
Damar yang galau masih terjaga, dia tidak bisa tidur sama sekali, meskipun waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, dia memutuskan untuk keluar dan duduk di taman belakang, menikmati udara subuh nan dingin sembari memandangi foto-fotonya bersama Sera saat di Eropa.
Jauh di hatinya, Damar merasa berat melepaskan Sera, tapi dia tak mungkin mempertahankan gadis itu. Apalagi jika mengingat kata-kata Dafi tadi, hatinya semakin berusaha untuk ikhlas.
Dia teringat saat-saat manis bersama Sera, dan ketika mencium bibir gadis itu, hati Damar seketika bergetar. Kini dia semakin yakin jika telah jatuh cinta pada gadis itu, rupanya kebersamaan dan kedekatan mereka selama ini menumbuhkan benih-benih asmara tanpa mereka sadari.
"Sera, maaf kalau aku memiliki perasaan ini terhadapmu, tapi aku janji tidak akan menahan mu untuk tetap bersamaku. Kamu bebas pergi dan memilih jalan hidupmu sendiri," ucap Damar lirih seraya menatap wajah cantik Sera di dalam layar ponselnya.
Damar mengembuskan napas berat, bahkan sangat berat. Dia tak pernah menyangka akan berada dalam posisi yang sangat sulit seperti ini, di mana dia harus memilih antara perasaannya atau perasaan sang putra. Belum lagi jika nanti dia dan Sera benar-benar bercerai, dia harus menghadapi kedua orang tuanya dan bersiap menerima kemarahan mereka. Ternyata semua tidak semudah yang dia pikirkan, dia terjebak dalam kebohongannya sendiri.
Yuni yang terbangun karena hendak buang air kecil terkejut saat melihat pintu belakang terbuka lebar dan ada bayangan seseorang di luar, dia mendadak takut jika ada maling. Yuni mengambil sapu lalu berjalan mengendap-endap menuju pintu, dengan hati-hati dia mengintip keluar. Yuni terkesiap melihat Damar sedang duduk termenung sendiri sambil memandangi ponselnya.
"Oppa!" seru Yuni.
Damar yang kaget sontak menoleh ke belakang, "Yuni, kamu mengagetkan saja!"
"Sedang apa Oppa subuh-subuh di sini? Saya sampai mengira ada maling yang mau masuk."
"Aku tidak bisa tidur, makanya duduk di sini."
"Kenapa? Oppa ada masalah, ya?" tanya Yuni kepo.
"Hem, aku lagi memikirkan alasan apa yang akan aku katakan ke Mama dan Papa jika nanti aku bercerai dari Sera," dalih Damar, padahal bukan itu yang membuat dia galau.
"Memangnya Oppa sudah memutuskan untuk pisah dari Sera? Apa tidak kecepatan? Kalian kan baru saja menikah."
"Aku tidak ada pilihan lain, Yun," keluh Damar.
"Apa ini karena kejadian waktu itu? Oppa ingin segera berpisah dari Sera karena tahu dia mantan kekasihnya Dafi?" tebak Yuni.
"Mungkin itu salah satunya, tapi alasan utamanya adalah karena Sera tidak mau lagi menjalani sandiwara ini, dan meminta cerai secepatnya. Begitu juga dengan Dafi, dia mengancam akan membeberkan semua ini ke Mama kalau aku tidak segera berpisah dari Sera," terang Damar dengan wajah sendu.
"Ya ampun, anak Oppa benar-benar keterlaluan! Mau dia itu apa, sih? Setelah dia mengkhianati dan menyakiti Sera, sekarang dia mau mengusik hidup Sera lagi. Belum puas apa dia membuat Sera menderita?" sungut Yuni kesal.
"Yuni!" tegur Damar.
"Eh, maaf-maaf, Oppa. Habis saya kesal dengan anak Oppa, apalagi waktu tadi dia berbohong pada Oppa tentang hubungannya dengan Sera, saya jadi emosi." Yuni mengomel.
Damar mengernyitkan keningnya, "Berbohong? Maksud kamu?"
"Tadi saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Oppa dengan dia saat di ruang makan, dan setahu saya hubungan Dafi dan Sera masih dalam batas wajar, mereka tidak pernah berbuat macam-macam."
"Kamu tahu dari mana, Yun?" Damar memastikan.
"Sera sendiri yang mengatakannya, saat saya bertanya sudah sejauh apa hubungan mereka. Dia bahkan berani bersumpah atas nama mendiang ibunya, jika mereka tidak pernah begituan," beber Yuni.
"Sejak kapan kamu tahu Dafi itu mantan kekasih Sera?" Damar bertanya dengan curiga.
Yuni terdiam sambil menelan ludah, dia mendadak takut kalau sampai Damar tahu bahwa dia sudah lama mengetahui hal itu.
"Sa-saya tahunya setelah pernikahan anda dan Sera. Waktu itu Sera bertanya nama anak Oppa, karena kata dia nama belakang Oppa dan mantannya sama. Saat itu saya tanya ada apa, dan Sera menceritakan semuanya."
"Jadi Sera juga baru tahu setelah kami menikah?"
Yuni mengangguk, "Iya, Oppa."
"Tapi kenapa ...."
"Maaf, Oppa! Saya permisi ke kamar mandi dulu, sudah kebelet dari tadi." Yuni buru-buru berlari meninggalkan Damar, sebelum majikannya itu bertanya macam-macam lagi.
Damar geleng-geleng kepala melihat tingkah asisten rumah tangganya itu. Hatinya masih merasa galau meskipun ada sedikit kelegaan karena ternyata Sera dan Dafi belum melakukan perbuatan terlarang seperti yang selama ini dia bayangkan, tapi dia sedikit kesal sebab sang putra sengaja ingin mengelabuinya.
Damar menghela napas kemudian beranjak masuk ke dalam rumah, namun apes, Lusi yang baru keluar kamar memergokinya.
"Mama?" gumam Damar dengan mata melotot.
"Damar? Sedang apa kamu di situ, Nak?"
Damar mendadak gugup, "Hem, aku ... anu, lagi cari udara segar."
"Tumben sekali? Biasanya jam segini kamu masih tidur."
"Iya, tadi aku terbangun lebih awal, Ma," kilah Damar, lalu mengalihkan pembicaraan, "Mama sendiri kenapa bangun jam segini?"
"Di Italia Mama memang selalu bangun jam segini, jadinya kebiasaan," jawab Lusi.
Damar terkesiap, dia langsung melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul empat lewat tiga puluh lima menit dan dia baru sadar bahwa ini hampir pagi.
"Astaga, pantas saja semua orang sudah mulai bangun. Aku pikir masih tengah malam," batin Damar, saking larut dalam kegalauannya, dia sampai lupa waktu.
Lusi menatap curiga, "Kamu kenapa seperti orang kaget gitu?"
Damar menggeleng, "Tidak apa-apa, Ma. Kalau begitu aku balik ke kamar dulu."
Damar bergegas pergi dari hadapan sang mama. Lusi hanya memandangi kepergian putranya itu dengan tatapan tak terbaca.
Dengan perlahan Damar membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar dan menutupnya kembali, dia melangkah mendekati ranjang, kemudian menatap wajah cantik Sera yang sedang tertidur pulas.
Hati Damar merasa sedih jika membayangkan harus mengakhiri semua ini dan berpisah dari Sera, dia sudah terbiasa berada di dekat Sera dan merasa nyaman bersama gadis itu, dia pasti akan sangat kehilangan. Inilah yang Damar takutkan jika dia jatuh cinta dan menjalin hubungan lagi, dia tak ingin merasakan sakit dan kehilangan untuk kedua kalinya, makanya selama ini dia memilih untuk menutup hatinya. Namun ternyata Sera mampu menembus benteng pertahanan yang dia bangun dengan kokoh dan menghadirkan cinta yang tak pernah dia sangka, membuat hatinya bahagia sekaligus sedih dalam satu waktu.
"Aku mencintaimu. Aku hanya berharap kamu bahagia selalu meskipun aku akan menangisinya," batin Damar sedih.
Dia mengalah, merelakan cintanya pergi begitu saja tanpa berusaha memperjuangkannya. Dia sadar jika bukan dirinya kebahagiaan untuk Sera, berharap baik Dafi atau siapa pun nanti lelaki yang menjadi jodoh Sera, akan mencintai dan menjaga gadis itu dengan sepenuh hati.
***