benar!" edek salah seorang mahasiswa yang tak lain adalah teman Dafi.


"Si Dafi gercep amat! Gitu ada yang baru, langsung pepet," sambung seorang mahasiswa lain.


Dafi hanya tersenyum tanpa membalas ledekan teman-temannya itu, dan Sera sadar ternyata di kampus ini, Dafi dianggap playboy.


Kebetulan keduanya berpapasan dengan Luna yang sedang bergandengan mesra dengan pacar barunya. Luna terkejut melihat pasangan itu.


"Kalian?" gumam Luna dengan alis menaut.


Sera pun heran melihat Luna bergandengan tangan dengan lelaki lain, dia sontak menatap Dafi yang terlihat tak peduli.


"Kami sudah putus," terang Dafi meski Sera tak bertanya, seolah dia mengerti maksud tatapan gadis itu.


Tentu pengakuan Dafi itu sangat mengejutkan bagi Sera, dia baru tahu jika hubungan Dafi dan Luna sudah berakhir.


"Aku tidak tanya!" Sera pura-pura tidak peduli.


Dafi hanya tersenyum kecut mendengar ucapan bernada ketus Sera.


Keduanya pun terus berjalan beriringan, menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di kampus tersebut.


"Itu tempat ujiannya." Dafi menunjuk sebuah ruangan yang sudah cukup ramai, banyak calon mahasiswa baru yang juga baru datang.


Sera tak mengatakan apa pun walau sekedar ucapan terima kasih, dia mempercepat langkahnya menuju ruangan itu dan meninggalkan Dafi yang masih memandanginya penuh arti.


Setelah memastikan Sera sudah masuk, Dafi pun meninggalkan tempat itu.


***


Sera sudah selesai mengikuti ujian seleksi, dia berjalan tergesa-gesa menuju gerbang utama kampus dan buru-buru naik ojek online yang dia pesan.


Di perjalanan, perut Sera terasa keroncongan sebab tadi pagi dia tidak sempat sarapan, dan kebetulan sekali dia melewati warung makanan yang terkenal dengan nasi uduknya. Tanpa pikir panjang, Sera minta diturunkan di depan warung itu, namun tanpa diduga dia justru bertemu dengan Heru yang baru saja keluar dari warung yang sama.


Sera tercengang dengan mata melotot, "Ayah?"


Heru yang juga kaget memandangi Sera dari bawah sampai atas, "Sera? Kau berubah sekali?"


Sera tak menjawab, dia langsung berbalik dan hendak pergi.


Heru sontak mengejarnya dan menarik lengan anak tirinya itu, "Sera tunggu!"


Sera menepis tangan Heru, "Lepaskan! Jangan ganggu aku!"


"Sera, aku tidak ingin mengganggu mu, aku hanya ingin minta tolong," ujar Heru.


Sera terdiam menatap ayah tirinya itu.


"Aku dengar dari tetangga kita, kau sudah diangkat jadi anak oleh orang kaya, kau pasti banyak uang sekarang. Jadi tolong bantu aku," lanjut Heru dengan wajah memelas.


"Apa mau mu?" tanya Sera ketus.


"Aku ditipu dan dikejar-kejar oleh rentenir, aku butuh uang sepuluh juta untuk membayar hutangku. Tolong pinjamkan aku uang," terang Heru memohon.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu," bantah Sera.


"Bohong! Kau pasti punya!"


"Aku bilang tidak punya, ya berarti tidak punya! Jadi jangan memaksaku!" sungut Sera mulai emosi.


"Kau bisa minta pada ayah angkat mu itu."


"Jangan harap aku akan melakukannya untuk orang seperti mu," ujar Sera, dia hendak pergi, tapi kali ini Heru malah menarik tasnya.


"Eh, apa-apaan ini?" Sera yang terkejut spontan merebut kembali tasnya dan terjadilah adegan tarik menarik.


"Berikan!" bentak Heru tak tahu diri.


"Tolong! Ada rampok!" teriak Sera dan mengundang perhatian semua orang yang seketika berdatangan.


Melihat orang-orang mulai mendekat, Heru yang takut dan panik pun melepaskan tas Sera lalu mendorong gadis itu hingga terjengkang ke belakang. Lelaki kurang ajar tersebut kemudian lari terbirit-birit.


Beberapa orang warga berusaha mengejar Heru dan sebagian lagi menolong Sera yang meringis kesakitan sebab lengannya terluka dan berdarah.


"Mbak, tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang membantu Sera.


"Tidak, Mas. Saya tidak apa-apa, kok."


"Tapi lengan Mbak terluka, apa tidak sebaiknya ke rumah sakit saja?"


Sera menggeleng, "Saya pulang saja."


Sera berusaha bangkit sambil memegang lengannya yang terluka.


Orang-orang yang tadi mengejar Heru kembali dan ngos-ngosan.


"Larinya cepat banget, kami kehilangan dia," keluh seorang pria bertubuh kurus yang tadi ikut mengejar Heru.


"Mbak tidak mau lapor polisi saja? Biar polisi yang mencari pelakunya," tanya pria lain yang berdiri di depan Sera.


"Tidak usah, Pak. Biarkan saja!" balas Sera.


Sera segera memesan taksi agar bisa secepatnya pulang ke rumah dan mengobati luka di lengannya yang terasa begitu perih.


Hari ini Sera benar-benar sial karena bertemu dengan Heru, setelah sekian lama, ternyata ayah tirinya itu tidak berubah juga. Heru tetap menjadi pria berengsek yang tidak punya perasaan dan masih saja memperlakukan Sera dengan sesuka hati.


***