
Damar sudah selesai mandi, dia duduk di tepi ranjang lalu memainkan ponselnya, dan hatinya mendadak galau saat melihat pesan dari Dafi. Putranya itu mengirimkan foto bersama Sera saat mereka masih pacaran dulu, di dalam foto itu terlihat Sera sedang mengecup pipi Dafi yang memegang kue ulang tahun.
Damar bisa melihat betapa bahagia dan romantisnya mereka, Sera bahkan terlihat sangat mencintai Dafi, membuat hati Damar diliputi rasa cemburu. Dia seketika penasaran, sudah sejauh mana hubungan mereka? Apa saja yang telah mereka lakukan selama tiga tahun pacaran? Pertanyaan-pertanyaan itu mulai berputar di kepalanya, dia membayangkan Sera dan Dafi bermesraan, membuat hatinya kian galau dan cemburu.
"Kenapa aku jadi memikirkan hal itu? Ayolah, Dirga. Lupakan!" Damar menepuk-nepuk pelan kepalanya.
Tak ingin larut dalam pikiran-pikiran kotornya, Damar pun bergegas menghubungi Riko. Baru saja tersambung, bawahannya itu langsung menjawab panggilan darinya.
"Halo, Pak."
"Halo, Ko. Aku mau minta tolong padamu."
"Minta tolong apa, Pak?"
Dirga terdiam sejenak sebab merasa ragu untuk bicara, tapi akhirnya dia berkata juga, "Tolong hubungi pengacara ku, dan minta dia mengurus perceraian ku dengan Sera!"
"Anda sudah yakin ingin bercerai sekarang?"
"Iya, aku sudah berjanji pada Sera dan Dafi akan segera mengakhiri pernikahan ini," sahut Damar dengan wajah sendu, sejujurnya dia merasa sedih dan berat mengambil keputusan ini. Tapi mau tak mau dia harus ikhlas menerimanya dengan lapang dada.
"Baiklah, Pak. Saya akan segera hubungi pengacara anda."
"Oh iya, Ko. Ada yang mau aku tanyakan."
"Iya, apa, Pak?"
"Hem, menurut kamu anak sekarang kalau pacaran sampai tiga tahun itu sudah ngapain saja?" tanya Damar sedikit canggung.
"Ya, mana saya tahu mereka ngapain saja, Pak. Tapi kalau sampai tiga tahun biasanya sudah serius itu, bisa jadi hubungan mereka sudah jauh."
Damar tercenung, dia teringat saat pacaran dengan Anggi dulu yang terbilang sudah di luar batas, mungkinkah Sera dan Dafi juga demikian?
"Kenapa, Pak? Apa anda penasaran seperti apa hubungan Sera dan putra anda? Saya sarankan anda membuktikannya langsung, biar tahu mereka sudah pernah begituan atau belum."
"He, kamu ini sembarangan saja kalau bicara! Dasar bawahan kurang ajar!" sungut Damar.
"Saya hanya bercanda, Pak. Maaf."
"Sudahlah, percuma bertanya pada kamu!"
Damar pun mengakhiri pembicaraannya dengan Riko, hatinya semakin galau dan campur aduk. Damar memejamkan mata dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia merasa terjebak di dalam sandiwara dan perasaannya sendiri, dia merasa serba salah dan bingung harus bagaimana menahan gejolak di dalam hatinya.
Sementara itu di dalam kamarnya, Damar sedang tersenyum penuh kemenangan saat tahu Damar sudah melihat foto yang dia kirimkan, dia memang sengaja melakukan itu untuk membuat sang ayah cemburu.
"Aku harap setelah melihat foto ini, Papa bisa sadar jika aku dan Sera saling mencintai," ucap Dafi sambil menyeringai.
***
Damar, Sera dan Lusi sudah berada di meja makan. Sejak tadi Damar terus saja curi-curi pandang ke Sera, dan Lusi menyadari hal itu.
Tak berapa lama Dafi pun turun seorang diri dan melangkah mendekati meja makan, tak terlihat Anggi ikut turun bersamanya.
"Mama kamu mana? Kenapa tidak ikut makan malam?" tanya Damar heran.
Dafi melirik Lusi yang pura-pura tak acuh, "Mama sedang tidak enak badan, jadi dia tidak berselera makan."
"Oh, ya sudah kalau begitu kamu makan, setelah itu minum obat," pinta Damar, meskipun canggung dan galau, dia berusaha bersikap biasa saja.
Dafi mengangguk lalu duduk di hadapan Sera dan Damar.
Mereka pun mulai menyantap makan malam dalam diam, hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang berbenturan, sampai suara Lusi akhirnya memecah keheningan.
Semua orang terkejut mendengar pertanyaan Lusi itu, bahkan Sera sampai tersedak dan batuk-batuk. Damar dengan sigap memberikan air minum pada Sera dan mengusap-usap punggung belakang sang istri, sedangkan Dafi hanya menatap sinis kedua insan di hadapannya itu dengan cemburu.
"Sudah?" Damar memastikan jika Sera sudah lebih baik.
"Sudah, Mas," jawab Sera sembari mengusap bibirnya yang basah.
"Kamu pelan-pelan dong makannya," ujar Lusi.
"I-iya, Ma," sahut Sera gugup.
"Jadi bagaimana?" tanya Lusi.
Damar mengerutkan keningnya, "Bagaimana apanya, Ma?"
"Rencana kehamilan Sera, dong! Kalian bisa menjalani program hamil dari sekarang, biar cepat dapat momongan."
Damar dan Sera seketika merasa canggung dan malu, sementara Dafi hanya bergeming sambil menggenggam kuat sendok dan garpu yang dia pegang demi menahan geram.
"Ma, kami kan baru menikah, Sera juga rencananya akan kuliah, jadi kami belum memikirkan hal itu," bantah Damar sambil melirik Dafi.
"Damar, kalian jangan menunda-nunda memiliki anak! Sera kan masih bisa kuliah meskipun hamil, lagipula umur kamu sudah tidak muda lagi, jangan kelamaan," kata Lusi lalu menatap Dafi, "iya, kan sayang? Kamu juga pasti menginginkan seorang adik bukan?"
Dafi terdiam dengan rahang yang mengeras, hatinya begitu panas mendengar ucapan sang nenek. Dia bukan menginginkan seorang adik, melainkan perceraian dari dua orang yang ada di hadapannya itu.
Begitu juga dengan Sera dan Damar, mereka merasa malu sekaligus sedih mendengar harapan Lusi. Mereka semakin merasa tidak tega jika harus melukai perasaan wanita itu dengan keputusan perceraian mereka.
"Ma, sudahlah, nanti saja kita bahas masalah ini. Sekarang kita makan dulu," Damar berusaha menghentikan pembicaraan menegangkan ini sebab dia sadar baik Sera maupun Dafi sudah tidak nyaman.
Lusi tak membalas ucapan Damar, dia hanya tersenyum samar lalu kembali menyantap makanan di hadapannya, akhirnya semua bergeming dengan pikiran masing-masing.
Setelah selesai makan, Lusi mengajak Sera ke kamar tamu, tinggallah Damar dan Dafi yang masih terpaku di meja makan.
"Aku harap Papa tidak lupa dengan janji Papa dan kesepakatan kita," ucap Dafi.
Wajah Damar berubah masam, "Iya, Papa tidak akan lupa, kamu tenang saja."
"Baguslah kalau begitu!" Dafi beranjak dan hendak pergi, tapi Damar menahannya.
"Tunggu! Ada yang ingin Papa tanyakan padamu."
"Apa?"
"Sudah sejauh mana hubungan kamu dan Sera?" Damar bertanya dengan jantung yang berdebar, dia takut jawaban Dafi akan menyakitkan.
Dafi sempat tertegun mendengar pertanyaan Damar, namun kemudian menjawab dengan ambigu, "Menurut Papa, anak zaman sekarang pacaran selama tiga tahun itu ngapain saja? Yang pasti tidak mungkin hanya pegangan tangan doang, kan?"
Dafi melanjutkan langkahnya sambil menyeringai, meninggalkan sang papa yang terdiam.
Hati Damar kian terasa nyeri, pikiran-pikiran kotor tentang Sera dan Dafi kembali mengusiknya.
Tanpa ayah dan anak itu ketahui, diam-diam Yuni menguping pembicaraan mereka dengan perasaan kesal.
Di dalam kamar tamu, Lusi mengajak Sera berkonsultasi dengan seorang temannya yang merupakan dokter spesialis kandungan melalu video call, dia menanyakan cara melakukan program hamil.
Hal itu membuat Sera kian canggung dan malu, wajah gadis itu bahkan sampai merona merah, apalagi saat si dokter menjelaskan step by step cara berhubungan intim yang baik untuk mempercepat kehamilan, rasanya dia ingin sekali kabur.
Lusi yang memperhatikan ekspresi Sera hanya tersenyum penuh arti.
***