
Seminggu kemudian, Sera sudah diperbolehkan keluar dari rumah sakit, keadaan gadis itu mulai membaik secara fisik maupun mental, tinggal pemulihan saja.
Setelah memikirkan dan menimbang matang-mata, Damar memutuskan membawa Sera pulang ke rumahnya. Bukan tanpa alasan, dia tahu Sera masih butuh perawatan dan tidak bisa melakukan apa pun seorang diri, jadi mana mungkin dia membiarkan gadis itu tinggal sendirian di tempat lain.
Lagipula selama seminggu ini, dia melihat Sera dan Yuni semakin akrab, gadis malang itu tampak ceria karena kehadiran Yuni. Damar berpikir ini baik untuk pemulihan psikis Sera agar dia tidak sedih lagi, karena kalau boleh jujur, Damar merasa kasihan pada gadis itu.
"Anda yakin mau membawa gadis itu tinggal di rumah anda, Pak?" Riko memastikan lagi, dia merasa kurang setuju dengan keputusan atasannya itu.
"Yakin, memangnya kenapa? Ada masalah?"
"Tapi apa anda tidak takut jadi buah bibir jika orang lain tahu anda membawa seorang wanita tinggal bersama?"
Damar tertawa, "Ya ampun, Ko! Dia masih kecil, seusia anakku. Nanti aku bisa bilang kalau dia itu keponakan ku."
"Iya, tapi kan tetap saja dia seorang wanita dan kalian tidak ada hubungan darah, saya khawatir saja."
Damar sontak menepuk pundak bawahannya itu, "Kamu pasti berpikiran macam-macam, kamu takut aku tidak tahan dan menyentuhnya? Iya, kan?"
Riko meringis, "Saya cuma takut jadi masalah saja, Pak."
"Jangan khawatir, aku tidak doyan bocil seperti dia. Lagipula kami tidak hanya tinggal berdua, di rumah juga ada Yuni dan Bobi. Jadi kamu tenang saja!"
"Biar pun bocil, tapi dia cantik, Pak. Badannya juga bagus," puji Riko.
Damar sontak melotot, "Hei, ternyata kamu memperhatikan dia?"
Riko menggeleng cepat, "Eh, tidak, Pak."
Damar menatap curiga pada Riko, "Jangan-jangan kamu suka dengan dia, ya? Ayo, ngaku!"
"Tidak! Saya juga tidak doyan bocil," bantah Riko.
"He, kalian cuma beda lima tahun. Kamu ini sok tua banget!" gerutu Damar.
"Iya, tapi saya suka yang sudah matang, Pak."
Damar tertawa. "Memangnya mangga apa!"
Riko pun ikut tertawa. Begitu lah interaksi Damar dan Riko, meskipun mereka atasan dengan bawahan, tapi hubungan mereka selayaknya sahabat. Saling membantu dan mengingatkan satu sama lain, Riko juga sangat menghargai Damar yang sudah banyak menolong keluarganya.
Bukan hanya pada Riko, Damar juga memperlakukan bawahannya yang lain seperti seorang teman, termasuk dengan Yuni dan Bobi. Namun sikap hangat dan segala kebaikan Damar tak berlaku pada putranya sendiri, hubungannya dengan sang putra tidak baik, meskipun mereka tidak putus kontak tapi tak ada interaksi layaknya ayah dan anak. Sang putra tidak peduli padanya, tapi Damar tetap memberikan nafkah dan membiayai segala kebutuhan anak semata wayangnya itu.
***
Damar menjemput Sera dan membawa gadis itu ke rumahnya, awalnya Sera menolak karena merasa tidak enak sebab takut merepotkan, tapi Damar meyakinkan gadis itu jika dia tidak pernah merasa repot dan ini merupakan bagian dari tanggung jawabnya.
Sera mengedarkan pandangannya ke setiap sudut rumah Damar sambil berdecak kagum, dia merasa takjub dengan rumah Damar yang besar dan mewah, "Wah, rumah Om besar banget, bagus lagi."
Damar hanya tersenyum menanggapi pujian Sera itu.
"Om cuma tinggal berdua dengan Eonni di rumah sebesar ini?" tanya Sera.
"Tidak, ada satpam juga. Kadang-kadang Mama Om juga datang dan menginap beberapa hari di sini."
"Oh." Sera mangut-mangut.
"Eh, ternyata sudah datang. Annyeong Haseyo!" sapa Yuni yang berjalan menghampiri mereka.
"Hai, Eonni." Sera melambaikan tangan ke arah Yuni sambil tersenyum.
"Yun, bawa Sera ke kamar tamu yang di lantai bawah dan urus semua keperluannya, ya!"
"Nde, Oppa! Lee Yun Ni akan melaksanakan tugas dengan baik, jangan khawatir!" sahut Yuni penuh semangat.
Damar tersenyum, "Baiklah, aku serahkan dia ke kamu, jangan diajarin yang aneh-aneh!"
Wajah Yuni berubah masam, "Memangnya selama ini saya aneh apa?"
"Sedikit."
"Ih, Oppa!" Yuni cemberut.
Sera tertawa melihat tingkah konyol Yuni itu, wanita bertubuh gempal itu selalu berhasil membuat orang lain terhibur.
"Ya sudah, aku tinggal dulu."
"Nde, Oppa," balas Yuni.
Sera mengangguk, "Iya, Om."
Damar pun bergegas pergi, meninggalkan Sera bersama Yuni.
"Sekarang aku antar kamu ke kamar." Yuni mendorong kursi roda yang Sera duduki menuju kamar tamu yang Damar maksud tadi.
Sera semakin merasa takjub melihat rumah Damar, barang-barangnya bagus-bagus dan pasti mahal.
"Andai saja aku punya rumah seperti ini, pasti ibu sangat senang," batin Sera, tapi seketika dia teringat dengan Mila.
Wajah Sera sontak berubah sendu, dia sangat merindukan ibunya itu. Sudah seminggu mereka tidak bertemu, entah bagaimana kabar sang ibu sekarang.
Yuni yang menyadari kesedihan Sera pun bertanya, "Kamu kenapa? Kok wajahnya sedih begitu?"
"Aku teringat Ibuku," jawab Sera, matanya mendadak panas dan dengan cepat digenangi cairan bening yang siap untuk jatuh.
"Kamu pasti merindukan ibumu?"
Sera mengangguk, air matanya pun akhirnya jatuh tak tertahankan.
"Apa kamu ingin menghubungi dia?"
"Tapi aku tidak punya ponsel," keluh Sera.
"Kamu bisa menggunakan ponselku, ini ambillah!" Yuni menyodorkan ponselnya ke hadapan Sera.
"Boleh, Eonni?" Sera memastikan.
"Boleh, dong! Pakailah dan hubungin ibumu, katakan jika kamu baik-baik saja agar dia tidak cemas."
"Terima kasih banyak, Eonni."
Yuni tersenyum. "Sama-sama."
Sera langsung menekan nomor telepon anak tetangga sebelah rumah orang tuanya yang bernama Mimi, untung saja dia hapal nomor gadis itu.
"Halo, Mimi. Ini aku, Seranita," ujar Sera saat panggilannya tersambung.
"Kak Sera? Apa kabar? Kakak ke mana saja? Kenapa tidak pernah kelihatan?"
"Aku baik-baik saja, Mi. Sekarang aku lagi berada di rumah orang baik."
"Kakak kenapa pergi?"
"Ceritanya panjang, Mi. Nanti aku ceritakan kalau kita bertemu," sahut Sera. "Aku hubungi kamu sebab ingin bicara dengan ibuku?"
"Tapi sekarang aku sedang berada di Solo, Kak. Di rumah Pamanku."
Sera merasa kecewa, "Aku kirain kamu di rumah."
"Nanti kalau aku sudah pulang, aku kabari kakak."
"Baiklah, Mi."
"Ini nomor kakak yang baru, ya?"
"Bukan, ini nomor teman aku. Kalau mau hubungi ke sini saja, soalnya ponselku tertinggal di rumah."
"Baik, Kak. Nanti begitu aku pulang, aku pasti langsung hubungi Kakak."
"Ya sudah, terima kasih, ya, Mi."
"Sama-sama, Kak."
Sera pun mematikan panggilan itu dan mengembalikan ponsel itu pada Yuni, "Ini ponselnya, terima kasih, Eonni."
Yuni mengangguk, lalu mengusap pundak Sera, "Kamu yang sabar, ya. Berdoa semoga Tuhan selalu melindungi ibumu."
"Iya, Eonni," jawab Sera, satu tetes cairan bening berhasil jatuh dari mata indahnya namun buru-buru dia hapus.
Yuni semakin merasa prihatin terhadap gadis itu.
***