
Riko sudah tiba di kamar hotel dan Damar langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa jadi begini, ya?" tanya Riko.
"Ini berkat ide brilian mu itu," sindir Damar sinis.
"Iya, saya pikir kan begitu anda mengatakan akan menikah, mama anda akan membatalkan perjodohan dengan Sarah lalu kembali ke Italia, setelah itu anda bisa memberikan alasan kalian putus. Saya tidak menyangka mama anda malah meminta anda menikah dengan Sera secepatnya," kilah Riko membela diri.
"Makanya lain kali kalau kasih ide itu dipikirkan dulu matang-matang, jangan asal nyeletuk saja!" gerutu Damar.
"Lah, anda kenapa tidak memikirkannya matang-matang dulu? Kenapa main setuju saja?" balas Riko tak mau kalah.
Damar sontak melotot ke arah Riko, "Berani sama atasan?"
"Sudah-sudah! Kenapa kalian jadi saling menyalahkan, sih?" Sera menengahi, dia tak habis pikir melihat tingkah dua lelaki itu.
"Sebaiknya sekarang kita pikirkan solusinya! Aku tidak mungkin membiarkan mama Om Damar menemui kerabat ku, aku tidak mau menikah!" lanjut Sera.
Kedua lelaki itu bergeming dan berusaha memikirkan sesuatu, namun tiba-tiba Riko mendapatkan ide lagi.
"Saya ada ide!" seru Riko.
"Cukup! Aku tidak mau dengar ide mu lagi, bisa-bisa masalah jadi semakin besar," tolak Damar kesal.
"Ya sudah kalau anda tidak mau, saya juga tidak memaksa." Riko melengos.
Sera hanya menghela napas sembari geleng-geleng kepala melihat dua orang itu.
"Jadi sekarang bagaimana?" tanya Sera.
"Entahlah, Om juga bingung," sahut Damar.
Satu jam kemudian, semuanya masih bergeming, tak ada satu pun ide yang mampir di kepala Damar maupun Sera.
Damar meremas kuat rambutnya, "Aku benar-benar pusing memikirkan semua ini!"
"Iya, aku juga!" sambung Sera.
Riko yang sedang bermain ponsel hanya diam membisu, dia tak mau memberikan saran apapun lagi karena Damar melarangnya.
Sera lalu menatap Riko, "Mas Riko, tadi katanya ada ide?"
Riko mengalihkan pandangannya ke Sera, "Iya, tapi Pak Damar tidak mau dengar. Jadi saya buang saja ide nya."
Damar seketika melirik sinis ke arah bawahannya itu.
"Yaaa, Mas Riko ngambek?" ledek Sera.
Riko menggeleng, "Tidak, siapa yang ngambek."
"Ya sudah, kalau begitu katakan apa ide nya! Aku mau dengar," desak Sera.
"Sera, kamu masih belum jera memakai ide dia?" sindir Damar.
"Siapa tahu kali ini ide nya Mas Riko bisa menyelamatkan kita, Om. Dengarkan saja dulu," pinta Sera.
"Ya sudah, katakan apa ide mu!" pinta Damar akhirnya.
"Ah, tapi nanti saya disalahkan lagi kalau terjadi sesuatu."
Damar hanya bisa mengembuskan napas pasrah.
"Baiklah. Bagaimana kalau kalian pura-pura menikah saja!" cetus Riko.
"Aku tidak mau!" bantah Damar cepat, "hal itu pasti akan membuat masalah baru!"
"Iya, Mas. Om Damar benar," Sera menimpali.
"Iya, memang pasti akan menimbulkan masalah baru kalau ketahuan, makanya diusahakan jangan sampai ketahuan," ujar Riko enteng.
Sera mengernyit, "Tapi bagaimana agar tidak ketahuan? Kami tidak mungkin selama bersandiwara menjadi suami istri, kan?"
"Betul itu! Cepat atau lambat, semuanya pasti terbongkar. Lagian kami punya hidup masing-masing, mana mungkin terus terikat dalam pernikahan palsu itu." Damar ikut protes.
"Tidak ada cara lain, Pak. Kalau kalian pura-pura menikah, masalah ini selesai. Mama anda pasti akan kembali ke Italia dan tidak akan sibuk mengurusi hidup anda lagi. Anda dan Sera juga bisa tinggal serumah lagi tanpa takut gosip macam-macam, kalian juga bisa menjalani hari-hari kalian seperti sebelumnya."
"Tapi sampai kapan kami terus berpura-pura, Ko?" tanya Damar.
"Terserah kalian mau sampai kapan melakoninya," jawab Riko.
"Lalu bagaimana kami mengakhirinya?" Sera bertanya dengan wajah bingung.
"Kalian bisa katakan jika kalian bertengkar lalu memutuskan untuk bercerai, lagian ini kan hanya bohongan, jadi pernikahan kalian tidak terdaftar di KUA dan kalian bisa berpisah kapan saja."
"Tapi Mama dan Papa pasti sedih," sambung Damar cemas.
"Sudah pasti itu, Pak. Tapi setidaknya itu lebih baik daripada kalian ketahuan bersandiwara atau lebih buruk lagi, anda dipaksa menikah sungguhan dengan Sarah," imbuh Riko.
Damar terdiam, apa yang dikatakan Riko ada benarnya juga walaupun dia masih merasa ragu dengan ide bawahannya itu.
"Mas Riko benar juga, kalau begitu aku setuju dengan ide nya," ucap Sera tiba-tiba, membuat Damar terkejut.
Riko menatap Damat, "Gimana, Pak?"
Damar kembali mengembuskan napas pasrah, lalu mengangguk setuju. Riko dan Sera pun tersenyum lega.
"Tapi bagaimana dengan kerabat Sera, penghulu dan wali hakimnya?" cecar Damar, "kita tidak mungkin mengajak mereka bersekongkol dalam sandiwara ini, kan?"
"Anda tenang saja, Pak. Saya juga sudah memikirkan hal itu, saya akan meminta tolong pada teman saya. Dia itu memiliki sanggar seni teater dan pasti banyak aktor yang bisa berakting. Nanti kita bisa sewa mereka untuk membantu kita. Jadi semuanya bohongan," terang Riko.
"Kamu memang benar-benar licik, Ko. Paling jago merancang kebohongan, walaupun ujung-ujungnya buat masalah baru," ledek Damar.
"Saya anggap itu pujian, Pak," sahut Riko lalu tertawa.
"Dasar gila!" umpat Damar sembari melempar Riko dengan bantal sofa.
Wajah Sera berubah sedih, "Tapi aku kasihan dengan mama dan papanya Om Damar, aku juga takut kualat karena membohongi orang tua."
"Tidak ada cara lain, Sera. Kecuali kalian bersedia menikah sungguhan atau mengakui sandiwara ini dengan resiko Pak Damar harus menikah dengan Sarah," ujar Riko.
"Sudah, kita lakukan saja cara ini. Cepat hubungi temanmu itu sebelum terlambat!" pungkas Damar, tentu cara ini yang dia pilih daripada harus ketahuan berbohong atau menikah sungguhan.
Riko pun bergegas menghubungi Ferdi, yang tak lain adalah temannya tersebut.
***