
"Dafi, anakku sayang!"
Dafi terkesiap, "Mama?"
Anggi sontak memeluk Dafi dan menangis, dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan putranya itu. Semalam Damar mengabarkan jika Dafi dirawat di rumah sakit, dan pagi ini Anggi langsung terbang ke Indonesia.
Dafi bergeming sambil melirik Damar yang memandangi mereka dengan wajah datar, dia tahu pasti sang ayah yang memberi kabar pada mamanya itu.
Anggi melepaskan pelukannya dan memperhatikan tubuh Dafi, "Bagaimana kondisi kamu, sayang? Mana saja yang sakit?"
"Aku baik, hanya cedera sedikit saja," sahut Dafi, "Tapi tumben sekali Mama mau datang?"
Dafi heran karena Anggi mau menjenguknya, bukankah sebelumnya, sang ibu hanya menanyakan kabarnya saja melalui sambungan telepon, seperti saat dia kecelakaan waktu itu.
"Mama khawatir padamu, makanya Mama buru-buru ke sini," jawab Anggi.
Dafi hanya menghela napas lalu memalingkan wajahnya, tepat di saat bersamaan Sera datang.
"Sera? Kamu datang?" ujar Dafi berbinar.
Damar dan Anggi pun langsung menoleh ke arah Sera yang terpaku di ambang pintu.
Anggi mengernyit, dia tidak mengenal Sera tapi dia ingat nama itu sebab Dafi beberapa kali pernah menyebutnya.
Melihat Sera hanya berdiam di depan pintu, Damar menyuruhnya untuk masuk, "Sera, sini! Kenapa hanya berdiri di situ?"
Dengan perasaan canggung Sera melangkah mendekati Damar.
Dafi merasa sedikit kecewa karena gadis itu lebih memilih berdiri di dekat sang ayah alih-alih dirinya yang sedang terluka.
"Kalau tidak salah, Sera ini pacar kamu, kan?" tanya Anggi memastikan.
Sera dan Damar terhenyak sebab Anggi tahu siapa Sera.
"Kami sudah putus dan sekarang dia istrinya Papa," sahut Dafi sambil melirik sinis Damar dan Sera.
Anggi tercengang mendengar pernyataan Dafi, dia sontak menatap Damar, "Jadi ini istri baru kamu?"
Damar mengangguk, sedangkan Sera hanya tertunduk dengan jantung berdebar.
Anggi tertawa mengejek, "Ini benar-benar gila! Kamu menikahi mantan pacar putramu sendiri? Dia itu lebih pantas jadi anakmu!"
Damar kesal mendengar cibiran dari Anggi, dan dia segera membela diri, "Sebelumnya aku tidak tahu kalau dia mantan pacar Dafi."
"Lalu setelah tahu? Kamu masih mau?"
Damar terdiam, dia juga dilema dengan perasaannya saat ini.
Anggi mengalihkan pandangannya ke Sera, "Hebat kamu, ya? Tidak berhasil mendapatkan anaknya, kamu malah mendekati ayahnya. Aku yakin kamu hanya ingin memanfaatkan mereka, dasar perempuan tidak tahu malu!"
Sera terluka dengan hinaan Anggi, dia mengangkat kepala menatap wanita itu sambil mengepalkan tangan menahan geram.
"Anggi! Kau tidak berhak menghakiminya seperti ini," bentak Damar.
"Iya, Mama jangan bicara macam-macam tentang Sera!" sambung Dafi.
"Kenapa kalian marah? Yang aku katakan itu kebenaran, dia pasti mengincar sesuatu dari kalian," lanjut Anggi.
"Anggi, tutup mulutmu! Kau tidak tahu apa-apa, jadi jangan bicara sembarangan!" hardik Damar marah.
Damar tercenung mendengar kalimat terakhir Sera, entah mengapa begitu menusuk hatinya. Sedangkan Anggi merasa bingung karena Sera memanggil Damar dengan sebutan Om.
"Kalau Tante tidak percaya, silakan tanya pada mereka berdua apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Sera kemudian bergegas pergi meninggalkan ruang perawatan Dafi.
"Sera!" pekik Damar dan Dafi bersamaan, namun gadis itu tak peduli.
Damar buru-buru mengejar Sera, begitupun dengan Dafi, dia juga hendak bangkit dan mengejar mantan kekasihnya itu, tapi kepalanya seketika sakit.
Anggi mendadak panik, dia langsung memegangi Dafi, "Kamu kenapa, sayang?"
"Kepalaku sakit sekali," erang Dafi sembari memegangi kepalanya yang berdarah lagi.
"Mama panggil dokter dulu!" Anggi berlari mencari dokter.
***
Sera berlari meninggalkan ruang perawatan Dafi, dia menangis, hatinya sakit mendengar kata-kata Anggi yang begitu merendahkan dirinya. Apa yang Sera khawatir kan akhirnya terjadi juga, dan ternyata lebih sakit dari yang dia bayangkan.
Damar mengejar Sera dan menarik lengan gadis itu, "Sera, tunggu!"
Langkah Sera terhenti, dia menyeka air matanya dengan kasar.
"Ucapan Anggi tadi jangan dimasukin ke hati, dia memang begitu orangnya, kalau bicara suka asal."
"Tapi aku sakit hati, Om. Inilah yang aku takutkan jika Om dan orang lain tahu siapa aku, makanya aku berbohong untuk menutupinya," ujar Sera dengan berlinang air mata.
Damar terdiam, dia merasa iba sekaligus menyesal karena sempat marah dan menuduh Sera pembohong.
"Demi Tuhan, sedikitpun aku tidak ada niat buruk, aku juga tidak pernah mengharapkan uang kalian," sambung Sera.
"Iya, Om tahu itu. Om minta maaf atas nama Anggi."
"Om tidak perlu minta maaf, aku cuma ingin Om segera mengurus perceraian kita, aku tidak mau semakin banyak orang yang menuduh dan menghinaku seperti mantan istri Om itu."
Damar terdiam, entah mengapa setiap kali Sera meminta cerai, hatinya merasa sakit dan tidak rela, tapi dia juga tak bisa menolaknya.
"Aku juga takut kalau sampai Dafi mengadu pada mama dan papa Om tentang sandiwara kita, mereka pasti akan marah besar." Sera kembali terisak.
"Dafi tidak akan mengadu pada mereka."
Sera mengernyit, "Kenapa Om yakin sekali?"
"Karena dia sudah berjanji pada Om, dia akan merahasiakan semua ini," dalih Damar, dia tentu tak ingin Sera tahu syarat yang diminta Dafi agar rahasia ini tetap terjaga.
Sera tidak percaya jika Dafi akan menepati janjinya, mengingat dia begitu benci pada sang ayah.
"Sudahlah, kamu jangan takut dan menangis lagi. Semua pasti akan baik-baik saja." Damar mengusap jejak-jejak air mata di pipi Sera, membuat wajah gadis itu bersemu kemerahan.
"Sekarang mari kita pulang!"
"Tapi Dafi bagaimana, Om?"
"Ada mamanya yang jaga. Mereka sudah lama tidak bertemu, dia pasti ingin menghabiskan waktu bersama mamanya. Om tidak mau mengganggu," ujar Damar lalu menarik lengan Sera, "Yuk, pulang!"
Sera hanya bergeming dan mengikuti langkah Damar meninggalkan rumah sakit.
***