My Husband, My Ex'S Father.

My Husband, My Ex'S Father.
Episode 19.



Damar memasuki rumah dengan langkah yang gontai, dia masih menimbang-nimbang ide gila Riko tadi, hatinya menjadi galau dan dilema. Apalagi saat melihat Sera yang sedang menonton televisi, jantung Damar langsung berdebar.


"Eh, Om sudah pulang rupanya," tegur Sera saat melihat kehadiran Damar.


Damar tersenyum dengan wajah tegang dan keruh, "Iya, baru saja."


Rupanya Sera menyadari wajah Damar yang terlihat murung itu, "Om pasti lelah, mau aku buatkan sesuatu?"


"Tidak usah!" tolak Damar, dia pun melangkah mendekati Sera dan duduk di samping gadis itu, "Sera, ada yang ingin Om bicarakan dengan kamu."


Sera mengernyit, "Bicara tentang apa, Om? Pasti hal serius, ya? Soalnya wajah Om kelihatan tegang begitu."


"Iya, Om mau minta tolong sesuatu sama kamu."


"Minta tolong apa, Om?" Sera semakin bingung.


Damar mendadak gugup, dia benar-benar bingung memilih kata-kata yang tepat. Dia takut Sera berpikir yang tidak-tidak.


"Hem, Mama Om ingin menjodohkan Om dengan seorang wanita, Om sudah menolak tapi Mama Om tetap memaksa dan malam ini Om harus menemui wanita itu." terang Damar.


"Jadi Om mau minta tolong apa padaku?"


Damar menelan ludah sebelum bicara, "Om mau minta tolong kamu ...."


Damar menjeda kata-katanya, dia benar-benar gugup dan ragu untuk menyampaikan maksudnya. Sera menunggu dengan penasaran, apa yang sebenarnya ingin di sampaikan lelaki itu.


"Kamu pura-pura jadi kekasih Om," lanjut Damar kemudian.


Sera tercengang, dia tak menyangka Damar akan meminta hal itu.


Melihat Sera terdiam menatapnya, Damar menjadi cemas.


"Jadi maksudnya, kita pura-pura pacaran supaya Om tidak jadi dijodohkan dengan wanita itu?" Sera memastikan.


Damar mengangguk dengan cepat, wajahnya semakin tegang.


Tawa Sera tiba-tiba pecah, dia terbahak-bahak. Damar kebingungan melihat reaksi gadis itu.


"Kenapa kamu tertawa? Memangnya ada yang lucu apa?"


"Iyalah, masa aku punya kekasih om-om, sih?" ucap Sera disela-sela tawanya.


"Ini kan hanya pura-pura, Sera. Kalau betulan, Om juga tidak mau punya kekasih bocil seperti ini," balas Damar tak mau kalah.


"Tapi apa nanti tidak jadi masalah kalau ketahuan, Om?" tanya Sera sedikit khawatir.


"Ya jangan sampai ketahuan, dong!"


"Terus kalau nanti wanita itu lapor ke mamanya Om gimana?"


"Masalah itu biar Om yang urus, sekarang kamu mau tidak bantu Om?"


Sera tampak berpikir, sebenarnya dia ingin menolak, tapi merasa tidak enak. Bagaimana pun juga Damar sudah terlalu banyak membantunya, mungkin ini cara dia membalas kebaikan lelaki itu.


"Iya, deh."


Damar menghela napas lega, ternyata Sera tidak menolak ataupun marah seperti yang dia bayangkan. Gadis itu bahkan terlihat tak mempermasalahkannya.


"Jadi nanti aku ngapain, Om? Jangan disuruh yang aneh-aneh, ya!"


"Tidak, kamu tenang saja! Kamu cuma perlu ikut Om makan malam bersama wanita itu, dan bersikap sewajarnya orang pacaran. Terus kalau dia bertanya, kamu jawab seperlunya saja."


"Ok, Om." Sera mengacungkan jempolnya.


"Tapi tunggu, masa kamu panggil Om sama pacar sendiri?" protes Damar.


Sera kembali tertawa, "Iya, aku lupa. Jadi aku harus panggil apa, dong?"


"Mas, Abang, Akang atau Ayang juga boleh," cetus Damar dengan nada seloroh.


Sera memandang lekat lekat wajah Damar, membuat lelaki itu bingung dan gugup.


"Kenapa kamu lihatnya begitu?"


"Aku lagi perhatiin wajah Om, kira-kira cocoknya dipanggil apa, ya? Biar enak didengar."


Damar geleng-geleng kepala mendengar jawaban Sera itu.


"Nah, kayaknya aku panggil honey saja, deh!" seru Sera bercanda.


"Madu, dong?" kelakar Damar.


Sera pun kembali tertawa.


"Ok, Mas, eh .... Om." Sera terkekeh sambil menutup mulutnya, dia merasa geli sendiri.


"Kamu ngeledek, Om, ya?" Damar melotot pura-pura marah.


Sera menggeleng, "Tidak, kok! Om kepedean banget, deh."


"Kamu ini!" Damar menggelitik pinggang Sera, gadis itu menggelinjang kegelian.


"Ampun, Om! Ampun!" teriak Sera heboh.


Yuni yang baru selesai mandi terkesiap melihat kedua orang itu.


Damar pun berhenti menggelitik Sera, "Sudah, sekarang kamu dandan secantik mungkin!"


"Sekarang, Om?"


"Iya, sekarang," sahut Damar, lalu menatap Yuni yang terpaku memandang mereka, "Yun, bantu Sera dandan yang cantik, sekalian pinjamkan baju dan sepatu kamu, ya?"


"Memangnya Sera mau ke mana, Oppa?" Yuni bertanya dengan raut wajah bingung.


"Aku mau ajak dia makan malam," jawab Damar.


"Saya tidak diajak juga?" Yuni menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu jaga rumah saja!"


Wajah Yuni sontak masam.


"Sudah buruan sana!" titah Damar.


Sera pun beranjak dari duduknya dan bergegas pergi bersama Yuni, begitu juga dengan Damar, dia segera ke kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian.


***


Di dalam kamarnya, Yuni mendadani Sera. Dia memoles wajah gadis itu dengan make up yang lebih tebal dari sebelumnya, membuat Sera terlihat lebih dewasa dari umurnya.


"Kok tumben Oppa mengajak kamu makan malam?" tanya Yuni penasaran.


"Ini bukan makan malam biasa, Eonni."


Yuni menautkan kedua alisnya, "Maksudnya?"


Sera pun menceritakan semuanya pada Yuni, wanita berumur tiga puluh tahun itu terkejut dengan permintaan Damar.


"Kamu setuju?"


"Iya, kan hanya pura-pura, anggap saja aku menolong Om Damar."


"Tapi gimana kalau seandainya wanita itu mengadu ke Nyonya Lusi, apa kamu tidak takut jadi masalah kalau beliau sampai tahu kebohongan kalian ini?"


Sera terdiam, dia tahu Lusi itu adalah mamanya Damar, dan dia percaya lelaki itu akan melindunginya kalau sampai semua kebohongan ini terbongkar.


"Takut, sih. Tapi aku yakin Om Damar tidak akan tinggal diam, dia pasti menyelamatkan aku, soalnya kan aku melakukan semua ini untuk membantunya."


"Iya juga. Ya sudah, aku doakan semoga kalian berhasil dan tidak ada masalah," ujar Yuni.


"Aamiin."


Setelah selesai didandani, Sera pun mengenakan gaun selutut berwarna merah hati yang dia pinjam dari Yuni, rambut panjangnya dia biarkan tergerai indah.


"Perfect!" seru Yuni takjub, "Kamu cantik banget!"


"Kamsahamnida." Sera mengucapkan terima kasih dalam bahasa Korea, Yuni pun tertawa.


"Sekarang pakai ini." Yuni meletakkan sepasang sendal cantik di depan kaki Sera.


Gadis cantik itu pun memakainya, karena Sera baru sembuh dari patah tulang kaki, jadi dia belum boleh menggunakan heels yang tinggi.


"Sekarang cepat keluar, Oppa pasti sudah menunggu." Yuni mendorong pelan pundak Sera untuk keluar dari kamarnya.


Benar saja, Damar sudah menunggu di ruang tamu, dan dia sangat terpukau begitu melihat Sera.


"Dia cantik sekali," ucap Damar dalam hati. Saking terpesonanya, dia seolah lupa cara untuk berkedip.


"Yuk, Om!" ajak Sera, membuat Damar tersentak.


"Eh, iya. Yuk berangkat!"


***