
Riko sedang berdiri di depan ruang ICU, dia memandangi Damar yang terbaring lemah dari balik kaca penyekat ruangan. Riko merasa sedih dan cemas, dia takut sesuatu yang buruk terjadi pada atasannya itu. Tak lama kemudian Dafi dan Sera pun datang, dan langsung menghampirinya.
"Mas Riko!" tegur Dafi.
Riko sontak berbalik menatap dua orang itu, "Kalian sudah kembali? Bagaimana dengan Nyonya Lusi?"
"Oma sudah lebih tenang setelah bicara dengan Opa," sahut Dafi.
Riko mengembuskan napas lega, "Syukurlah."
Sera pun melangkah mendekati kaca penyekat ruangan, dia memandangi Damar dengan perasaan hancur dan pilu.
"Om Damar," ucap Sera lirih, air matanya kembali jatuh menetes.
Dafi pun ikut memandang ke dalam ruang ICU, hatinya bergetar dan terenyuh begitu melihat sang ayah tergolek tak berdaya dengan alat-alat medis di tubuhnya. Hatinya kian merasa bersalah dan menyesal, kenapa dia harus mengetahui semuanya di saat sang ayah di antara hidup dan mati seperti ini? Bagaimana kalau Tuhan tidak memberinya kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya?
Untuk pertama kalinya Dafi merasa takut kehilangan sang ayah, dia sebisa mungkin menahan air mata yang terus saja mendesak ingin keluar.
"Kata dokter kita harus banyak-banyak berdoa, semoga dia bisa melewati masa kritisnya. Atau kita akan kehilangan dia untuk selamanya." Riko berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.
Hati Dafi dan Sera semakin takut. Sera bahkan tertunduk dan menangis sesenggukan, dia tak sanggup membayangkan jika Damar sampai meninggalkan dunia.
"Sera." Dafi menyentuh pundak mantannya itu.
"Aku tidak mau Om Damar pergi, aku tidak mau, Daf!" Sera kian terisak-isak.
"Papa pasti bertahan, Papa pasti sembuh. Percayalah!" balas Dafi, dia berusaha meyakinkan Sera agar gadis itu tenang, walaupun dia sendiri tidak yakin dengan apa yang dia ucapkan.
"Aku takut, Daf!"
"Jangan takut! Semua akan baik-baik saja." Dafi mendekap tubuh Sera, dan gadis itu kembali terisak di dalam pelukannya. Tanpa keduanya sadari, hubungan mereka kembali membaik.
Riko hanya memperhatikan dua insan itu dengan hati yang sedih dan penuh haru.
Dafi melepaskan dekapannya, dan mengusap jejak-jejak air mata di pipi Sera, "Jangan menangis lagi! Papa pasti tidak ingin kamu bersedih seperti ini."
Sera menurut, dia tak lagi terisak-isak seperti tadi meskipun air matanya sesekali masih jatuh menetes, namun buru-buru dia seka.
Dafi lantas beralih menatap Riko yang masih memerhatikan mereka, "Mas, aku bawa sesuatu yang mungkin bisa menjadi barang bukti untuk mengungkap dalang dari kejadian ini."
Sera dan Riko mengernyit heran.
"Apa itu?" tanya Riko.
Dafi mengeluarkan ponsel Anggi dari dalam saku celananya, lalu menyerahkannya ke Riko, "Ini ponsel Mama, di dalamnya ada pesan yang berisi ancaman dari suaminya itu."
"Bagus, ini bisa menjadi bukti baru. Besok aku akan serahkan ponsel ini ke polisi," ujar Riko.
"Iya, Mas. Sandi ponselnya 220202."
Riko mengangguk, "Baiklah."
Dafi berharap dengan bukti ini polisi bisa menangkap Datuk Dahlan dan menyelamatkan Anggi, karena saat ini dia juga sangat mencemaskan mamanya itu. Dia takut Datuk Dahlan menyakiti sang mama lagi.
***
Sera dan Dafi masih setia menunggu di depan ruang ICU, sementara Riko sudah pulang. Keduanya hanya diam membisu, tak ada pembicaraan antara mereka. Sera beberapa kali menguap, gadis itu sudah mulai mengantuk sebab sekarang sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dafi yang duduk tak jauh dari Sera rupanya memerhatikan gadis itu yang terlihat lelah dan lesu.
"Kalau kamu mengantuk, tidur saja!" ujar Dafi.
Sera menggeleng tanpa memandang Dafi, "Tidak usah, aku bisa menahannya, kok."
"Ra, jangan dipaksakan! Nanti kamu bisa ikutan sakit."
"Kau tidak usah cemas!" bantah Sera.
Dafi menghela napas dan berhenti membujuk gadis keras kepala itu.
Keduanya kembali bergeming, tak berniat untuk bicara satu sama lain. Lamat-lamat rasa kantuk juga mulai menghinggapi Dafi, dia menguap, matanya terasa perih dan berair. Akhirnya dalam sekejap, dia pun tertidur dengan posisi duduk.
Sera menoleh ke arah Dafi saat menyadari lelaki itu sudah tertidur, dia lantas bangkit dan berjalan mendekati mantannya itu. Sera menatap Dafi dengan mata berkaca-kaca, lalu beralih memandang Damar dari kaca penyekat ruangan.
Diam-diam Sera masuk ke ruang ICU, dia melangkah perlahan menuju ranjang Damar yang masih terbaring lemah, air matanya seketika jatuh berderai.
"Om, aku di sini," ucap Sera pilu.
Dia memerhatikan wajah tampan Damar yang kini pucat, dengan selang ventilator yang masuk ke dalam mulutnya. Sungguh Sera merasa perih, dia tak kuasa menahan gejolak kesedihan di dalam dadanya.
Sera menggenggam tangan Damar, kulit putih pucat lelaki itu terasa dingin, "Om, bangun! Aku mohon, Om!"
"Semua orang sedang menunggu Om bangun, semua orang mencemaskan Om. Ayo bangun, Om!" Sera berbicara sambil terisak-isak, bahunya sampai berguncang keras.
Tak ada respon sama sekali, Damar tetap diam seperti sebelumnya, meskipun Sera meratap dan menangis sambil terus menggenggam erat tangannya.
Di luar ruangan, Dafi tersentak bangun dari tidurnya, dia sontak panik saat menyadari Sera tidak ada.
"Ke mana Sera?"
Dafi beranjak dan hendak mencari Sera, tapi pandangannya tak sengaja tertuju ke dalam ruang ICU. Dari balik kaca penyekat ruangan dia bisa melihat Sera sedang menggenggam tangan sang ayah sambil menangis terisak-isak, hatinya seketika merasa pilu dan cemburu.
Dia semakin mendekat ke kaca dan terus memandangi dua insan di dalam sana, sekarang dia menyadari jika sebenarnya Sera juga memiliki perasaan tak biasa kepada sang ayah. Hati Dafi seketika hancur.
Selama ini dia berpikir bisa kembali lagi kepada Sera dengan cara memisahkan gadis itu dari sang ayah, tapi nyatanya dia salah. Sera sepertinya tak lagi mencintainya, dia hanya masa lalu yang buruk untuk gadis itu.
Dafi memalingkan wajahnya dan beranjak pergi, dia memilih untuk tidak melihatnya daripada harus merasakan perih.
***