
Di ruang keluarga, Lusi sedang menghubungi suaminya, dia terlihat sangat bahagia.
"Iya, Pa. Mama senang sekali karena akhirnya Damar mau menikah lagi, rasanya tidak sabar menunggu saat bahagia itu," ujar Lusi girang, hatinya berbunga-bunga, dia bahkan tak menyadari jika Sera kini sudah berdiri di belakangnya.
"Tante."
Lusi sontak menoleh ke belakang saat mendengar Sera memanggilnya.
Damar merasa takut sekaligus pasrah jika Sera akan membongkar kebohongan ini.
"Sudah dulu, ya, Pa. Nanti Mama telepon lagi." Lusi buru-buru mengakhiri pembicaraannya dengan sang suami, kemudian berjalan mendekati Sera.
"Papanya Damar sangat senang mendengar kabar baik ini, dia akan segera ke sini," beber Lusi senang meskipun Sera tak bertanya.
Sera terdiam, entah mengapa mendadak nyalinya menciut. Melihat Lusi begitu senang, dia jadi takut untuk mengatakan yang sebenarnya, dia tak tega jika harus mengecewakan wanita itu dan menghancurkan rasa bahagianya.
Sera pun akhirnya memaksakan senyuman, "Kalau begitu aku permisi dulu, Tante."
Damar tertegun, dia heran sebab Sera tak jadi membongkar kebohongan mereka.
"Loh, kenapa buru-buru sekali?" tanya Lusi.
"Aku masih ada janji dengan teman, Tante," dalih Sera, dia sebisa mungkin menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Oh, ya sudah. Kamu diantar Damar, kan?"
Sera mengangguk, "Iya, Tante."
Lusi tiba-tiba memeluk Sera, membuat gadis itu terkesiap.
"Terima kasih, ya, Sera. Tante bahagia sekali karena kamu mau menikah dengan Damar."
Sera tak lagi mampu menahan air matanya, dia pun akhirnya menangis.
Lusi melepaskan pelukannya dan mengernyit, "Kamu kenapa menangis?"
Damar yang mendengarnya semakin merasa bersalah, dia hanya bisa menatap iba gadis itu tanpa tahu harus berbuat apa?
"A-aku hanya terharu, Tante," kilah Sera sembari menyeka air matanya.
Lusi pun mengusap jejak-jejak air mata di pipi Sera, "Ya ampun, hatimu sangat lembut, kamu sampai menangis begini karena terharu?"
"Maaf, Tante."
"Tidak apa-apa, sayang." Lusi mengusap pipi Sera sembari tersenyum, "ya sudah, kalau kamu masih ada janji, pergilah. Nanti telat."
"Iya, Tante. Aku permisi, selamat sore."
"Selamat sore, sayang," balas Lusi.
"Aku antar Sera dulu, Ma," Damar akhirnya bersuara.
"Iya, sayang. Hati-hati, ya."
Keduanya pun meninggalkan rumah mewah itu dengan perasaan campur aduk.
***
Baru beberapa meter meninggalkan rumahnya, Damar menepikan mobilnya dan berhenti. Dia masih penasaran, apa alasan Sera tidak jadi membeberkan sandiwara mereka kepada Lusi?
Sera yang bingung sontak menatap Damar.
"Kenapa kamu tidak jadi membongkar kebohongan ini pada Mama?" tanya Damar penasaran.
"Om tidak dengar? Mama dan Papa Om begitu bahagia, mereka pasti sangat terluka dan kecewa kalau tahu yang sebenarnya. Aku tidak tega menghancurkan kebahagiaan mereka, Om," jawab Sera dengan berlinang air mata.
Damar begitu terenyuh mendengar alasan Sera, dia tak menyangka gadis itu sangat peduli dengan dengan perasaan mamanya.
Sera kembali terisak-isak, "Tapi aku tetap tidak ingin menikah, Om."
"Kamu tenang saja! Kita tidak akan menikah, kok," balas Damar.
"Benar, Om?" Sera memastikan.
"Iya, Om akan cari cara untuk membatalkan niat Mama ini. Sekarang kamu jangan menangis lagi, ya!"
Sera mengangguk dan mengusap air matanya.
Setelah Sera terlihat lebih tenang, Damar pun segera menyalakan mesin mobilnya dan melanjutkan perjalanan mereka.
Selama perjalanan, keduanya hanya diam membisu, tak ada pembicaraan sama sekali. Damar yang sedang fokus mengemudi, sesekali melirik ke arah Sera, gadis itu hanya memandang nanar keluar jendela mobil, sesekali air matanya jatuh menetes, namun buru-buru dia usap. Melihat itu, Damar semakin merasa bersalah.
Tapi ponselnya tiba-tiba berdering , Damar segera menjawab panggilan masuk yang ternyata dari Riko itu.
"Halo," sapa Damar ketus.
"Halo, Pak. Bagaimana, apakah rencananya berhasil?"
"Kacau! Lagi-lagi karena ide gila mu, aku dan Sera jadi terlibat masalah. Semuanya jadi semakin rumit!" Damar bicara dengan nada suara yang tinggi, Sera hanya menyimak.
"Maksud anda, Pak?"
"Nanti aku ceritakan, sekarang kamu datang ke hotel Prima Abadi yang di dekat rumahku, aku tunggu di kamar 132!" pinta Damar yang langsung mengakhiri pembicaraannya dengan Riko, tanpa sempat bawahannya itu menyahut.
"Dia harus bertanggung jawab! Gara-gara ide gila nya itu, kita jadi terjebak begini," gerutu Damar.
"Apa Om akan memarahi Mas Riko?"
"Tentu saja, ini semua salahnya."
"Tapi ini bukan salah Mas Riko saja, Om juga salah! Kenapa Om mau menyetujui ide Mas Riko padahal Om tahu idenya itu tidak baik! Kalau Om menolak, kita tidak akan terkena masalah seperti ini."
"Om tidak ada pilihan lain, Sera!" dalih Damar, lalu balik menyalahkan Sera, "lagian kamu sendiri kenapa setuju? Kalau kamu menolak, pasti Om tidak akan menjalankan ide gila Riko itu."
Sera langsung menatap Damar dengan mata melotot, "Loh, kenapa Om jadi menyalahkan aku?"
"Kamu juga menyalahkan Om!" balas Damar tak mau kalah.
Wajah Sera berubah masam, "Om nyebelin!"
Sera memalingkan wajahnya yang cemberut, dia kembali memandang keluar jendela, kali ini dengan perasaan yang kesal.
Melihat Sera merajuk, Damar merasa tidak enak.
"Sera, jangan ngambek, dong!" bujuk Damar.
"Habis Om bikin kesal!" Sera berbicara tanpa mengubah posisinya sama sekali, mereka terlihat seperti pasangan kekasih yang sedang bertengkar di dalam mobil.
Damar menghela napas, "Iya, deh. Om salah, maafin Om, ya?"
Sera hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Damar, duda tampan itu pun tersenyum sambil mengelus kepala Sera.
Tak berapa lama mobil Damar pun tiba di hotel, keduanya bergegas turun dan berjalan masuk beriringan. Kebetulan Marcell yang merupakan housekeeping di hotel itu melihat mereka dari kejauhan.
"Bukannya itu Sera? Dengan siapa dia?" Marcell bertanya-tanya dengan kebingungan.
Marcell ingin mengejar Sera dan Damar, tapi keduanya keburu masuk ke dalam lift dan pintu lift pun tertutup.
"Mau ngapain Sera ke hotel?Bersama seorang lelaki pula, apa jangan-jangan ...." Marcell mulai menerka-nerka dan curiga.
***